Acara yang dikemas dalam format diskusi kebangsaan, rapat pleno, dan Misa
Syukur ini dihadiri oleh tokoh-tokoh lintas bidang: dari militer, legislatif,
hingga perwakilan gereja. Hadir di antaranya Mayjen TNI Jacob Djoko S., Johnny
G. Plate dari Fraksi Partai Nasdem, Adrianto Gani dari Kantor Staf Presiden, Dirjen
Bimas Katolik Eusabius Binsasi, serta RD. Rofinus Neto Wuli, Pasbanmil
Keuskupan TNI/POLRI sekaligus moderator Vox Point.
Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya melihat kehadiran Vox Point
Indonesia sebagai jawaban atas panggilan Konsili Vatikan II yang menegaskan
peran awam dalam membangun dunia berdasarkan nilai-nilai Injil. Gereja tidak
hanya hadir di altar, tetapi juga di ruang-ruang publik: parlemen, ruang
sidang, media, dan komunitas akar rumput.
Ketua Umum Vox Point Indonesia, Handoyo Budhisedjati, menegaskan bahwa
organisasi ini adalah wadah strategis bagi awam Katolik untuk bersuara dan
bertindak. “Vox Point Indonesia hadir untuk mengajak umat Katolik, termasuk
kaum muda, yang terpanggil untuk terlibat dan terjun dalam politik dan sosial kemasyarakatan,”
ujarnya. Harapannya sederhana namun mendalam: mencetak pemimpin-pemimpin
berintegritas yang membawa terang Kristus dalam dinamika kebangsaan.
Johnny G. Plate menambahkan bahwa keberadaan Vox Point harus diwujudkan
dalam langkah konkret. “Misalnya sebagai penyambung kader-kadernya untuk masuk
dalam partai politik,” katanya. Ini bukan sekadar wacana, tetapi strategi untuk
memastikan bahwa nilai-nilai Katolik tidak hanya menjadi doktrin, tetapi juga
menjadi kebijakan publik yang berpihak pada martabat manusia dan kesejahteraan
bersama.
Dalam homilinya, RD. Rofinus Neto Wuli—yang akrab disapa Romo Ronny—mengajak
seluruh peserta untuk bersyukur, bukan membusungkan dada. “Kita boleh berbeda
dalam aksi, tapi satu dalam Gereja Katolik,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa
spiritualitas politik bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang pelayanan.
Tentang menghadirkan kasih Allah dalam sistem yang sering kali kehilangan
nurani.
Vox Point Indonesia hadir bukan untuk menjadi partai politik, tetapi menjadi
jembatan antara iman dan kebangsaan. Dalam semangat “100% Katolik, 100%
Indonesia,” organisasi ini mengajak kita untuk merawat konsensus dasar bangsa:
Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ini adalah panggilan untuk
menjadi warga negara yang baik sekaligus murid Kristus yang setia.
Kini, di usia yang masih muda, Vox Point Indonesia telah menanam benih
harapan. Tugas kita adalah menyiraminya dengan doa, dukungan, dan keterlibatan
nyata. Karena Gereja yang hidup adalah Gereja yang bersuara. Dan suara itu, vox
populi, adalah juga vox Dei—suara umat yang menjadi gema suara
Allah di tengah dunia.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat
& Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
#voxpointindonesia
#kerasulanawam
#100persenkatolik100persenindonesia
#gerejadannegara
#spiritualitaspolitik
#ajaransosialgereja
#pemimpinberintegritas
#solidaritasumat
#kasihallahuntukbangsa
#gerejayangbersuara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin