Jumat, 02 Januari 2026

Lebanon; Jantung Gereja Timur yang Berdetak di Tengah Krisis

LEBANON — Ketika Paus Leo XIV memilih Turki dan Lebanon sebagai destinasi pertama dalam lawatan apostoliknya, banyak yang bertanya: Mengapa Lebanon? Di tengah krisis ekonomi, ketegangan politik, dan kerentanan sosial, Lebanon justru menjadi sorotan utama Takhta Suci. Sebagai seorang rasul awam yang terlibat dalam pelayanan hukum dan sosial, saya melihat bahwa Lebanon bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol keteguhan Gereja dalam menghadapi badai zaman.

Lebanon bukan negara biasa. Ia adalah rumah bagi salah satu komunitas Katolik tertua di dunia: Gereja Maronit. Berakar sejak abad ke-4, Gereja Maronit tetap setia kepada Paus Roma, menjadikan Lebanon sebagai satu-satunya negara Arab dengan presiden beragama Katolik. Di tengah mayoritas Muslim dan konflik sektarian yang berkepanjangan, umat Katolik di Lebanon tetap menjadi saksi iman yang hidup.

Lebanon juga menjadi tempat di mana dialog antaragama bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan hidup. Di sinilah Gereja Katolik memainkan peran penting dalam menjembatani perbedaan, membangun perdamaian, dan melayani semua tanpa memandang latar belakang.

Kunjungan Paus Leo XIV ke Turki menandai komitmen Gereja untuk membangun dialog dengan dunia Islam. Turki, sebagai negara Muslim sekuler yang menjadi jembatan antara Eropa dan Asia, adalah simbol keterbukaan dan tantangan.

Namun, Lebanon adalah cerita yang berbeda. Ia adalah simbol harapan. Di tengah kehancuran ekonomi dan eksodus umat Kristiani, Gereja tetap hidup. Paus Leo XIV menyapa umat Katolik Timur secara langsung, memperkuat persatuan dengan Takhta Suci, dan menegaskan bahwa Lebanon adalah "pesan harapan bagi seluruh dunia".

Sebagai rasul awam, saya melihat bahwa Lebanon adalah cermin dari panggilan kita: menjadi terang di tengah kegelapan. Komunitas-komunitas Katolik di Lebanon, meski dilanda krisis, tetap menjalankan karya sosial, pendidikan, dan kesehatan. Mereka menjadi saksi bahwa kasih Allah tidak dibatasi oleh batas negara atau agama.

Kita di Indonesia dapat belajar dari mereka. Dalam konteks pluralisme dan tantangan sosial, kerasulan awam dipanggil untuk menjadi jembatan kasih dan keadilan. Kita dipanggil untuk hadir di tengah masyarakat, memperjuangkan martabat manusia, dan mewartakan Injil melalui tindakan nyata.

Lebanon penting bagi Gereja Katolik bukan karena jumlah umatnya, tetapi karena kesetiaan dan keteguhan imannya. Ia adalah jantung Gereja Timur yang berdetak untuk dunia. Kunjungan Paus ke sana bukan hanya diplomasi, tetapi kesaksian iman. Dan bagi kita, ini adalah panggilan untuk terus memperbarui komitmen kita sebagai rasul awam: menjadi saksi kasih Allah di mana pun kita berada.

 

Oleh; Darius Leka, S.H., M.H. — Advokat & Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik

#gerejakatolik #kerasulanawam #lebanonkatolik #pausleoxiv #gerejatimur #maronit #kasihallah #dialogantariman #refleksiiman #rasulawambergerak #shdariusleka #parokisantopaulusdepok #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin