LEBANON — Ketika Paus Leo XIV memilih Turki dan Lebanon sebagai destinasi pertama dalam lawatan apostoliknya, banyak yang bertanya: Mengapa Lebanon? Di tengah krisis ekonomi, ketegangan politik, dan kerentanan sosial, Lebanon justru menjadi sorotan utama Takhta Suci. Sebagai seorang rasul awam yang terlibat dalam pelayanan hukum dan sosial, saya melihat bahwa Lebanon bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol keteguhan Gereja dalam menghadapi badai zaman.
Lebanon bukan negara biasa. Ia adalah
rumah bagi salah satu komunitas Katolik tertua di dunia: Gereja Maronit.
Berakar sejak abad ke-4, Gereja Maronit tetap setia kepada Paus Roma,
menjadikan Lebanon sebagai satu-satunya negara Arab dengan presiden beragama
Katolik. Di tengah mayoritas Muslim dan konflik sektarian yang berkepanjangan,
umat Katolik di Lebanon tetap menjadi saksi iman yang hidup.
Lebanon juga menjadi tempat di mana
dialog antaragama bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan hidup. Di sinilah Gereja
Katolik memainkan peran penting dalam menjembatani perbedaan, membangun
perdamaian, dan melayani semua tanpa memandang latar belakang.
Kunjungan Paus Leo XIV ke Turki
menandai komitmen Gereja untuk membangun dialog dengan dunia Islam. Turki,
sebagai negara Muslim sekuler yang menjadi jembatan antara Eropa dan Asia,
adalah simbol keterbukaan dan tantangan.
Namun, Lebanon adalah cerita yang
berbeda. Ia adalah simbol harapan. Di tengah kehancuran ekonomi dan eksodus umat
Kristiani, Gereja tetap hidup. Paus Leo XIV menyapa umat Katolik Timur secara
langsung, memperkuat persatuan dengan Takhta Suci, dan menegaskan bahwa Lebanon
adalah "pesan harapan bagi seluruh dunia".
Sebagai rasul awam, saya melihat
bahwa Lebanon adalah cermin dari panggilan kita: menjadi terang di tengah
kegelapan. Komunitas-komunitas Katolik di Lebanon, meski dilanda krisis, tetap
menjalankan karya sosial, pendidikan, dan kesehatan. Mereka menjadi saksi bahwa
kasih Allah tidak dibatasi oleh batas negara atau agama.
Kita di Indonesia dapat belajar dari
mereka. Dalam konteks pluralisme dan tantangan sosial, kerasulan awam dipanggil
untuk menjadi jembatan kasih dan keadilan. Kita dipanggil untuk hadir di tengah
masyarakat, memperjuangkan martabat manusia, dan mewartakan Injil melalui
tindakan nyata.
Lebanon penting bagi Gereja Katolik
bukan karena jumlah umatnya, tetapi karena kesetiaan dan keteguhan imannya. Ia
adalah jantung Gereja Timur yang berdetak untuk dunia. Kunjungan Paus ke sana
bukan hanya diplomasi, tetapi kesaksian iman. Dan bagi kita, ini adalah
panggilan untuk terus memperbarui komitmen kita sebagai rasul awam: menjadi
saksi kasih Allah di mana pun kita berada.
Oleh; Darius Leka, S.H., M.H. — Advokat & Aktivis Rasul Awam Gereja
Katolik
#gerejakatolik
#kerasulanawam #lebanonkatolik #pausleoxiv #gerejatimur #maronit #kasihallah
#dialogantariman #refleksiiman #rasulawambergerak #shdariusleka
#parokisantopaulusdepok #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin