KOTA DEPOK — Dalam setiap perayaan liturgi agung Gereja Katolik, kita sering menyaksikan para pemimpin Gereja membawa tongkat yang tampak megah dan penuh makna. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, ada perbedaan mencolok antara tongkat yang dibawa oleh Paus dan yang dibawa oleh para Uskup. Mengapa demikian? Apakah ini sekadar perbedaan artistik, ataukah menyimpan makna teologis yang lebih dalam?
Sebagai seorang rasul awam yang aktif dalam pelayanan sosial
dan hukum, saya terdorong untuk menelusuri akar dari simbol ini. Artikel ini
adalah hasil penelusuran, refleksi, dan permenungan atas simbol tongkat gembala
dalam terang Kitab Suci, Magisterium, Tradisi Suci, serta pengalaman konkret
dalam kerasulan awam.
Tongkat uskup, atau baculus pastoralis, berbentuk
seperti tongkat gembala dengan lengkungan di bagian atasnya. Ini bukan sekadar
hiasan, melainkan simbol otoritas pastoral seorang uskup atas keuskupannya.
Dalam Ritus Penahbisan Uskup, tongkat ini diberikan sebagai tanda bahwa
ia dipanggil untuk menggembalakan umat Allah di wilayahnya, menuntun,
melindungi, dan mengarahkan mereka kepada Kristus, Sang Gembala Agung (bdk. Yoh
10:11).
Tongkat ini hanya digunakan dalam wilayah keuskupan yang
menjadi tanggung jawabnya. Ketika seorang uskup berada di luar keuskupannya, ia
tidak membawa tongkat tersebut, sebagai bentuk penghormatan terhadap otoritas
uskup setempat. Ini mencerminkan prinsip kolegialitas dalam Gereja: para uskup
adalah gembala bersama dalam persekutuan dengan Paus, namun masing-masing
memiliki yurisdiksi yang terbatas.
Berbeda dengan tongkat uskup, Paus membawa ferula,
tongkat yang di ujungnya terdapat salib, bukan lengkungan gembala. Sejak Paus
Paulus VI, ferula memiliki desain khas dengan salib melengkung dan tubuh
Kristus yang tergantung di atasnya. Ini bukan sekadar simbol, melainkan
pernyataan teologis: Paus adalah Vicarius Christi, wakil Kristus di
dunia, dan pemegang otoritas tertinggi dalam Gereja Universal.
Ferula tidak memiliki lengkungan karena Paus tidak
menggembalakan satu keuskupan saja, melainkan seluruh Gereja. Ia adalah penerus
Santo Petrus, yang dalam Yohanes 21:15-17 menerima mandat langsung dari
Kristus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Maka, ferula menjadi lambang dari
pelayanan universal, bukan lokal.
Perbedaan ini bukanlah hasil keputusan estetika semata,
melainkan berakar dalam Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Katekismus Gereja
Katolik (KGK 880-882) menegaskan bahwa Paus memiliki “kuasa penuh, tertinggi,
dan universal atas seluruh Gereja.” Sementara para uskup, dalam persekutuan
dengan Paus, menggembalakan Gereja lokal mereka.
Tongkat menjadi perpanjangan dari identitas dan misi ini. Ia
bukan sekadar alat bantu berjalan, melainkan lambang kuasa rohani, tanggung
jawab pastoral, dan panggilan untuk melayani, bukan dilayani (bdk. Mat 20:28).
Sebagai rasul awam, kita tidak membawa tongkat secara fisik.
Namun, kita semua dipanggil untuk menjadi gembala dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan pelayanan sosial, kita memegang
“tongkat” yang tak kasat mata: tanggung jawab untuk mewartakan kasih dan
keadilan Allah.
Dalam pengalaman saya sebagai advokat dan pelayan sosial,
saya melihat bagaimana kerasulan awam menjadi medan nyata untuk menggembalakan
umat. Ketika kita membela hak kaum miskin, mendampingi korban ketidakadilan,
atau memberdayakan ekonomi umat melalui koperasi dan pelatihan, kita sedang
menjalankan fungsi kegembalaan dalam konteks dunia.
Banyak komunitas kerasulan awam hari ini bergerak dalam
bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan. Mereka menjadi wajah Gereja
yang hidup di tengah dunia. Dalam semangat Konsili Vatikan II, khususnya Lumen
Gentium dan Apostolicam Actuositatem, kerasulan awam bukanlah
pelengkap, melainkan bagian integral dari misi Gereja.
Tongkat Paus dan Uskup mengingatkan kita bahwa Gereja adalah
tubuh yang hidup, dengan banyak anggota yang memiliki peran berbeda namun satu
dalam Kristus. Maka, kerasulan awam adalah panggilan untuk menjadi gembala di
tengah dunia yang haus akan kasih dan kebenaran.
Perbedaan tongkat Paus dan Uskup bukanlah sekadar ornamen
liturgis. Ia adalah simbol yang hidup, yang mengajarkan kita tentang struktur,
peran, dan panggilan dalam Gereja. Lebih dari itu, ia menjadi undangan bagi
kita semua untuk mengambil bagian dalam misi Kristus: menggembalakan dunia
dengan kasih, keadilan, dan harapan.
Oleh; Darius Leka, S.H., M.H. — Advokat & Aktivis Rasul Awam
Gereja Katolik
#kerasulanawam #gerejakatolik
#tongkatpaus #tongkatuskup #simboliman #kasihallah #tradisisuci #magisterium
#refleksiiman #pelayananumat #rasulawambergerak #cintaallahuntukdunia #shdariusleka #parokisantopaulusdepok #reels
#foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin