Jumat, 02 Januari 2026

Tongkat Gembala; Simbol, Kuasa, dan Panggilan dalam Gereja Katolik

KOTA DEPOK — Dalam setiap perayaan liturgi agung Gereja Katolik, kita sering menyaksikan para pemimpin Gereja membawa tongkat yang tampak megah dan penuh makna. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, ada perbedaan mencolok antara tongkat yang dibawa oleh Paus dan yang dibawa oleh para Uskup. Mengapa demikian? Apakah ini sekadar perbedaan artistik, ataukah menyimpan makna teologis yang lebih dalam?

Sebagai seorang rasul awam yang aktif dalam pelayanan sosial dan hukum, saya terdorong untuk menelusuri akar dari simbol ini. Artikel ini adalah hasil penelusuran, refleksi, dan permenungan atas simbol tongkat gembala dalam terang Kitab Suci, Magisterium, Tradisi Suci, serta pengalaman konkret dalam kerasulan awam.

Tongkat uskup, atau baculus pastoralis, berbentuk seperti tongkat gembala dengan lengkungan di bagian atasnya. Ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol otoritas pastoral seorang uskup atas keuskupannya. Dalam Ritus Penahbisan Uskup, tongkat ini diberikan sebagai tanda bahwa ia dipanggil untuk menggembalakan umat Allah di wilayahnya, menuntun, melindungi, dan mengarahkan mereka kepada Kristus, Sang Gembala Agung (bdk. Yoh 10:11).

Tongkat ini hanya digunakan dalam wilayah keuskupan yang menjadi tanggung jawabnya. Ketika seorang uskup berada di luar keuskupannya, ia tidak membawa tongkat tersebut, sebagai bentuk penghormatan terhadap otoritas uskup setempat. Ini mencerminkan prinsip kolegialitas dalam Gereja: para uskup adalah gembala bersama dalam persekutuan dengan Paus, namun masing-masing memiliki yurisdiksi yang terbatas.

Berbeda dengan tongkat uskup, Paus membawa ferula, tongkat yang di ujungnya terdapat salib, bukan lengkungan gembala. Sejak Paus Paulus VI, ferula memiliki desain khas dengan salib melengkung dan tubuh Kristus yang tergantung di atasnya. Ini bukan sekadar simbol, melainkan pernyataan teologis: Paus adalah Vicarius Christi, wakil Kristus di dunia, dan pemegang otoritas tertinggi dalam Gereja Universal.

Ferula tidak memiliki lengkungan karena Paus tidak menggembalakan satu keuskupan saja, melainkan seluruh Gereja. Ia adalah penerus Santo Petrus, yang dalam Yohanes 21:15-17 menerima mandat langsung dari Kristus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Maka, ferula menjadi lambang dari pelayanan universal, bukan lokal.

Perbedaan ini bukanlah hasil keputusan estetika semata, melainkan berakar dalam Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Katekismus Gereja Katolik (KGK 880-882) menegaskan bahwa Paus memiliki “kuasa penuh, tertinggi, dan universal atas seluruh Gereja.” Sementara para uskup, dalam persekutuan dengan Paus, menggembalakan Gereja lokal mereka.

Tongkat menjadi perpanjangan dari identitas dan misi ini. Ia bukan sekadar alat bantu berjalan, melainkan lambang kuasa rohani, tanggung jawab pastoral, dan panggilan untuk melayani, bukan dilayani (bdk. Mat 20:28).

Sebagai rasul awam, kita tidak membawa tongkat secara fisik. Namun, kita semua dipanggil untuk menjadi gembala dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan pelayanan sosial, kita memegang “tongkat” yang tak kasat mata: tanggung jawab untuk mewartakan kasih dan keadilan Allah.

Dalam pengalaman saya sebagai advokat dan pelayan sosial, saya melihat bagaimana kerasulan awam menjadi medan nyata untuk menggembalakan umat. Ketika kita membela hak kaum miskin, mendampingi korban ketidakadilan, atau memberdayakan ekonomi umat melalui koperasi dan pelatihan, kita sedang menjalankan fungsi kegembalaan dalam konteks dunia.

Banyak komunitas kerasulan awam hari ini bergerak dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan. Mereka menjadi wajah Gereja yang hidup di tengah dunia. Dalam semangat Konsili Vatikan II, khususnya Lumen Gentium dan Apostolicam Actuositatem, kerasulan awam bukanlah pelengkap, melainkan bagian integral dari misi Gereja.

Tongkat Paus dan Uskup mengingatkan kita bahwa Gereja adalah tubuh yang hidup, dengan banyak anggota yang memiliki peran berbeda namun satu dalam Kristus. Maka, kerasulan awam adalah panggilan untuk menjadi gembala di tengah dunia yang haus akan kasih dan kebenaran.

Perbedaan tongkat Paus dan Uskup bukanlah sekadar ornamen liturgis. Ia adalah simbol yang hidup, yang mengajarkan kita tentang struktur, peran, dan panggilan dalam Gereja. Lebih dari itu, ia menjadi undangan bagi kita semua untuk mengambil bagian dalam misi Kristus: menggembalakan dunia dengan kasih, keadilan, dan harapan.

 

Oleh; Darius Leka, S.H., M.H. — Advokat & Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik

#kerasulanawam #gerejakatolik #tongkatpaus #tongkatuskup #simboliman #kasihallah #tradisisuci #magisterium #refleksiiman #pelayananumat #rasulawambergerak #cintaallahuntukdunia #shdariusleka #parokisantopaulusdepok #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin