
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat dan Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik
KOTA DEPOK, 25 November 2010. Senja belum benar-benar turun ketika
lonceng Gereja St. Paulus berdentang, mengundang umat untuk berkumpul dalam
sebuah perayaan yang tak biasa. Hari itu, Paroki St. Paulus Depok menjadi saksi
syukur atas 25 tahun imamat Pastor Markus Gunadi, OFM—seorang imam Fransiskan
yang telah menapaki jalan panggilan dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan
semangat pelayanan yang tak pernah padam.
Dua puluh lima tahun lalu, tepatnya 25 November 1985, di
Paroki Serang, Keuskupan Bogor, Markus Gunadi ditahbiskan menjadi imam. Sejak
saat itu, ia bukan hanya menjadi pelayan altar, tetapi juga pelayan
umat—menghidupi imamatnya dalam semangat Fransiskan: sederhana, bersaudara, dan
penuh kasih.
Dalam misa syukur yang dipimpin oleh Mgr. Michael Cosmas
Angkur, OFM, dan dihadiri oleh para imam serta umat dari berbagai penjuru,
suasana terasa hangat dan penuh haru. Dalam homilinya, Pastor Adrianus Sunarko,
OFM, Minister Provinsi, menyampaikan refleksi yang menggugah: “Apa resep awet
muda?” tanyanya. Jawaban pun beragam: olahraga, makan sehat, tertawa. Namun,
Pastor Narko menegaskan, “Resep awet muda adalah senantiasa bersyukur,” sambil
mengutip 1 Tesalonika 5:18—“Bersyukurlah dalam segala hal.”
Sebelum berkat penutup, Pastor Gunadi menyampaikan sambutan
yang tulus. Ia mengungkapkan rasa syukur atas anugerah imamat yang kudus dan
mengakui bahwa panggilannya tidak pernah berjalan sendiri. “Saya disangga oleh
banyak tangan, didoakan oleh banyak hati,” ujarnya. Ia pun mengajak umat
menyanyikan lagu “Tuhan Yesus Sembuhkanlah Kami”—sebuah doa yang mencerminkan
kerendahan hati dan semangat pengabdian yang menjadi ciri khas pelayanannya.
Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa
kesaksian hidup Pastor Gunadi adalah bentuk pewartaan yang paling otentik. Ia
hadir bukan hanya di altar, tetapi juga di tengah umat: mendampingi keluarga,
menggerakkan kaum muda, membina komunitas, dan menjembatani Gereja dengan
masyarakat luas.
Pesta Perak Imamat ini bukan hanya perayaan pribadi, tetapi
juga momentum Gereja untuk menegaskan kembali pentingnya panggilan hidup bakti.
Dalam konteks Keuskupan Bogor, di mana kerasulan awam berkembang pesat dalam
bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan, kehadiran imam yang setia
dan terbuka menjadi sangat vital.
Imam dan umat awam bukan dua kutub yang terpisah, melainkan
dua sayap Gereja yang harus terbang bersama. Imam membina, membimbing, dan
menguatkan; umat awam mewujudkan Injil dalam dunia kerja, keluarga, dan
masyarakat. Dalam hal ini, Pastor Gunadi telah menjadi jembatan yang kokoh
antara altar dan dunia nyata.
Acara ditutup dengan santap malam bersama, didahului
peniupan lilin dan pemotongan tumpeng. Suasana penuh keakraban, tawa, dan
kenangan. Para sahabat, umat, dan rekan sepelayanan hadir memberikan ucapan
selamat. Namun lebih dari itu, mereka hadir sebagai saksi dari sebuah
perjalanan panjang yang ditandai oleh kesetiaan dan kasih.
Proficiat, Pastor Gunadi. Teruslah melayani dengan hati yang
bersyukur, dengan semangat yang tak pernah padam. Gereja dan dunia membutuhkan
gembala seperti Anda—yang tidak hanya berkhotbah tentang kasih, tetapi
menghidupinya dalam setiap langkah.
#PestaPerakImamat #PastorGunadiOFM
#25TahunPelayanan #KerasulanAwam #GerejaHidup #ImamatSetia #FransiskanBersyukur
#MewartakanKasihAllah #StPaulusDepok #KatolikAktif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin