Rabu, 02 Maret 2011

25 Tahun Imamat Pastor Markus Gunadi, OFM; Jejak Kesetiaan Seorang Gembala Fransiskan

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat dan Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik

KOTA DEPOK
, 25 November 2010. Senja belum benar-benar turun ketika lonceng Gereja St. Paulus berdentang, mengundang umat untuk berkumpul dalam sebuah perayaan yang tak biasa. Hari itu, Paroki St. Paulus Depok menjadi saksi syukur atas 25 tahun imamat Pastor Markus Gunadi, OFM—seorang imam Fransiskan yang telah menapaki jalan panggilan dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan semangat pelayanan yang tak pernah padam.

Dua puluh lima tahun lalu, tepatnya 25 November 1985, di Paroki Serang, Keuskupan Bogor, Markus Gunadi ditahbiskan menjadi imam. Sejak saat itu, ia bukan hanya menjadi pelayan altar, tetapi juga pelayan umat—menghidupi imamatnya dalam semangat Fransiskan: sederhana, bersaudara, dan penuh kasih.

Dalam misa syukur yang dipimpin oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, dan dihadiri oleh para imam serta umat dari berbagai penjuru, suasana terasa hangat dan penuh haru. Dalam homilinya, Pastor Adrianus Sunarko, OFM, Minister Provinsi, menyampaikan refleksi yang menggugah: “Apa resep awet muda?” tanyanya. Jawaban pun beragam: olahraga, makan sehat, tertawa. Namun, Pastor Narko menegaskan, “Resep awet muda adalah senantiasa bersyukur,” sambil mengutip 1 Tesalonika 5:18—“Bersyukurlah dalam segala hal.”

Sebelum berkat penutup, Pastor Gunadi menyampaikan sambutan yang tulus. Ia mengungkapkan rasa syukur atas anugerah imamat yang kudus dan mengakui bahwa panggilannya tidak pernah berjalan sendiri. “Saya disangga oleh banyak tangan, didoakan oleh banyak hati,” ujarnya. Ia pun mengajak umat menyanyikan lagu “Tuhan Yesus Sembuhkanlah Kami”—sebuah doa yang mencerminkan kerendahan hati dan semangat pengabdian yang menjadi ciri khas pelayanannya.

Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa kesaksian hidup Pastor Gunadi adalah bentuk pewartaan yang paling otentik. Ia hadir bukan hanya di altar, tetapi juga di tengah umat: mendampingi keluarga, menggerakkan kaum muda, membina komunitas, dan menjembatani Gereja dengan masyarakat luas.

Pesta Perak Imamat ini bukan hanya perayaan pribadi, tetapi juga momentum Gereja untuk menegaskan kembali pentingnya panggilan hidup bakti. Dalam konteks Keuskupan Bogor, di mana kerasulan awam berkembang pesat dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan, kehadiran imam yang setia dan terbuka menjadi sangat vital.

Imam dan umat awam bukan dua kutub yang terpisah, melainkan dua sayap Gereja yang harus terbang bersama. Imam membina, membimbing, dan menguatkan; umat awam mewujudkan Injil dalam dunia kerja, keluarga, dan masyarakat. Dalam hal ini, Pastor Gunadi telah menjadi jembatan yang kokoh antara altar dan dunia nyata.

Acara ditutup dengan santap malam bersama, didahului peniupan lilin dan pemotongan tumpeng. Suasana penuh keakraban, tawa, dan kenangan. Para sahabat, umat, dan rekan sepelayanan hadir memberikan ucapan selamat. Namun lebih dari itu, mereka hadir sebagai saksi dari sebuah perjalanan panjang yang ditandai oleh kesetiaan dan kasih.

Proficiat, Pastor Gunadi. Teruslah melayani dengan hati yang bersyukur, dengan semangat yang tak pernah padam. Gereja dan dunia membutuhkan gembala seperti Anda—yang tidak hanya berkhotbah tentang kasih, tetapi menghidupinya dalam setiap langkah.


#PestaPerakImamat #PastorGunadiOFM #25TahunPelayanan #KerasulanAwam #GerejaHidup #ImamatSetia #FransiskanBersyukur #MewartakanKasihAllah #StPaulusDepok #KatolikAktif


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin