
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Santo Paulus Depok, periode 2010-2013
KOTA DEPOK - Minggu pagi, 19 Desember, halaman Gereja St. Paulus Depok
dipenuhi umat yang datang bukan hanya untuk merayakan Ekaristi, tetapi juga
untuk mengantar kepergian seorang gembala yang telah menorehkan jejak kasih dan
pelayanan selama lebih dari satu dekade. Pastor Markus Gunadi, OFM—yang akrab
disapa Romo Gun—resmi menyerahkan tongkat estafet pelayanan kepada Pastor
Tauchen Hotlan Girsang, OFM, dalam misa yang dipimpin langsung oleh Mgr.
Michael Cosmas Angkur, OFM.
Sejak tahun 2007, Romo Gunadi telah menggembalakan umat
Paroki St. Paulus Depok dengan semangat Fransiskan yang sederhana namun penuh
daya. Kini, ia menerima tugas baru di Atambua, Nusa Tenggara Timur—sebuah
wilayah yang menantang namun sarat potensi kerasulan. Dalam sambutannya yang
penuh haru, Romo Gun mengungkapkan, “Saya banyak belajar dari umat Paroki St.
Paulus Depok. Di tempat yang baru, saya pun akan terus belajar melayani umat secara
lebih baik.”
Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya menyaksikan
langsung bagaimana Romo Gunadi bukan hanya seorang imam, tetapi juga seorang
pembina, sahabat, dan penggerak. Ia hadir dalam dinamika umat, dari altar
hingga lorong-lorong kampung, dari ruang rapat Dewan Pastoral hingga
panggung-panggung seni kaum muda.
Misa hari itu menjadi momentum penting: serah terima jabatan
pastor paroki dari Romo Gunadi kepada Romo Tauchen, serta pelantikan Dewan
Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP) periode 2011–2013. Mgr.
Angkur menegaskan bahwa pelayanan Gereja adalah karya bersama, bukan milik satu
pribadi. “Imam boleh berganti, tetapi semangat pelayanan harus terus menyala,”
ujarnya.
Pelantikan DPP dan DKP bukan sekadar formalitas
administratif, melainkan penegasan bahwa kerasulan awam adalah jantung dari
kehidupan Gereja. Dalam konteks sosial, ekonomi, dan hukum, umat awam dipanggil
untuk menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat—sebuah panggilan yang semakin
relevan di tengah tantangan zaman.
Usai misa, halaman gereja berubah menjadi ruang perjumpaan
yang hangat. Musik dari kaum muda, tawa anak-anak, dan pelukan perpisahan
menjadi saksi cinta umat kepada gembalanya. Hadir pula para tokoh masyarakat,
dari Kapolres hingga pejabat pemerintah, menandakan bahwa Gereja St. Paulus
Depok telah menjadi mitra strategis dalam membangun masyarakat yang adil dan
bermartabat.
Romo Gunadi tidak hanya meninggalkan bangunan fisik, tetapi
warisan spiritual yang hidup: semangat pelayanan, keterbukaan dialog, dan
keberpihakan pada kaum kecil. Ia telah menanam benih kerasulan awam yang kini
tumbuh dalam berbagai bidang—pendampingan hukum, koperasi umat, pelayanan sosial,
dan pendidikan karakter.
Kepergian Romo Gunadi bukanlah akhir, melainkan kelanjutan
dari misi pewartaan kasih Allah. Di Atambua, ia akan menghadapi tantangan baru:
kemiskinan struktural, keterbatasan akses pendidikan, dan pluralitas budaya.
Namun, dengan semangat yang sama, ia akan terus mewartakan Injil melalui
tindakan nyata.
Sebagai umat dan bagian dari kerasulan awam, kita diajak
untuk melanjutkan warisan ini. Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi
komunitas yang bergerak, menyentuh, dan mengubah. Mari kita jadikan setiap
lingkungan, keluarga, dan profesi sebagai ladang kerasulan yang subur.
*) Keterangan foto: Pater Markus Gunadi, OFM—yang akrab disapa Romo Gun—resmi menyerahkan tongkat estafet pelayanan kepada Pater Tauchen Hotlan Girsang, OFM, dalam misa yang dipimpin langsung oleh Uskup Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, pada 19 Desember 2010
#romogunadi #kerasulanawam #gerejabergerak #stpaulusdepok #pelayanantanpabatas #imanyanghidup #misiketimor #gembalayangsetia #mewartakankasihallah #katolikaktif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin