
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat dan Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik
Paroki St. Paulus Depok turut ambil bagian dalam kegiatan
ini, diwakili oleh para pembimbing seperti Ibu Andys, Ibu Vero, Kak Yesika, dan
Kak Noven. Mereka hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai pejuang
iman yang membawa semangat pelayanan kepada anak-anak—generasi penerus Gereja.
Materi yang disampaikan mencakup pemahaman mendalam tentang
Iman Katolik, Arah Dasar Keuskupan Bogor 2011, Kitab Suci Perjanjian Lama dan
Baru, teknik mendongeng Kitab Suci, serta lagu-lagu rohani anak. Semua
dirancang untuk memperkaya metode dan pendekatan dalam mendampingi anak-anak
agar tumbuh dalam iman yang hidup dan kontekstual.
Dalam sesi berbagi pengalaman antarparoki, terungkap
berbagai kendala yang hampir seragam: keterbatasan ruang, minimnya sarana, dan
kurangnya keterlibatan umat yang kompeten dalam bidang pendampingan anak. Ini
bukan sekadar masalah teknis, tetapi cerminan dari tantangan struktural dalam
kerasulan awam.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
melihat bahwa persoalan ini menyentuh aspek yang lebih luas: bagaimana Gereja
memposisikan pendidikan iman anak sebagai prioritas pastoral. Gereja tidak bisa
hanya mengandalkan semangat para relawan, tetapi harus membangun ekosistem
pendukung yang kuat—dari kebijakan keuskupan, dukungan dewan paroki, hingga
keterlibatan aktif orangtua.
Meski di tengah keterbatasan, Paroki St. Paulus Depok
menunjukkan kemajuan yang patut diapresiasi. Dengan struktur kelas yang
lengkap—dari PG dan TK, Kelas 1–3, kelas persiapan Komuni Pertama, hingga Bina
Iman Remaja (BIR)—paroki ini menjadi contoh bagaimana kreativitas dan komitmen
bisa mengatasi kekurangan fasilitas.
Frater dari Novisiat Transitus Depok yang turut mendampingi
kegiatan BIA dan BIR menuturkan, “Anak-anak sekarang lebih kritis. Pendamping
harus lebih kreatif agar mereka tetap tertarik.” Pernyataan ini menegaskan
bahwa mendampingi anak bukan sekadar mengajar, tetapi membangun relasi yang
hidup dan relevan dengan dunia mereka.
Temu Karya ini menjadi refleksi bahwa kerasulan awam bukan
hanya soal pelayanan sosial atau advokasi hukum, tetapi juga tentang mendidik
iman sejak dini. Anak-anak adalah ladang subur yang harus ditaburi dengan
kasih, nilai-nilai Injil, dan semangat Kristiani yang otentik.
Gereja harus hadir sebagai rumah yang ramah anak, bukan
hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual. Ini adalah panggilan bagi
kita semua—umat, orangtua, imam, dan awam—untuk bersama-sama membangun generasi
yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakar dalam iman.
#binaimananak #kerasulanawam
#gerejaramahanak #stpaulusdepok #temukaryabia #imansejakdini #gerejahidup
#mewartakankasihallah #katolikaktif #anakadalahmasadepangereja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin