Selasa, 26 April 2011

Salib dan Keadilan; Ketika Kasih Menebus Kekejaman

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat dan Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik

KOTA DEPOK
- Dalam sejarah umat manusia, tidak ada simbol yang lebih paradoksal daripada salib. Ia adalah lambang kematian yang kejam, namun juga tanda keselamatan yang abadi. Ia adalah alat penghukuman yang brutal, namun kini menjadi ikon cinta yang tak terhingga. Di balik dua balok kayu yang saling bersilang itu, tersimpan kisah tentang keadilan yang diputarbalikkan, dan kasih yang tak tergoyahkan.

Tradisi penyaliban bukan berasal dari bangsa Romawi. Ia bermula dari Persia, diadopsi oleh bangsa Kartago, dan kemudian disempurnakan oleh Kekaisaran Romawi sebagai bentuk hukuman paling mengerikan. Penyaliban bukan sekadar eksekusi, tetapi teror yang dipertontonkan. Korbannya adalah para budak, pemberontak, dan kriminal kelas berat—mereka yang dianggap tak layak hidup oleh negara.

Namun, ironisnya, Yesus dari Nazaret—yang tak bersalah, yang bahkan menurut Pilatus dan Herodes tak layak dihukum—justru dijatuhi hukuman ini. Mengapa? Karena kebencian, iri hati, dan tekanan massa. Injil Lukas mencatat dengan gamblang: “Tetapi mereka mendesak dengan suara keras dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriakan mereka” (Luk. 23:23).

Sebagai seorang advokat, saya terbiasa membaca dokumen hukum dan prosedur pidana. Namun tak ada prosedur yang sekejam penyaliban. Setelah divonis, korban dicambuk dengan flagrum—cambuk bertali kulit yang ujungnya diberi logam atau tulang. Tubuh korban remuk sebelum ia dipaksa memikul patibulum, balok horizontal salib, menuju tempat eksekusi.

Di sana, ia ditelanjangi, dipaku, dan digantung. Kematian datang perlahan, bukan karena luka, tetapi karena kehabisan napas. Jika terlalu lama bertahan, kaki korban dipatahkan agar ia tak bisa lagi mengangkat tubuhnya untuk bernapas. Inilah yang terjadi pada dua penjahat di sisi Yesus. Namun Yesus, yang telah wafat lebih dulu, hanya ditusuk lambung-Nya—sebuah tindakan yang justru menggenapi nubuat dan menegaskan bahwa Ia sungguh mati.

Mengapa Gereja Katolik menjadikan salib sebagai pusat iman? Karena di sanalah kasih Allah dinyatakan secara total. Salib bukan sekadar alat eksekusi, tetapi altar kurban. Di atasnya, Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai Anak Domba Allah, menebus dosa dunia.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa salib bukan hanya simbol religius, tetapi juga panggilan hidup. Dalam dunia yang masih penuh ketidakadilan, salib mengingatkan kita bahwa kebenaran bisa dikorbankan, tetapi tak bisa dikalahkan. Bahwa kasih bisa disalibkan, tetapi akan bangkit kembali.

Hari ini, salib hadir dalam berbagai bentuk: penderitaan, pengkhianatan, ketidakadilan, penyakit, dan kehilangan. Namun, seperti Yesus, kita dipanggil untuk memikul salib kita setiap hari (Luk. 9:23). Bukan sebagai beban, tetapi sebagai jalan menuju kebangkitan.

Dalam kerasulan awam—di bidang hukum, sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan—kita dipanggil untuk menjadi saksi salib: membela yang lemah, menegakkan keadilan, dan mewartakan kasih Allah yang tak mengenal batas.

Salib bukan akhir. Ia adalah awal dari kehidupan baru. Maka, marilah kita memandang salib bukan dengan ketakutan, tetapi dengan iman. Sebab di sanalah, kasih Allah mengalahkan maut.


#salibkristus #keadilandankasih #kerasulanawam #imanyangberakar #yesusdisalibkan #misterikeselamatan #gerejakatolik #mewartakankasihallah #katolikaktif #salibadalahharapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin