
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat dan Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik
KOTA DEPOK - Dalam sejarah umat manusia, tidak ada simbol
yang lebih paradoksal daripada salib. Ia adalah lambang kematian yang kejam,
namun juga tanda keselamatan yang abadi. Ia adalah alat penghukuman yang
brutal, namun kini menjadi ikon cinta yang tak terhingga. Di balik dua balok
kayu yang saling bersilang itu, tersimpan kisah tentang keadilan yang
diputarbalikkan, dan kasih yang tak tergoyahkan.
Tradisi penyaliban bukan berasal dari bangsa Romawi. Ia
bermula dari Persia, diadopsi oleh bangsa Kartago, dan kemudian disempurnakan
oleh Kekaisaran Romawi sebagai bentuk hukuman paling mengerikan. Penyaliban
bukan sekadar eksekusi, tetapi teror yang dipertontonkan. Korbannya adalah para
budak, pemberontak, dan kriminal kelas berat—mereka yang dianggap tak layak
hidup oleh negara.
Namun, ironisnya, Yesus dari Nazaret—yang tak bersalah, yang
bahkan menurut Pilatus dan Herodes tak layak dihukum—justru dijatuhi hukuman
ini. Mengapa? Karena kebencian, iri hati, dan tekanan massa. Injil Lukas
mencatat dengan gamblang: “Tetapi mereka mendesak dengan suara keras dan
menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriakan
mereka” (Luk. 23:23).
Sebagai seorang advokat, saya terbiasa membaca dokumen hukum
dan prosedur pidana. Namun tak ada prosedur yang sekejam penyaliban. Setelah
divonis, korban dicambuk dengan flagrum—cambuk bertali kulit yang ujungnya
diberi logam atau tulang. Tubuh korban remuk sebelum ia dipaksa memikul
patibulum, balok horizontal salib, menuju tempat eksekusi.
Di sana, ia ditelanjangi, dipaku, dan digantung. Kematian
datang perlahan, bukan karena luka, tetapi karena kehabisan napas. Jika terlalu
lama bertahan, kaki korban dipatahkan agar ia tak bisa lagi mengangkat tubuhnya
untuk bernapas. Inilah yang terjadi pada dua penjahat di sisi Yesus. Namun
Yesus, yang telah wafat lebih dulu, hanya ditusuk lambung-Nya—sebuah tindakan
yang justru menggenapi nubuat dan menegaskan bahwa Ia sungguh mati.
Mengapa Gereja Katolik menjadikan salib sebagai pusat iman?
Karena di sanalah kasih Allah dinyatakan secara total. Salib bukan sekadar alat
eksekusi, tetapi altar kurban. Di atasnya, Yesus mempersembahkan diri-Nya
sebagai Anak Domba Allah, menebus dosa dunia.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa salib
bukan hanya simbol religius, tetapi juga panggilan hidup. Dalam dunia yang
masih penuh ketidakadilan, salib mengingatkan kita bahwa kebenaran bisa
dikorbankan, tetapi tak bisa dikalahkan. Bahwa kasih bisa disalibkan, tetapi
akan bangkit kembali.
Hari ini, salib hadir dalam berbagai bentuk: penderitaan,
pengkhianatan, ketidakadilan, penyakit, dan kehilangan. Namun, seperti Yesus,
kita dipanggil untuk memikul salib kita setiap hari (Luk. 9:23). Bukan sebagai
beban, tetapi sebagai jalan menuju kebangkitan.
Dalam kerasulan awam—di bidang hukum, sosial, ekonomi, dan
kemasyarakatan—kita dipanggil untuk menjadi saksi salib: membela yang lemah,
menegakkan keadilan, dan mewartakan kasih Allah yang tak mengenal batas.
Salib bukan akhir. Ia adalah awal dari kehidupan baru. Maka,
marilah kita memandang salib bukan dengan ketakutan, tetapi dengan iman. Sebab
di sanalah, kasih Allah mengalahkan maut.
#salibkristus #keadilandankasih #kerasulanawam #imanyangberakar #yesusdisalibkan #misterikeselamatan #gerejakatolik #mewartakankasihallah #katolikaktif #salibadalahharapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin