Rabu, 25 Mei 2011

KPP; Menyemai Cinta, Menumbuhkan Iman, Mempersiapkan Masa Depan

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA
DEPOK, 14–15 Mei 2011 — Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, Gereja Katolik tetap teguh menjaga nilai-nilai sakral dalam kehidupan perkawinan. Salah satu bentuk konkret dari tanggung jawab pastoral itu adalah penyelenggaraan Kursus Persiapan Perkawinan (KPP), yang baru saja dilaksanakan oleh Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) Paroki St. Paulus Depok.

Selama dua hari penuh, 17 pasangan calon suami-istri mengikuti rangkaian sesi yang dirancang bukan hanya untuk memenuhi syarat administratif, tetapi lebih dari itu: membekali mereka secara spiritual, moral, dan praktis dalam membangun rumah tangga yang kokoh di atas dasar iman.

Menurut A. Herry Cahyono, Ketua SKK Paroki St. Paulus Depok, mayoritas peserta berasal dari paroki sendiri. Namun yang menarik, dari 17 pasangan tersebut, hanya sembilan yang sama-sama Katolik. Selebihnya terdiri dari pasangan beda gereja (Katolik–Protestan) dan beda agama (Katolik–Islam, Katolik–Budha).

“Ini mencerminkan realitas umat kita hari ini,” ujar Herry. “Dan karena itu, materi KPP pun telah dimodifikasi agar tetap relevan dan menyentuh kebutuhan peserta.” Ia menambahkan bahwa keberhasilan KPP sangat ditentukan oleh siapa yang membawakan materi. “Dukungan para pastor dan narasumber yang kompeten membuat KPP kali ini berjalan sangat baik.”

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa keterbukaan Gereja terhadap pasangan beda iman bukan berarti kompromi terhadap ajaran. Justru di sinilah peran KPP menjadi sangat penting: menjelaskan secara jujur tantangan yang akan dihadapi, sekaligus menawarkan jalan kasih yang realistis dan bertanggung jawab.

Liung Lius dan Susanti Surisno Nugraha, pasangan beda agama dari lingkungan Bonaventura, memberikan kesaksian yang menyentuh. “Kami tidak hanya mengejar sertifikat,” kata mereka. “Kami ingin memahami dan menjadikan KPP ini sebagai tuntunan dalam membangun keluarga kami nanti.”

Pernyataan ini menjadi kritik halus terhadap kecenderungan sebagian pasangan yang melihat KPP hanya sebagai formalitas. Padahal, di sinilah Gereja hadir sebagai ibu dan guru—membimbing, bukan sekadar mengesahkan.

KPP kali ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, yang membawakan materi secara komprehensif:

  • Rm. Tauchen Hotlan Girsang, OFM – Moralitas Perkawinan
  • Bapak Thomas Harjono – Bina Iman
  • Rm. Bonefasius Budiman, OFM – Spiritualitas Perkawinan
  • Bapak Taru Guritno – Komunikasi Keluarga
  • Ibu Geniek – Ekonomi Keluarga
  • Dr. Haryanto – Seksualitas dalam Perkawinan
  • Bapak Sonny Harsono – Panggilan Menjadi Orangtua

Materi-materi ini tidak hanya menyentuh aspek teologis, tetapi juga psikologis, sosial, dan praktis. Sebab membangun keluarga bukan hanya soal cinta, tetapi juga soal komitmen, komunikasi, dan kesiapan menghadapi realitas hidup bersama.

KPP bukan sekadar program paroki. Ia adalah bagian dari misi kerasulan awam: membangun Gereja dari rumah tangga. Sebab keluarga adalah Gereja mini, tempat pertama dan utama di mana iman dihidupi dan diwariskan.

Maka, mari kita dukung setiap pasangan yang hendak membangun hidup bersama. Mari kita doakan mereka, dampingi mereka, dan hadir bagi mereka. Sebab dari keluarga-keluarga yang sehat dan kudus, lahirlah Gereja yang kuat dan penuh kasih.

#kppstpaulusdepok #kerasulankeluarga #persiapanperkawinan #gerejayangmendidik #keluargakatolik #imandancinta #kerasulanawam #mewartakankasihallah #katolikaktif #stpaulusdepok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin