Jumat, 03 Juni 2011

51 Tahun Paroki St. Paulus Depok; Menumbuhkan Iman, Merawat Solidaritas, Merayakan Kebhinekaan

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK - Tak terasa, Paroki St. Paulus Depok telah menapaki usia ke-51. Sebuah perjalanan panjang yang tak hanya mencatat sejarah, tetapi juga merekam denyut kehidupan umat yang terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Dalam rentang waktu lebih dari setengah abad ini, kita telah melewati banyak hal bersama: suka dan duka, tawa dan air mata, keberhasilan dan tantangan. Namun satu hal yang tak pernah berubah adalah semangat untuk terus membangun Gereja yang hidup—Gereja yang berakar dalam Kristus dan berbuah dalam pelayanan.

Pesta nama pelindung Paroki tahun ini mengangkat tema yang sangat relevan: “Mari kita kembangkan iman dan perkokoh solidaritas umat dengan inkulturasi keragaman budaya.” Sebuah ajakan yang bukan hanya indah secara retoris, tetapi juga mendalam secara teologis dan pastoral. Sebab Gereja yang sejati adalah Gereja yang mampu merangkul keberagaman dan menjadikannya kekayaan, bukan perbedaan yang memecah.

Seperti ditegaskan oleh Rm. Tauchen Hotlan Girsang, OFM, dalam perayaan bersama umat Lingkungan St. Sicilia, pertumbuhan Gereja bukanlah hasil kekuatan manusia semata, melainkan buah dari karya Roh Kudus yang dihembuskan dalam keberagaman umat. Ketika suku, ras, dan latar belakang budaya yang berbeda mampu duduk bersama dalam satu meja Ekaristi, di sanalah Gereja menjadi tanda nyata kasih Allah bagi dunia.

Ketua Panitia HUT Paroki ke-51, Bapak Agustinus Subianto, menegaskan bahwa seluruh rangkaian acara dirancang untuk melibatkan semua unsur usia. “Dari anak-anak, orang muda, hingga para lansia, semua kami libatkan,” ujarnya. Bahkan dalam kegiatan perdana berupa senam kesehatan keluarga, nuansa budaya Sunda diangkat sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal.

Kegiatan-kegiatan lain seperti lomba rawat taman, pentas seni, dan pelayanan sosial dirancang untuk memperkuat kebersamaan antarwilayah dan lingkungan. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi proses membangun komunitas basis yang kokoh dalam iman dan aktif dalam pelayanan.

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa kekuatan Gereja terletak pada umat basis. Di sanalah iman dijalani secara konkret, dalam relasi antarpribadi, dalam doa bersama, dalam kepedulian terhadap sesama. Maka, pesta nama pelindung paroki bukan hanya momentum seremonial, tetapi kesempatan untuk memperbarui komitmen kita sebagai umat Allah.

Kita diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku. Tidak hanya hadir dalam misa, tetapi juga hadir dalam kehidupan sesama. Tidak hanya membangun gedung gereja, tetapi juga membangun jembatan kasih di tengah masyarakat.

Usia 51 tahun bukan sekadar angka. Ia adalah cermin dari perjalanan, pertumbuhan, dan harapan. Maka, mari kita jadikan perayaan ini sebagai titik tolak untuk melangkah lebih jauh. Mari kita rawat kebersamaan, perkuat solidaritas, dan terus membuka diri terhadap karya Roh Kudus yang membarui segala sesuatu.

Sebab Gereja yang hidup bukanlah Gereja yang sempurna, tetapi Gereja yang terus bertobat, bertumbuh, dan melayani. Dan Paroki St. Paulus Depok, dengan segala keberagamannya, telah dan akan terus menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia.

*) Keterangan fotoPembukaan kegiatan 50 tahun Paroki Santo Paulus Depok yang ditandai dengan pengguntingan pita oleh Pater Tauchen, OFM, selaku pastor paroki pada 2 Juni 2011

 

#hutparokistpaulusdepok #51tahunbersama #inkulturasiiman #solidaritasumat #kerasulanawam #gerejayanghidup #mewartakankasihallah #katolikaktif #umatbasisbertumbuh #stpaulusdepok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin