
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
Pesta nama pelindung Paroki tahun ini mengangkat tema yang
sangat relevan: “Mari kita kembangkan iman dan perkokoh solidaritas umat
dengan inkulturasi keragaman budaya.” Sebuah ajakan yang bukan hanya indah
secara retoris, tetapi juga mendalam secara teologis dan pastoral. Sebab Gereja
yang sejati adalah Gereja yang mampu merangkul keberagaman dan menjadikannya
kekayaan, bukan perbedaan yang memecah.
Seperti ditegaskan oleh Rm. Tauchen Hotlan Girsang, OFM,
dalam perayaan bersama umat Lingkungan St. Sicilia, pertumbuhan Gereja bukanlah
hasil kekuatan manusia semata, melainkan buah dari karya Roh Kudus yang
dihembuskan dalam keberagaman umat. Ketika suku, ras, dan latar belakang budaya
yang berbeda mampu duduk bersama dalam satu meja Ekaristi, di sanalah Gereja
menjadi tanda nyata kasih Allah bagi dunia.
Ketua Panitia HUT Paroki ke-51, Bapak Agustinus Subianto,
menegaskan bahwa seluruh rangkaian acara dirancang untuk melibatkan semua unsur
usia. “Dari anak-anak, orang muda, hingga para lansia, semua kami libatkan,”
ujarnya. Bahkan dalam kegiatan perdana berupa senam kesehatan keluarga, nuansa
budaya Sunda diangkat sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal.
Kegiatan-kegiatan lain seperti lomba rawat taman, pentas
seni, dan pelayanan sosial dirancang untuk memperkuat kebersamaan antarwilayah
dan lingkungan. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi proses membangun komunitas
basis yang kokoh dalam iman dan aktif dalam pelayanan.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
percaya bahwa kekuatan Gereja terletak pada umat basis. Di sanalah iman
dijalani secara konkret, dalam relasi antarpribadi, dalam doa bersama, dalam
kepedulian terhadap sesama. Maka, pesta nama pelindung paroki bukan hanya
momentum seremonial, tetapi kesempatan untuk memperbarui komitmen kita sebagai
umat Allah.
Kita diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi
pelaku. Tidak hanya hadir dalam misa, tetapi juga hadir dalam kehidupan sesama.
Tidak hanya membangun gedung gereja, tetapi juga membangun jembatan kasih di
tengah masyarakat.
Usia 51 tahun bukan sekadar angka. Ia adalah cermin dari
perjalanan, pertumbuhan, dan harapan. Maka, mari kita jadikan perayaan ini
sebagai titik tolak untuk melangkah lebih jauh. Mari kita rawat kebersamaan,
perkuat solidaritas, dan terus membuka diri terhadap karya Roh Kudus yang
membarui segala sesuatu.
Sebab Gereja yang hidup bukanlah Gereja yang sempurna,
tetapi Gereja yang terus bertobat, bertumbuh, dan melayani. Dan Paroki St.
Paulus Depok, dengan segala keberagamannya, telah dan akan terus menjadi saksi
kasih Allah di tengah dunia.
*) Keterangan foto: Pembukaan kegiatan 50 tahun Paroki Santo Paulus Depok yang ditandai dengan pengguntingan pita oleh Pater Tauchen, OFM, selaku pastor paroki pada 2 Juni 2011
#hutparokistpaulusdepok
#51tahunbersama #inkulturasiiman #solidaritasumat #kerasulanawam
#gerejayanghidup #mewartakankasihallah #katolikaktif #umatbasisbertumbuh
#stpaulusdepok
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin