Kamis, 09 Juni 2011

Mens Sana in Corpore Sano; Ketika Senam Sehat Menjadi Wajah Gereja yang Hidup

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK, 2 Juni 2011 — Siapa bilang senam sehat hanya milik komunitas lansia atau sekadar rutinitas pagi di taman kota? Di Paroki St. Paulus Depok, senam sehat keluarga justru menjadi pembuka semarak rangkaian Pesta Nama Pelindung Paroki ke-51. Lebih dari sekadar aktivitas fisik, kegiatan ini menjadi simbol nyata dari semangat kebersamaan, kesadaran hidup sehat, dan wajah Gereja yang inklusif dan dinamis.

Sejak pukul 10.30 WIB, halaman parkir gereja telah dipenuhi ratusan umat dari berbagai usia—anak-anak, remaja, orangtua, hingga lansia. Dipandu dengan penuh semangat oleh Ibu Elisabeth Setianingsih, acara dibuka secara resmi oleh Pastor Paroki, Rm. Tauchen Hotlan Girsang, OFM, dengan pengguntingan pita. Sebuah momentum sederhana, namun sarat makna: Gereja yang sehat dimulai dari umat yang sehat—jiwa dan raganya.

Kegiatan hari itu tak hanya diisi dengan senam sehat, tetapi juga lomba merawat taman dan pertandingan futsal. Ketiganya dirancang untuk melibatkan seluruh unsur umat, dari 17 lingkungan yang ada di paroki. “Kami ingin semua orang merasa terlibat, merasa memiliki,” ujar salah satu panitia.

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa kegiatan seperti ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah bentuk nyata dari inkulturasi iman—di mana tubuh, komunitas, dan spiritualitas bertemu dalam harmoni. Gereja bukan hanya tempat berdoa, tetapi juga ruang untuk bertumbuh sebagai pribadi utuh.

Namun, di balik semarak itu, ada catatan yang perlu direnungkan. Tidak semua lingkungan terlibat aktif. Beberapa memilih fokus pada kegiatan lain, seperti lomba taman, karena kesulitan mengumpulkan warga. Bapak Marjono dan Ibu Tati dari Lingkungan St. Laurensius, misalnya, mengakui tantangan tersebut.

Apakah ini sekadar kebetulan? Ataukah cerminan dari tantangan yang lebih besar: bagaimana membangun partisipasi umat dalam kehidupan menggereja yang lebih luas dari sekadar liturgi?

Pesta nama pelindung paroki bukan hanya perayaan tahunan. Ia adalah kesempatan untuk menegaskan kembali identitas kita sebagai umat Allah—yang hidup, bergerak, dan terlibat. Maka, partisipasi bukan soal hadir atau tidak hadir, tetapi soal kesediaan untuk memberi diri, sesuai talenta dan kapasitas masing-masing.

Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Gereja yang hidup bukan dibangun oleh segelintir orang, tetapi oleh seluruh umat yang bersatu dalam semangat pelayanan.

Mari kita jadikan momentum ini sebagai awal dari keterlibatan yang lebih luas. Mari kita rawat tubuh kita, komunitas kita, dan iman kita—sebab di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang siap mewartakan kasih Allah kepada dunia.

 

#senamsehatparoki #pestanamastpaulusdepok #kerasulanawam #gerejayanghidup #menssanaincorporesano #umatbasisaktif #mewartakankasihallah #katolikaktif #solidaritasumat #parokisehat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin