
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
Semangat inilah yang hidup dalam diri para suster Kongregasi
Puteri Renha Rosari (PRR), yang pada Minggu, 6 November 2011, hadir di Paroki St.
Paulus Depok. Bukan untuk berkampanye atau mencari panggilan, melainkan untuk
menjual kalender 2012 hasil desain sendiri. Hasil penjualan itu akan digunakan
untuk mendukung pelayanan bagi penderita kusta di Naub, NTT, serta karya sosial
lintas agama di daerah-daerah terpencil seperti Balibo dan Wasior, Papua.
Didirikan pada 15 Agustus 1958 di Lebao, Larantuka, Flores
Timur oleh Mgr. Gabriel J.W. Manek, SVD—uskup pribumi pertama dari Indonesia
Timur—Kongregasi PRR lahir dari kebutuhan mendesak Gereja lokal akan tenaga
pastoral, khususnya bagi kaum miskin dan terpinggirkan. Dengan moto sederhana
namun kuat, “Jiwaku Memuliakan Tuhan”, para suster PRR menjadikan pelayanan
sebagai bentuk pujian hidup kepada Allah.
Kini, lebih dari setengah abad kemudian, PRR telah
berkembang pesat. Dengan lebih dari 400 anggota berkaul kekal, mereka hadir di
31 keuskupan di tiga benua: Asia (Indonesia dan Timor Leste), Eropa (Italia dan
Belgia), serta Afrika (Kenya). Namun, semangat mereka tetap sama: melayani
tanpa membeda-bedakan.
Sr. Maria Gabriella, PRR, dalam wawancara dengan Komsos,
menegaskan bahwa pelayanan mereka tidak mengenal sekat. “Cintailah dan
layanilah sesamamu tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama, atau golongan.
Karena kalau tidak, kamu tidak akan pernah melihat Allah,” ujarnya. Sebuah
pernyataan yang menggugah, sekaligus menjadi cermin bagi kita semua.
Pelayanan PRR tidak hanya terbatas pada bidang pastoral,
tetapi juga merambah ke pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Mereka hadir di tempat-tempat yang sering dilupakan, menyentuh mereka yang
menderita dan terbuang, dan menjadikan kasih sebagai bahasa universal.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa kehadiran
para suster PRR bukan hanya menjadi inspirasi, tetapi juga tantangan. Di tengah
dunia yang semakin individualistik, mereka menunjukkan bahwa hidup bisa menjadi
persembahan. Bahwa memberi bukan soal berapa banyak, tetapi seberapa tulus.
Bahwa mencintai Tuhan berarti mencintai sesama—terutama yang paling hina,
seperti dikatakan Yesus dalam Matius 25:40.
Panggilan hidup membiara bukanlah jalan mudah. Ia menuntut
pengorbanan, kesetiaan, dan keberanian untuk mencintai tanpa syarat. Namun,
justru di situlah letak keindahannya. Karena kasih yang sejati selalu menuntut
totalitas.
Mungkin kita tidak semua dipanggil menjadi biarawan atau
biarawati. Namun, kita semua dipanggil untuk mencintai. Untuk melayani. Untuk
memuliakan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Dan seperti para suster PRR, kita pun
bisa berkata: “Jiwaku Memuliakan Tuhan”—bukan hanya dengan kata, tetapi dengan
hidup yang menjadi berkat bagi sesama.
#jiwakumemuliakantuhan #kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #panggilanhidup #pelayanantanpabatas #prr #kasihyangmenggerakkan #imanyanghidup #melayanidengancinta
Terima kasih Mgr. Gabriel Manek, SVD atas peninggalan jasa-jasamu....kami siap melanjutkan misimu...
BalasHapusSalam,
Yuliana Babo - Ibu rumahtangga