Selasa, 15 November 2011

“Jiwaku Memuliakan Tuhan”: Ketika Kasih Menjadi Jalan Hidup

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK - Berbicara tentang panggilan hidup membiara bukanlah soal angka atau statistik. Ini bukan tentang berapa banyak yang terpanggil, tetapi seberapa dalam kasih yang mendorong seseorang untuk memberi—bahkan sampai terasa menyakitkan. Seperti yang pernah ditulis oleh Santa Teresa dari Kalkuta, “Jangan pernah takut untuk memberi. Namun, jangan memberi dari kelebihanmu. Berikanlah saat hal itu sukar bagimu.” Inilah esensi dari persembahan diri yang sejati: kasih yang melampaui kenyamanan.

Semangat inilah yang hidup dalam diri para suster Kongregasi Puteri Renha Rosari (PRR), yang pada Minggu, 6 November 2011, hadir di Paroki St. Paulus Depok. Bukan untuk berkampanye atau mencari panggilan, melainkan untuk menjual kalender 2012 hasil desain sendiri. Hasil penjualan itu akan digunakan untuk mendukung pelayanan bagi penderita kusta di Naub, NTT, serta karya sosial lintas agama di daerah-daerah terpencil seperti Balibo dan Wasior, Papua.

Didirikan pada 15 Agustus 1958 di Lebao, Larantuka, Flores Timur oleh Mgr. Gabriel J.W. Manek, SVD—uskup pribumi pertama dari Indonesia Timur—Kongregasi PRR lahir dari kebutuhan mendesak Gereja lokal akan tenaga pastoral, khususnya bagi kaum miskin dan terpinggirkan. Dengan moto sederhana namun kuat, “Jiwaku Memuliakan Tuhan”, para suster PRR menjadikan pelayanan sebagai bentuk pujian hidup kepada Allah.

Kini, lebih dari setengah abad kemudian, PRR telah berkembang pesat. Dengan lebih dari 400 anggota berkaul kekal, mereka hadir di 31 keuskupan di tiga benua: Asia (Indonesia dan Timor Leste), Eropa (Italia dan Belgia), serta Afrika (Kenya). Namun, semangat mereka tetap sama: melayani tanpa membeda-bedakan.

Sr. Maria Gabriella, PRR, dalam wawancara dengan Komsos, menegaskan bahwa pelayanan mereka tidak mengenal sekat. “Cintailah dan layanilah sesamamu tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama, atau golongan. Karena kalau tidak, kamu tidak akan pernah melihat Allah,” ujarnya. Sebuah pernyataan yang menggugah, sekaligus menjadi cermin bagi kita semua.

Pelayanan PRR tidak hanya terbatas pada bidang pastoral, tetapi juga merambah ke pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Mereka hadir di tempat-tempat yang sering dilupakan, menyentuh mereka yang menderita dan terbuang, dan menjadikan kasih sebagai bahasa universal.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa kehadiran para suster PRR bukan hanya menjadi inspirasi, tetapi juga tantangan. Di tengah dunia yang semakin individualistik, mereka menunjukkan bahwa hidup bisa menjadi persembahan. Bahwa memberi bukan soal berapa banyak, tetapi seberapa tulus. Bahwa mencintai Tuhan berarti mencintai sesama—terutama yang paling hina, seperti dikatakan Yesus dalam Matius 25:40.

Panggilan hidup membiara bukanlah jalan mudah. Ia menuntut pengorbanan, kesetiaan, dan keberanian untuk mencintai tanpa syarat. Namun, justru di situlah letak keindahannya. Karena kasih yang sejati selalu menuntut totalitas.

Mungkin kita tidak semua dipanggil menjadi biarawan atau biarawati. Namun, kita semua dipanggil untuk mencintai. Untuk melayani. Untuk memuliakan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Dan seperti para suster PRR, kita pun bisa berkata: “Jiwaku Memuliakan Tuhan”—bukan hanya dengan kata, tetapi dengan hidup yang menjadi berkat bagi sesama.

 

#jiwakumemuliakantuhan #kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #panggilanhidup #pelayanantanpabatas #prr #kasihyangmenggerakkan #imanyanghidup #melayanidengancinta

1 komentar:

  1. Terima kasih Mgr. Gabriel Manek, SVD atas peninggalan jasa-jasamu....kami siap melanjutkan misimu...


    Salam,
    Yuliana Babo - Ibu rumahtangga

    BalasHapus

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin