Kamis, 17 November 2011

Yesus Kristus Raja Semesta Alam; Ketika Takhta-Nya Adalah Salib, dan Mahkotanya Adalah Kasih

Oleh: RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM. – Pastor Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK - Dalam sejarah manusia, gelar “raja” selalu identik dengan kekuasaan, otoritas, dan warisan darah biru. Raja adalah simbol supremasi, pemegang tongkat komando atas wilayah dan rakyatnya. Namun, ketika kita menyebut Yesus sebagai Raja Semesta Alam, kita sedang berbicara tentang sebuah kekuasaan yang tidak dibangun di atas dominasi, melainkan di atas pengorbanan. Sebuah kerajaan yang tidak dibatasi oleh geografi, tetapi meliputi seluruh ciptaan. Sebuah takhta yang bukan dari emas, melainkan dari kayu salib.

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam bukan sekadar perayaan liturgis penutup tahun gerejawi. Ia adalah momen reflektif yang mengajak kita meninjau ulang pemahaman kita tentang kekuasaan, keadilan, dan kasih.

Injil Matius 25:31–46 menempatkan Yesus sebagai Raja dalam konteks pengadilan terakhir. Namun, berbeda dari pengadilan dunia yang penuh prosedur, pembelaan, dan negosiasi, pengadilan Kristus hanya mengenal satu ukuran: kasih. Bukan gelar, bukan jabatan, bukan jumlah misa yang dihadiri, tetapi seberapa besar kasih yang telah kita bagikan kepada mereka yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit, dan terpenjara.

Yesus tidak menanyakan seberapa sering kita berdoa, tetapi apakah kita memberi makan kepada yang lapar. Ia tidak menanyakan seberapa banyak kita tahu tentang doktrin, tetapi apakah kita menyambut orang asing. Ia tidak menanyakan seberapa besar persembahan kita, tetapi apakah kita mengunjungi yang sakit dan terpenjara.

Dalam pengadilan itu, mereka yang di sebelah kanan adalah yang beroleh hidup kekal. Mereka yang di sebelah kiri, sebaliknya, masuk ke dalam api kekal. Ini bukan ancaman, tetapi peringatan. Bahwa hidup kita hari ini menentukan nasib kekal kita kelak. Dan menariknya, tidak ada pengacara dalam pengadilan itu. Tidak ada pembela. Tidak ada ruang untuk manipulasi. Hanya kasih yang bicara.

Sebagai seorang advokat, saya memahami betul pentingnya pembelaan dalam sistem hukum manusia. Namun di hadapan Sang Raja, tidak ada ruang untuk retorika. Yang ada hanyalah rekaman hidup kita sendiri—seberapa dalam kita telah mengasihi.

St. Fransiskus Asisi pernah berkata bahwa ia melihat wajah Allah dalam diri orang kusta. Ia tidak hanya mengasihi orang miskin, tetapi menghayati kasih itu sebagai bentuk cintanya kepada Yesus yang miskin dan tersalib. Ia tidak memberi dari kelebihan, tetapi dari kekurangannya. Ia tidak mencintai karena mudah, tetapi karena ia telah lebih dahulu dicintai.

Pertanyaannya: mampukah kita melihat wajah Yesus dalam diri mereka yang terpinggirkan? Dalam wajah anak jalanan, dalam tubuh renta yang terbaring di panti jompo, dalam tatapan kosong narapidana yang menyesal?

Sebagai bagian dari kerasulan awam, kita dipanggil untuk menjadi perpanjangan tangan kasih Kristus di dunia. Kita tidak perlu menjadi imam atau biarawan untuk mengasihi. Kita hanya perlu menjadi manusia yang peduli. Menjadi Katolik bukan hanya soal liturgi, tetapi soal aksi. Bukan hanya soal iman, tetapi juga perbuatan.

Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam. Namun Ia memilih menjadi Raja yang melayani, bukan dilayani. Raja yang mencuci kaki murid-murid-Nya. Raja yang memikul salib. Raja yang mati agar kita hidup.

Hari ini, ketika kita merayakan Kristus sebagai Raja, mari kita bertanya: apakah kita telah mengakui-Nya sebagai Raja dalam hidup kita? Apakah kita telah menjadikan kasih sebagai hukum tertinggi? Apakah kita siap diadili bukan berdasarkan status, tetapi berdasarkan kasih?

Sebab pada akhirnya, hanya satu hal yang akan diperhitungkan: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).


#kristusrajasemestaalam #kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #imanyanghidup #kasihyangmenyelamatkan #pengadilanterakhir #yesusadalahraja #berbuatkasihadalahpanggilan #takhtakasihmahkotasalib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin