
Oleh: RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM. – Pastor Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam bukan sekadar perayaan
liturgis penutup tahun gerejawi. Ia adalah momen reflektif yang mengajak kita
meninjau ulang pemahaman kita tentang kekuasaan, keadilan, dan kasih.
Injil Matius 25:31–46 menempatkan Yesus sebagai Raja dalam
konteks pengadilan terakhir. Namun, berbeda dari pengadilan dunia yang penuh
prosedur, pembelaan, dan negosiasi, pengadilan Kristus hanya mengenal satu
ukuran: kasih. Bukan gelar, bukan jabatan, bukan jumlah misa yang dihadiri,
tetapi seberapa besar kasih yang telah kita bagikan kepada mereka yang lapar,
haus, asing, telanjang, sakit, dan terpenjara.
Yesus tidak menanyakan seberapa sering kita berdoa, tetapi
apakah kita memberi makan kepada yang lapar. Ia tidak menanyakan seberapa
banyak kita tahu tentang doktrin, tetapi apakah kita menyambut orang asing. Ia
tidak menanyakan seberapa besar persembahan kita, tetapi apakah kita
mengunjungi yang sakit dan terpenjara.
Dalam pengadilan itu, mereka yang di sebelah kanan adalah
yang beroleh hidup kekal. Mereka yang di sebelah kiri, sebaliknya, masuk ke
dalam api kekal. Ini bukan ancaman, tetapi peringatan. Bahwa hidup kita hari
ini menentukan nasib kekal kita kelak. Dan menariknya, tidak ada pengacara
dalam pengadilan itu. Tidak ada pembela. Tidak ada ruang untuk manipulasi.
Hanya kasih yang bicara.
Sebagai seorang advokat, saya memahami betul pentingnya
pembelaan dalam sistem hukum manusia. Namun di hadapan Sang Raja, tidak ada
ruang untuk retorika. Yang ada hanyalah rekaman hidup kita sendiri—seberapa
dalam kita telah mengasihi.
St. Fransiskus Asisi pernah berkata bahwa ia melihat wajah
Allah dalam diri orang kusta. Ia tidak hanya mengasihi orang miskin, tetapi
menghayati kasih itu sebagai bentuk cintanya kepada Yesus yang miskin dan
tersalib. Ia tidak memberi dari kelebihan, tetapi dari kekurangannya. Ia tidak
mencintai karena mudah, tetapi karena ia telah lebih dahulu dicintai.
Pertanyaannya: mampukah kita melihat wajah Yesus dalam diri
mereka yang terpinggirkan? Dalam wajah anak jalanan, dalam tubuh renta yang
terbaring di panti jompo, dalam tatapan kosong narapidana yang menyesal?
Sebagai bagian dari kerasulan awam, kita dipanggil untuk
menjadi perpanjangan tangan kasih Kristus di dunia. Kita tidak perlu menjadi
imam atau biarawan untuk mengasihi. Kita hanya perlu menjadi manusia yang
peduli. Menjadi Katolik bukan hanya soal liturgi, tetapi soal aksi. Bukan hanya
soal iman, tetapi juga perbuatan.
Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam. Namun Ia memilih
menjadi Raja yang melayani, bukan dilayani. Raja yang mencuci kaki
murid-murid-Nya. Raja yang memikul salib. Raja yang mati agar kita hidup.
Hari ini, ketika kita merayakan Kristus sebagai Raja, mari
kita bertanya: apakah kita telah mengakui-Nya sebagai Raja dalam hidup kita?
Apakah kita telah menjadikan kasih sebagai hukum tertinggi? Apakah kita siap
diadili bukan berdasarkan status, tetapi berdasarkan kasih?
Sebab pada akhirnya, hanya satu hal yang akan
diperhitungkan: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang
paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).
#kristusrajasemestaalam #kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #imanyanghidup #kasihyangmenyelamatkan #pengadilanterakhir #yesusadalahraja #berbuatkasihadalahpanggilan #takhtakasihmahkotasalib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin