
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
Minggu, 19 November 2011, Komisi Keluarga Dekenat Utara
Keuskupan Bogor menyelenggarakan Seminar Kawin Campur di Gereja Katolik St.
Thomas Kelapa Dua, Depok. Mengangkat tema “Bahtera di Tengah Kabut”, seminar
ini menjadi ruang refleksi dan diskusi terbuka bagi umat Katolik yang sedang
atau akan menghadapi realitas perkawinan beda agama.
Dalam sambutannya, Yohanes Handoyo, Ketua Panitia sekaligus
Ketua Seksi Kerasulan Keluarga St. Markus Depok Timur, mengibaratkan rumah
tangga sebagai bahtera yang harus siap menembus kabut. “Kabut pasti ada dalam
perkawinan. Pertanyaannya: apakah kita sudah mempersiapkan bahtera itu dengan
baik?” ujarnya.
Acara ini dihadiri oleh 213 peserta dari enam paroki
se-Dekenat Utara, termasuk 55 pasangan suami istri dan 80 Orang Muda Katolik.
Hadir pula para pastor, di antaranya RD Antonius Dwi Haryanto dan RD Andreas
Bramantyo, serta para pembicara kompeten seperti RP. Andang L. Binawan, SJ, RD
Alfons Sutarno, dan psikolog Dra. Ratih Ibrahim, MM, Psi.
Gereja Katolik tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa
perkawinan campur akan terus terjadi. Namun, Gereja juga tidak tinggal diam.
Dalam dokumen Familiaris Consortio (78), Paus Yohanes Paulus II menegaskan
bahwa perkawinan campur adalah situasi pastoral yang sulit (situazione
irregolare) dan memerlukan perhatian khusus.
RP. Andang L. Binawan, SJ, menyampaikan dengan lugas,
“Pernikahan beda agama akan terjadi konflik besar. Untuk itu, selamat
berjuang.” Sebuah pernyataan yang bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk
menyadarkan bahwa cinta saja tidak cukup. Diperlukan kesiapan iman, komunikasi,
dan komitmen yang matang.
RD Alfons Sutarno menambahkan bahwa sejarah Gereja di Asia
menunjukkan betapa beratnya pergumulan dalam menghadapi perkawinan campur.
“Iman bisa tergerus jika tidak dipersiapkan dengan baik,” tegasnya. Ia mengajak
kaum muda untuk berpikir realistis dan mempertimbangkan dampak jangka panjang
terhadap iman dan keluarga.
Tiga narasumber perempuan—Anastasia Irene, Editha Yuli, dan
Sri Hasnawati—berbagi kisah nyata mereka. Ibu Editha Yuli menyebut
pernikahannya sebagai “yang terburuk dari yang paling buruk.” Sementara Ibu
Anastasia Irene mengaku menyesal karena mengabaikan dampak buruk dari
perkawinan campur dan akhirnya memilih berpisah demi iman dan anak-anaknya.
Namun, tidak semua kisah berakhir pahit. Ibu Sri Hasnawati
justru menemukan kebahagiaan dalam perkawinannya. “Kuncinya adalah doa dan
usaha yang terus-menerus. Dalam pelayanan di gereja dan lingkungan, saya selalu
bersama,” ungkapnya. Kisah ini menunjukkan bahwa meski sulit, bukan tidak
mungkin membangun keluarga lintas iman yang harmonis—asal ada komitmen dan
dukungan komunitas.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa tugas
kita bukan menghakimi, tetapi mendampingi. Gereja harus hadir sebagai ibu yang
bijak—tegas dalam ajaran, tetapi penuh kasih dalam pendekatan. Kita perlu
menciptakan ruang dialog yang jujur dan terbuka, di mana kaum muda bisa
bertanya, berdiskusi, dan menemukan terang dalam kebingungan mereka.
Seminar ini adalah langkah konkret ke arah itu. Ia bukan
solusi instan, tetapi benih kesadaran. Bahwa perkawinan bukan hanya soal cinta,
tetapi juga iman. Bahwa bahtera rumah tangga harus dibangun di atas dasar yang
kokoh, agar mampu menembus kabut zaman.
Perkawinan campur adalah realitas yang tak bisa dihindari.
Namun, Gereja dan umatnya tidak boleh menyerah. Kita harus terus membina,
mendampingi, dan mendoakan. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah
keseragaman, tetapi kesetiaan. Kesetiaan pada iman, pada pasangan, dan pada
Tuhan.
#kawincampur #kerasulankeluarga #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #imandanperkawinan #bahteraditengahkabut #familiarisconsortio #omkberpikirmatang #keluargakatolik #seminarkawincampur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin