Selasa, 06 Desember 2011

Rekoleksi Misdinar; Menyalakan Semangat Pelayanan Sejak Dini

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK
-Dalam dunia yang semakin pragmatis dan serba instan, menemukan anak-anak muda yang bersedia melayani di altar adalah anugerah yang tak ternilai. Mereka bukan hanya pelengkap liturgi, tetapi wajah Gereja yang hidup. Pada Minggu, 6 November 2011, sebanyak 75 misdinar dari Paroki Santo Paulus dan Santo Matius Depok Tengah berkumpul dalam sebuah rekoleksi bersama di Novisiat Transitus Depok. Sebuah momentum yang bukan hanya membekali, tetapi juga menyegarkan kembali semangat pelayanan mereka.

Rekoleksi yang berlangsung dari pukul 11.00 hingga 15.00 WIB ini dipandu oleh tiga frater OFM: Frater Leon, Frater Edu, dan Frater Epa. Kegiatan diawali dengan doa pembuka dan sesi perkenalan yang hangat. Para peserta dibagi ke dalam tujuh kelompok kecil, masing-masing dinamai dengan nama binatang peliharaan—sebuah pendekatan kreatif untuk membangun keakraban dan dinamika kelompok.

Sesi pertama yang dipandu Frater Leon membahas secara mendalam tentang siapa itu misdinar dan apa tugasnya. Bukan sekadar mengenakan jubah dan membawa lilin, tetapi menjadi pelayan altar yang memahami makna liturgi dan spiritualitasnya. Sesi ini diselingi dengan tanya jawab dan permainan interaktif yang dipandu Frater Epa, menciptakan suasana yang hidup dan menyenangkan.

Setelah doa Angelus dan makan siang bersama, sesi kedua dimulai dengan nyanyian dan permainan yang kembali membangkitkan semangat. Frater Leon kemudian melanjutkan dengan materi tentang spiritualitas misdinar. Ia menekankan bahwa pelayanan di altar bukan sekadar rutinitas, tetapi panggilan untuk menghadirkan Kristus dalam tindakan sederhana.

Materi tentang “pirus misdinar”—nilai-nilai dasar yang harus dimiliki seorang pelayan altar—juga dibahas. Di antaranya: kesetiaan, tanggung jawab, kerendahan hati, dan semangat pengorbanan. Para peserta diajak untuk merenungkan kembali motivasi mereka melayani dan bagaimana mereka dapat menjadi teladan di tengah komunitas.

Menjelang akhir kegiatan, perwakilan dari kedua paroki menyampaikan kesan dan pesan. Suara-suara yang muncul mencerminkan kegembiraan, rasa syukur, dan harapan agar kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut. Rekoleksi ini bukan hanya mempererat persaudaraan antar misdinar, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka akan tugas suci yang mereka emban.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa kegiatan seperti ini adalah investasi jangka panjang Gereja. Misdinar bukan hanya pelayan altar, tetapi calon-calon pemimpin umat, pewarta, bahkan mungkin imam dan biarawan di masa depan. Mereka perlu dibina, didampingi, dan diberi ruang untuk bertumbuh dalam iman dan pelayanan.

Rekoleksi ini adalah bukti bahwa Gereja tidak tinggal diam. Ia hadir, membina, dan menumbuhkan. Ia menanam benih-benih panggilan dalam hati anak-anak muda yang bersedia berkata “ya” kepada Tuhan, bahkan dalam hal-hal kecil.

Kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya rekoleksi ini—para frater, panitia, orang tua, dan para pendamping—kami ucapkan terima kasih. Semoga semangat pelayanan yang telah ditanam hari ini terus tumbuh dan berbuah dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

Karena di sekitar altar, bukan hanya lilin yang menyala. Tetapi juga hati yang terbakar oleh kasih dan semangat untuk melayani.

 

#rekoleksimisdinar #pelayanaltar #kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #imanyanghidup #melayanidengansukacita #misdinarstpaulus #misdinarstmatius #semangatpelayanansejakdini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin