
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK -Dalam dunia yang semakin pragmatis
dan serba instan, menemukan anak-anak muda yang bersedia melayani di altar
adalah anugerah yang tak ternilai. Mereka bukan hanya pelengkap liturgi, tetapi
wajah Gereja yang hidup. Pada Minggu, 6 November 2011, sebanyak 75 misdinar
dari Paroki Santo Paulus dan Santo Matius Depok Tengah berkumpul dalam sebuah
rekoleksi bersama di Novisiat Transitus Depok. Sebuah momentum yang bukan hanya
membekali, tetapi juga menyegarkan kembali semangat pelayanan mereka.
Rekoleksi yang berlangsung dari pukul 11.00 hingga 15.00 WIB
ini dipandu oleh tiga frater OFM: Frater Leon, Frater Edu, dan Frater Epa.
Kegiatan diawali dengan doa pembuka dan sesi perkenalan yang hangat. Para
peserta dibagi ke dalam tujuh kelompok kecil, masing-masing dinamai dengan nama
binatang peliharaan—sebuah pendekatan kreatif untuk membangun keakraban dan
dinamika kelompok.
Sesi pertama yang dipandu Frater Leon membahas secara
mendalam tentang siapa itu misdinar dan apa tugasnya. Bukan sekadar mengenakan
jubah dan membawa lilin, tetapi menjadi pelayan altar yang memahami makna
liturgi dan spiritualitasnya. Sesi ini diselingi dengan tanya jawab dan
permainan interaktif yang dipandu Frater Epa, menciptakan suasana yang hidup
dan menyenangkan.
Setelah doa Angelus dan makan siang bersama, sesi kedua
dimulai dengan nyanyian dan permainan yang kembali membangkitkan semangat.
Frater Leon kemudian melanjutkan dengan materi tentang spiritualitas misdinar.
Ia menekankan bahwa pelayanan di altar bukan sekadar rutinitas, tetapi
panggilan untuk menghadirkan Kristus dalam tindakan sederhana.
Materi tentang “pirus misdinar”—nilai-nilai dasar yang harus
dimiliki seorang pelayan altar—juga dibahas. Di antaranya: kesetiaan, tanggung jawab,
kerendahan hati, dan semangat pengorbanan. Para peserta diajak untuk
merenungkan kembali motivasi mereka melayani dan bagaimana mereka dapat menjadi
teladan di tengah komunitas.
Menjelang akhir kegiatan, perwakilan dari kedua paroki
menyampaikan kesan dan pesan. Suara-suara yang muncul mencerminkan kegembiraan,
rasa syukur, dan harapan agar kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut.
Rekoleksi ini bukan hanya mempererat persaudaraan antar misdinar, tetapi juga
memperdalam pemahaman mereka akan tugas suci yang mereka emban.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa kegiatan
seperti ini adalah investasi jangka panjang Gereja. Misdinar bukan hanya
pelayan altar, tetapi calon-calon pemimpin umat, pewarta, bahkan mungkin imam
dan biarawan di masa depan. Mereka perlu dibina, didampingi, dan diberi ruang
untuk bertumbuh dalam iman dan pelayanan.
Rekoleksi ini adalah bukti bahwa Gereja tidak tinggal diam.
Ia hadir, membina, dan menumbuhkan. Ia menanam benih-benih panggilan dalam hati
anak-anak muda yang bersedia berkata “ya” kepada Tuhan, bahkan dalam hal-hal
kecil.
Kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya
rekoleksi ini—para frater, panitia, orang tua, dan para pendamping—kami ucapkan
terima kasih. Semoga semangat pelayanan yang telah ditanam hari ini terus
tumbuh dan berbuah dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.
Karena di sekitar altar, bukan hanya lilin yang menyala.
Tetapi juga hati yang terbakar oleh kasih dan semangat untuk melayani.
#rekoleksimisdinar #pelayanaltar
#kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #imanyanghidup
#melayanidengansukacita #misdinarstpaulus #misdinarstmatius #semangatpelayanansejakdini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin