
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK - Minggu pagi, 20 November 2011, menjadi hari
yang penuh sukacita dan haru bagi keluarga besar Paroki St. Paulus Depok. Dalam
Misa kedua pukul 08.00 WIB, sebanyak 28 anak dilantik menjadi Misdinar baru oleh
Pastor Paroki, Pater Tauchen Hotlan Girsang, OFM. Mereka adalah wajah-wajah
muda yang telah melewati proses pembinaan dan pelatihan selama lima
bulan—sebuah proses panjang yang menuntut komitmen, kedisiplinan, dan semangat
pelayanan.
Dari sekitar 40 anak yang mendaftar, hanya 28 yang bertahan
hingga akhir. Ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari proses pemurnian
niat dan ketekunan. Dalam dunia yang serba instan, kesediaan anak-anak ini
untuk bertumbuh dalam pelayanan adalah tanda harapan bagi Gereja.
Misa pagi itu diawali dengan perarakan dari halaman gereja.
Para calon misdinar mengenakan jubah merah, didampingi oleh misdinar senior
seperti Michael dan Selvi. Suasana liturgi menjadi lebih hidup, bukan hanya
karena warna-warni jubah, tetapi karena semangat yang terpancar dari
wajah-wajah muda yang siap melayani.
Dalam homilinya, Pastor Tauchen menyampaikan pesan yang
menyentuh dan membumi. “Para misdinar yang dilantik tahun ini kecil-kecil. Tapi
semoga semangat pelayanannya sangat besar, tidak sekecil badannya,” ujarnya
disambut senyum hangat umat. Ia juga menyinggung tantangan geografis yang
dihadapi anak-anak yang tinggal di Citayam. “Kalau bertugas pukul 06.00, mereka
harus berangkat jam 05.00 karena macet. Ini pengorbanan yang luar biasa.”
Pastor Tauchen tak lupa menyampaikan terima kasih kepada
para orang tua. “Tanpa dukungan mereka, Perayaan Ekaristi tidak bisa berjalan
dengan baik,” katanya. Pernyataan ini bukan basa-basi. Dalam kerasulan awam,
keluarga adalah ladang pertama tempat iman ditanam dan tumbuh. Ketika orang tua
mendukung anaknya menjadi misdinar, mereka sedang menanam benih pelayanan yang
akan tumbuh menjadi pohon panggilan hidup.
Menjadi misdinar bukan sekadar tugas liturgis. Ia adalah
sekolah pelayanan. Di sekitar altar, anak-anak belajar tentang disiplin,
tanggung jawab, dan spiritualitas. Mereka belajar bahwa melayani bukan soal
dilihat, tetapi soal memberi. Bahwa altar bukan panggung, tetapi tempat
perjumpaan dengan Kristus.
Setelah misa, para misdinar baru mengikuti sesi perkenalan
dan dinamika kelompok. Acara ditutup dengan makan siang bersama—sebuah momen
sederhana yang mempererat persaudaraan dan semangat kolegialitas.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa
pelantikan misdinar bukan hanya seremoni tahunan. Ia adalah pernyataan iman.
Bahwa Gereja tidak pernah kehabisan pelayan. Bahwa di tengah dunia yang sibuk
dan bising, masih ada anak-anak yang mau bangun pagi, mengenakan jubah, dan
berdiri di sekitar altar.
Proficiat kepada para misdinar baru Paroki St. Paulus Depok.
Semoga kalian menjadi lilin-lilin kecil yang menerangi dunia dengan semangat
pelayanan dan kasih Kristus.
#misdinarstpaulusdepok
#kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #imanyanghidup
#pelayanansejakdini #anakanakpelayanaltar #semangatliturgi
#proficiatmisdinarbaru #menjadiberkat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin