
Oleh: RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM. – Pastor Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK - Injil Lukas membuka kisah kelahiran Yesus
dengan narasi yang menggugah: para gembala, kaum sederhana yang hidup di
pinggiran masyarakat, menjadi penerima pertama kabar kelahiran Sang Juru
Selamat. Mereka tidak menunda. Mereka tidak menimbang untung rugi. Mereka
bergegas menuju Betlehem, meninggalkan kawanan domba demi menyambut kelahiran
Yesus. Perjumpaan itu mengubah segalanya. Mereka melihat, mendengar, dan
mengalami kebenaran. Dan kebenaran itu membuat mereka pulang sambil memuji
Allah.
Para gembala menjadi pewarta pertama. Mereka menggantikan
tugas malaikat, menyampaikan kabar keselamatan kepada dunia. Mereka tidak
membawa teori, tetapi kesaksian hidup. Mereka tidak menyebar opini, tetapi
kebenaran yang telah mereka alami sendiri.
Hari ini, kita hidup dalam zaman yang berbeda. Dunia digital
menawarkan kemudahan, tetapi juga jebakan. Informasi menyebar dalam hitungan
detik, namun kebenaran sering kali terkubur di bawah tumpukan hoaks,
manipulasi, dan sensasi. Kita menyaksikan betapa sulitnya mengungkap kebenaran
dalam kasus korupsi, kekerasan, atau sengketa hukum. Bahkan dalam hal-hal
sepele, kepalsuan kerap menjadi pilihan yang lebih aman.
Kita hidup dalam masyarakat yang terbiasa menyelamatkan diri
dengan kebohongan. Kita membungkus kebusukan dengan senyum manis,
menyembunyikan dusta di balik kata-kata manis. Kita menjadi bagian dari mata
rantai kepalsuan: menyukai berita palsu, menyebarkannya, dan menjadikannya alat
pembenaran.
Natal bukan sekadar perayaan liturgis. Ia adalah undangan
untuk bertemu dengan Yesus, Sang Kebenaran. Tanpa perjumpaan itu, mustahil kita
memiliki keberanian untuk memilih kebenaran di tengah dunia yang lebih menyukai
kebohongan. Seperti para gembala, kita dipanggil untuk menjadi saksi dan
pembawa kabar baik.
Kita diajak untuk berani meninggalkan zona nyaman,
meninggalkan kepalsuan yang menenangkan, dan memilih kebenaran yang
membebaskan. Kita diajak untuk menjadi gembala zaman ini—mereka yang berani
bergegas, menyambut Yesus, dan mewartakan kasih-Nya kepada dunia.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya menyaksikan bagaimana
komunitas-komunitas Katolik bergerak dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan.
Mereka hadir di tengah masyarakat, mendampingi korban ketidakadilan,
memberdayakan ekonomi umat, dan menjadi suara bagi yang tak bersuara.
Kebenaran bukan hanya soal kata-kata, tetapi tindakan nyata.
Ketika umat Katolik terlibat dalam advokasi hukum, pendampingan sosial, dan
pemberdayaan ekonomi, mereka sedang mewartakan kasih Allah. Mereka menjadi
terang di tengah kegelapan, menjadi gembala yang membawa kabar baik.
Konferensi Waligereja Indonesia dalam pesan Natal 2011
menggarisbawahi empat sikap yang relevan hingga kini:
- Sederhana
dan bersahaja – Meneladani Yesus yang lahir
di kandang, mengosongkan diri-Nya demi manusia.
- Rajin
dan giat – Seperti para gembala yang
cepat-cepat menjumpai Yesus.
- Tanpa
diskriminasi – Menerima siapa pun seperti
para Majus dari Timur diterima oleh Kanak-kanak Yesus.
- Tidak
separatis – Menghayati ajaran Yesus
bahwa siapa pun yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.
Empat sikap ini menjadi fondasi kerasulan awam dalam
mewartakan kasih dan kebenaran Allah di tengah masyarakat.
Perayaan Natal adalah saat di mana kita berharap boleh
merayakan terkuaknya kebenaran sejati yang dibawa oleh Yesus sendiri. Semoga
kelahiran Yesus menjadi pijakan bagi paroki dan komunitas kita untuk berjalan
di dalam kebenaran, walau di sekeliling kita masih ada gurita kepalsuan.
Mari kita menjadi gembala zaman ini. Mari kita bergegas,
menjumpai Yesus, dan membawa terang-Nya ke tengah dunia. Sebab hanya dalam Dia,
Sang Kebenaran, kita menemukan keselamatan, damai, dan kasih sejati. Tuhan
Yesus memberkati.
#kebenarannatal #kerasulanawamkatolik #gembalazamanini
#mewartakasihallah #nataldalamaksi #imandankeadilan #beraniuntukbenar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin