Selasa, 03 Januari 2012

Menjadi Gembala di Zaman Digital; Mewartakan Kebenaran dalam Gurita Kepalsuan

Oleh: RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM. – Pastor Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK
- Injil Lukas membuka kisah kelahiran Yesus dengan narasi yang menggugah: para gembala, kaum sederhana yang hidup di pinggiran masyarakat, menjadi penerima pertama kabar kelahiran Sang Juru Selamat. Mereka tidak menunda. Mereka tidak menimbang untung rugi. Mereka bergegas menuju Betlehem, meninggalkan kawanan domba demi menyambut kelahiran Yesus. Perjumpaan itu mengubah segalanya. Mereka melihat, mendengar, dan mengalami kebenaran. Dan kebenaran itu membuat mereka pulang sambil memuji Allah.

Para gembala menjadi pewarta pertama. Mereka menggantikan tugas malaikat, menyampaikan kabar keselamatan kepada dunia. Mereka tidak membawa teori, tetapi kesaksian hidup. Mereka tidak menyebar opini, tetapi kebenaran yang telah mereka alami sendiri.

Hari ini, kita hidup dalam zaman yang berbeda. Dunia digital menawarkan kemudahan, tetapi juga jebakan. Informasi menyebar dalam hitungan detik, namun kebenaran sering kali terkubur di bawah tumpukan hoaks, manipulasi, dan sensasi. Kita menyaksikan betapa sulitnya mengungkap kebenaran dalam kasus korupsi, kekerasan, atau sengketa hukum. Bahkan dalam hal-hal sepele, kepalsuan kerap menjadi pilihan yang lebih aman.

Kita hidup dalam masyarakat yang terbiasa menyelamatkan diri dengan kebohongan. Kita membungkus kebusukan dengan senyum manis, menyembunyikan dusta di balik kata-kata manis. Kita menjadi bagian dari mata rantai kepalsuan: menyukai berita palsu, menyebarkannya, dan menjadikannya alat pembenaran.

Natal bukan sekadar perayaan liturgis. Ia adalah undangan untuk bertemu dengan Yesus, Sang Kebenaran. Tanpa perjumpaan itu, mustahil kita memiliki keberanian untuk memilih kebenaran di tengah dunia yang lebih menyukai kebohongan. Seperti para gembala, kita dipanggil untuk menjadi saksi dan pembawa kabar baik.

Kita diajak untuk berani meninggalkan zona nyaman, meninggalkan kepalsuan yang menenangkan, dan memilih kebenaran yang membebaskan. Kita diajak untuk menjadi gembala zaman ini—mereka yang berani bergegas, menyambut Yesus, dan mewartakan kasih-Nya kepada dunia.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya menyaksikan bagaimana komunitas-komunitas Katolik bergerak dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan. Mereka hadir di tengah masyarakat, mendampingi korban ketidakadilan, memberdayakan ekonomi umat, dan menjadi suara bagi yang tak bersuara.

Kebenaran bukan hanya soal kata-kata, tetapi tindakan nyata. Ketika umat Katolik terlibat dalam advokasi hukum, pendampingan sosial, dan pemberdayaan ekonomi, mereka sedang mewartakan kasih Allah. Mereka menjadi terang di tengah kegelapan, menjadi gembala yang membawa kabar baik.

Konferensi Waligereja Indonesia dalam pesan Natal 2011 menggarisbawahi empat sikap yang relevan hingga kini:

  1. Sederhana dan bersahaja – Meneladani Yesus yang lahir di kandang, mengosongkan diri-Nya demi manusia.
  2. Rajin dan giat – Seperti para gembala yang cepat-cepat menjumpai Yesus.
  3. Tanpa diskriminasi – Menerima siapa pun seperti para Majus dari Timur diterima oleh Kanak-kanak Yesus.
  4. Tidak separatis – Menghayati ajaran Yesus bahwa siapa pun yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

Empat sikap ini menjadi fondasi kerasulan awam dalam mewartakan kasih dan kebenaran Allah di tengah masyarakat.

Perayaan Natal adalah saat di mana kita berharap boleh merayakan terkuaknya kebenaran sejati yang dibawa oleh Yesus sendiri. Semoga kelahiran Yesus menjadi pijakan bagi paroki dan komunitas kita untuk berjalan di dalam kebenaran, walau di sekeliling kita masih ada gurita kepalsuan.

Mari kita menjadi gembala zaman ini. Mari kita bergegas, menjumpai Yesus, dan membawa terang-Nya ke tengah dunia. Sebab hanya dalam Dia, Sang Kebenaran, kita menemukan keselamatan, damai, dan kasih sejati. Tuhan Yesus memberkati.

 

#kebenarannatal #kerasulanawamkatolik #gembalazamanini #mewartakasihallah #nataldalamaksi #imandankeadilan #beraniuntukbenar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin