Selasa, 03 Januari 2012

Natal Tanpa Sang Tamu; Ketika Palungan Kosong di Tengah Kemeriahan

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK
- Setiap tahun, menjelang Natal, kita disibukkan oleh satu pertanyaan yang terdengar sederhana namun sarat makna: “Apa yang kita siapkan untuk menyambut kelahiran Yesus?” Pertanyaan ini, meski sering diucapkan, jarang benar-benar direnungkan secara mendalam. Kita menjawabnya dengan spontan: pohon Natal yang indah, lampu kelap-kelip, kado-kado, makanan lezat, liburan keluarga, dan pesta yang meriah. Semua itu sah-sah saja. Namun, apakah Yesus yang kita rayakan turut hadir dan berkenan atas semua kemeriahan itu?

Sebuah kisah sederhana yang pernah saya baca di sebuah media mengajak kita untuk merenung lebih dalam. Kisah ini bukan hanya menyentuh, tetapi juga menampar kesadaran kita sebagai umat beriman.

Diceritakan, sebuah keluarga mengadakan pesta Natal yang megah. Rumah dihias dengan gemerlap, meja dipenuhi makanan dan minuman, musik mengalun, tawa dan nyanyian menggema. Namun di tengah pesta itu, seorang asing berpakaian sederhana mengetuk pintu. Ia mengetuk berkali-kali, namun tak kunjung dibukakan karena semua orang sibuk dalam euforia perayaan.

Akhirnya, sang tuan rumah membukakan pintu. Melihat penampilan orang asing itu, ia menolak dengan halus namun tegas. “Maaf, pesta ini hanya untuk keluarga dan teman dekat,” katanya. Orang asing itu pun pergi dengan sedih, menatap pesta dari balik jendela, lalu berbisik dalam hati: “Mengapa mereka merayakan kelahiran-Ku, tapi Aku justru tidak diperbolehkan hadir?”

Kisah ini, meski fiktif, mencerminkan realitas yang sering terjadi. Kita merayakan Natal dengan gegap gempita, namun melupakan Sang Pemilik Pesta. Kita menghias palungan, tapi lupa mengundang Sang Bayi Kudus untuk bersemayam di dalamnya.

Sebagai umat Katolik, kita diajak untuk tidak berhenti pada simbol-simbol lahiriah. Natal bukan sekadar ornamen, lagu, atau pesta. Natal adalah perayaan inkarnasi—Allah yang menjadi manusia, hadir dalam kesederhanaan, dalam palungan, dalam keheningan malam, dalam keluarga kecil yang miskin namun penuh kasih.

Yesus tidak lahir di istana, tetapi di kandang. Ia tidak disambut oleh para bangsawan, tetapi oleh para gembala. Maka, menyambut Natal berarti menyiapkan hati yang sederhana, terbuka, dan penuh kasih. Bukan hati yang sibuk dengan kemewahan, tetapi hati yang siap menjadi palungan tempat Sang Juru Selamat bersemayam.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa tugas kita bukan hanya merayakan Natal, tetapi menghadirkan Kristus dalam kehidupan nyata. Kita dipanggil untuk menjadi palungan hidup—tempat di mana kasih Allah menjelma dalam tindakan nyata: memberi makan yang lapar, mengunjungi yang sakit, menyapa yang kesepian, dan menghibur yang berduka.

Natal bukan hanya tentang mengenang kelahiran Yesus dua ribu tahun lalu. Natal adalah tentang membiarkan Yesus lahir kembali hari ini—di hati kita, di keluarga kita, di komunitas kita, dan di dunia yang sedang terluka.

Maka, pertanyaannya bukan lagi “Apa yang kita siapkan untuk Natal?” tetapi “Untuk siapa kita menyiapkan semua ini?” Apakah Yesus sungguh hadir dalam pesta kita? Apakah kita menyediakan ruang bagi-Nya, atau justru menutup pintu karena terlalu sibuk dengan kemeriahan?

Mari kita siapkan hati kita, bukan hanya rumah kita. Mari kita undang Yesus, bukan hanya tamu-tamu. Mari kita hadirkan kasih, bukan hanya kemewahan. Sebab hadiah terindah bagi Yesus bukanlah kado mahal, tetapi hati yang terbuka dan hidup yang dipersembahkan bagi sesama.

 

#natalbersamakristus #kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #imanyanghidup #yesusdipalunganhati #maknanatalsejati #undangyesusmasuk #nataluntuksesama #hidupsebagaipalungan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin