
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK - Setiap tahun, menjelang Natal, kita disibukkan
oleh satu pertanyaan yang terdengar sederhana namun sarat makna: “Apa yang kita
siapkan untuk menyambut kelahiran Yesus?” Pertanyaan ini, meski sering
diucapkan, jarang benar-benar direnungkan secara mendalam. Kita menjawabnya
dengan spontan: pohon Natal yang indah, lampu kelap-kelip, kado-kado, makanan
lezat, liburan keluarga, dan pesta yang meriah. Semua itu sah-sah saja. Namun,
apakah Yesus yang kita rayakan turut hadir dan berkenan atas semua kemeriahan
itu?
Sebuah kisah sederhana yang pernah saya baca di sebuah media
mengajak kita untuk merenung lebih dalam. Kisah ini bukan hanya menyentuh,
tetapi juga menampar kesadaran kita sebagai umat beriman.
Diceritakan, sebuah keluarga mengadakan pesta Natal yang
megah. Rumah dihias dengan gemerlap, meja dipenuhi makanan dan minuman, musik
mengalun, tawa dan nyanyian menggema. Namun di tengah pesta itu, seorang asing
berpakaian sederhana mengetuk pintu. Ia mengetuk berkali-kali, namun tak
kunjung dibukakan karena semua orang sibuk dalam euforia perayaan.
Akhirnya, sang tuan rumah membukakan pintu. Melihat
penampilan orang asing itu, ia menolak dengan halus namun tegas. “Maaf, pesta
ini hanya untuk keluarga dan teman dekat,” katanya. Orang asing itu pun pergi
dengan sedih, menatap pesta dari balik jendela, lalu berbisik dalam hati:
“Mengapa mereka merayakan kelahiran-Ku, tapi Aku justru tidak diperbolehkan
hadir?”
Kisah ini, meski fiktif, mencerminkan realitas yang sering
terjadi. Kita merayakan Natal dengan gegap gempita, namun melupakan Sang
Pemilik Pesta. Kita menghias palungan, tapi lupa mengundang Sang Bayi Kudus
untuk bersemayam di dalamnya.
Sebagai umat Katolik, kita diajak untuk tidak berhenti pada
simbol-simbol lahiriah. Natal bukan sekadar ornamen, lagu, atau pesta. Natal
adalah perayaan inkarnasi—Allah yang menjadi manusia, hadir dalam
kesederhanaan, dalam palungan, dalam keheningan malam, dalam keluarga kecil
yang miskin namun penuh kasih.
Yesus tidak lahir di istana, tetapi di kandang. Ia tidak
disambut oleh para bangsawan, tetapi oleh para gembala. Maka, menyambut Natal
berarti menyiapkan hati yang sederhana, terbuka, dan penuh kasih. Bukan hati
yang sibuk dengan kemewahan, tetapi hati yang siap menjadi palungan tempat Sang
Juru Selamat bersemayam.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa tugas
kita bukan hanya merayakan Natal, tetapi menghadirkan Kristus dalam kehidupan
nyata. Kita dipanggil untuk menjadi palungan hidup—tempat di mana kasih Allah
menjelma dalam tindakan nyata: memberi makan yang lapar, mengunjungi yang
sakit, menyapa yang kesepian, dan menghibur yang berduka.
Natal bukan hanya tentang mengenang kelahiran Yesus dua ribu
tahun lalu. Natal adalah tentang membiarkan Yesus lahir kembali hari ini—di
hati kita, di keluarga kita, di komunitas kita, dan di dunia yang sedang
terluka.
Maka, pertanyaannya bukan lagi “Apa yang kita siapkan untuk
Natal?” tetapi “Untuk siapa kita menyiapkan semua ini?” Apakah Yesus sungguh
hadir dalam pesta kita? Apakah kita menyediakan ruang bagi-Nya, atau justru
menutup pintu karena terlalu sibuk dengan kemeriahan?
Mari kita siapkan hati kita, bukan hanya rumah kita. Mari
kita undang Yesus, bukan hanya tamu-tamu. Mari kita hadirkan kasih, bukan hanya
kemewahan. Sebab hadiah terindah bagi Yesus bukanlah kado mahal, tetapi hati
yang terbuka dan hidup yang dipersembahkan bagi sesama.
#natalbersamakristus
#kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #imanyanghidup
#yesusdipalunganhati #maknanatalsejati #undangyesusmasuk #nataluntuksesama
#hidupsebagaipalungan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin