Rabu, 11 April 2012

BATU YANG SANGAT BESAR ITU SUDAH TERGULING

Oleh: Pastor Tauchen Hotlan Girsang, OFM
Saudara sekalian, pertama-tama saya ucapkan: Selamat Paskah! Kita bahagia disatukan dalam sukacita kebangkitan Tuhan. Suatu kemenangan atas kuasa dosa dan maut. Dimana Yesus telah tampil dalam rupa mulia terlepas dari kemanusiaan dunia ini. Suatu tanda bahwa hidup lebih kuat daripada kematian, kasih lebih kuat daripada kebencian, rahmat lebih kuat daripada dosa.
Hidup di zaman ini tentu memerlukan iman yang kuat, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna. Kita mesti memiliki keyakinan dan kekuatan lebih untuk menghadapi berbagai problema kehidupan. Sebab, kita sudah cukup banyak dihantui oleh ketakutan dan ketakpercayaan pada orang lain. Suatu situasi dimana banyak manusia terjerat dalam dosa sosial. Untuk semacam gambaran saja. Ketika kita membayar pajak, ada saja oknum yang menggelapkan pajak. Ketika kita menabung di bank, ada juga oknum yang menyalahgunakannya. Kita berharap pada Parpol, ternyata mereka hanya mementingkan dirinya dan selalu bermuka banyak. Ketika berperkara, kita juga temukan oknum yang berupaya merekayasa dan memanipulasinya. Bahkan di saat berkendara atau berjalan kaki sekalipun ada-ada saja kekerasan dan bahaya maut mengancam kita. Keadaan dosa sosial semacam ini mengajak kita untuk bertanya: masihkah Tuhan bisa dikenal dan dialami ?
Mungkin saja semua problema seperti ini ibarat batu yang sangat besar. Batu yang sedang menutup pintu kubur di mana Tuhan berbaring. Kita sulit untuk menembusnya. Kita tidak bisa melihat Tuhan ada di dalam. Kita hanya bisa meratap dan menangis. Kita tak memiliki kekuatan yang cukup menggulingkannya. Dalam hati kita berharap mendapatkan kekuatan extra. Dimanakah kita mendapatkan kekuatan extra? Kekuatan extra didapatkan rupanya bukan dengan melarikan diri dari keadaan berdosa ini atau yang disebut dengan fuga mundi. Melainkan sebaliknya. Kita perlu mendekati “batu yang sangat besar” tersebut. Kuasa Allah bekerja justru pada saat kita berdamai dengan dukacita hidup. Sebab, daripadanya akan lahir kehidupan mulia.
Jika kita menyimak peristiwa kebangkitan Yesus, nampaklah bagi kita bahwa Allah menggulingkan batu yang sangat besar itu. Para wanita yang hendak menaburkan rempah-rempah di makam Yesus betul-betul terkejut dan heran ketika di depan mata mereka terjadi sesuatu yang melampaui nalar manusia. Nalar tak berfungsi ketika berhadapan dengan kuasa Tuhan. Dia dialami dan dikenali bukan dengan nalar. Dia dikenali melalui kesaksian hidup. “Pergilah dan katakanlah bahwa Yesus dari Nazaret sudah bangkit!” kata Kitab Suci.   
Kita akhirnya dihantar pada kesadaran bahwa letak masalahnya bukan pada batu yang sangat besar. Bukan pula pada siapa yang akan menggulingkan batu itu. Melainkan siapa yang mau mendekati batu yang besar. Siapa? Ketika kita bertanya “Siapa?”, banyak orang yang takut mendekat. Banyak orang lebih memilih menjauh dan menghindar. Banyak orang lebih memilih tak mau ikut campur. Banyak orang mencari selamat sendiri. Banyak orang takut memberi kesaksian. Banyak orang tidak berani berbicara melalui perbuatan nyata. Banyak orang sulit memberikan pembuktian bahwa dia mengalami Tuhan yang bangkit.
Mari kita bertanya pada diri kita. Apakah masih ada di antara kita yang menyerap semangat para wanita yang pergi ke kubur Yesus seperti dilukiskan dalam Injil Markus 16: 1-8? Mereka mendekat dan dipilih menjadi saksi atas kebenaran walau kemudian perasaan mereka begitu bercampur, antara takut dan gembira, antara percaya dan tak percaya, antara nyata dan tak nyata. Tetapi, kehadiran mereka telah memastikan bahwa kebangkitan itu ada.
Dengan demikian, ketika kita berani memberi kesaksian hidup di tengah masyarakat yang terjerat dalam dosa sosial, pada saat itulah melalui kita Tuhan dikenali dan dialami. Pada saat itu pulalah kita mendapatkan kekuatan extra. Sebab, bukan kita yang bekerja, melainkan Tuhanlah yang bekerja untuk kita. Ketika berhadapan dengan orang yang berdusta, hadirlah sebagai orang jujur. Ketika berada di tengah masyarakat yang sulit melayani, hadirlah sebagai pelayan. Ketika berhadapan dengan orang yang korupsi, hadirlah sebagai orang yang dapat dipercaya. Ketika berhadapan dengan orang yang sedang berada dalam kesulitan, hadirlah sebagai teman. Ketika orang lain pergi karena kecewa, hadirlah sebagai orang setia dan tulus. Melalui tindakan-tindakan semacam inilah kita bersaksi. Dan disanalah orang mengalami dan mengenali Tuhan yang memberikan kekuatan kepada kita. Kitalah yang menjadi saksi bahwa batu yang besar itu sudah terguling. Tuhan Yesus yang bangkit memberkati. Selamat Paskah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin