![]() |
Kini, di tengah zaman yang semakin kompleks, Gereja tidak
tinggal diam. Ia membuka diri, membenahi diri, dan terus-menerus memperbarui
diri dalam terang Roh Kudus.
Pembaruan Gereja bukanlah sekadar adaptasi terhadap zaman,
melainkan panggilan untuk kembali ke akar: mencintai sakramen, terutama
Sakramen Tobat dan Ekaristi. Di sinilah umat disucikan, dipulihkan, dan
dikuatkan. Bersamaan dengan itu, Gereja mengajak umat untuk hidup dalam
buah-buah Roh seperti yang tertulis dalam Galatia 5:22–23: kasih, sukacita,
damai, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan
penguasaan diri.
Nilai-nilai ini bukan sekadar idealisme, tetapi fondasi
hidup Kristiani yang harus dihidupi dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat.
Dalam peristiwa Pentakosta, para rasul berbicara dalam
berbagai bahasa, namun semua orang mengerti. Ini bukan sekadar mukjizat
linguistik, tetapi tanda bahwa kasih Allah melampaui batas budaya dan bahasa.
Bahasa Roh adalah bahasa kasih—bahasa yang menyentuh hati, membarui hidup, dan
menyatukan umat.
Roh Kudus tidak hadir dalam retorika kosong atau bahasa yang
sulit dimengerti. Ia hadir dalam tindakan nyata: dalam pengampunan, dalam
pelayanan, dalam solidaritas. Ia adalah jembatan antara Allah dan manusia,
antara sesama yang berbeda.
Yesus menjanjikan Roh Kudus sebagai Penghibur dan Roh
Kebenaran. Ia tidak memaksa, tetapi membimbing. Ia tidak menghakimi, tetapi
mengarahkan. Peran Roh Kudus adalah membawa umat kepada kebenaran sejati—bukan
kebenaran versi dunia, tetapi kebenaran yang membebaskan dan menyelamatkan.
Namun, apakah kita memberi ruang bagi-Nya? Apakah kita
membuka hati untuk dibimbing, dikoreksi, dan dibarui?
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya menyaksikan bagaimana
Roh Kudus bekerja dalam kehidupan umat. Dalam pelayanan sosial, advokasi hukum,
pemberdayaan ekonomi, dan pendampingan masyarakat, Roh Kudus hadir sebagai
kekuatan yang menyatukan dan menggerakkan. Gereja bukan hanya milik para klerus,
tetapi juga milik kita semua yang dibaptis dan diutus.
Kita dipanggil untuk menjadi saksi, seperti para rasul.
Bukan saksi yang hanya berbicara, tetapi yang bertindak. Yang mengedepankan
kasih, damai, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Yang tidak iri, tidak
sombong, tidak mencari keuntungan diri, tetapi hidup dalam semangat pelayanan.
Pentakosta bukan hanya peristiwa liturgis. Ia adalah
realitas yang terus hidup. Roh Kudus yang sama kini bekerja dalam diri kita,
mengobarkan semangat untuk mewartakan kasih Allah kepada dunia. Dalam setiap
tindakan kasih, dalam setiap upaya perdamaian, dalam setiap pelayanan kepada
sesama, kita menjadi saksi bahwa Roh Kudus masih berkarya.
Jika kita hidup seperti para rasul, maka kita layak menerima
Roh Kudus yang sama. Dan dunia akan mengenal bahasa Roh—bahasa kasih yang
menyatukan, membarui, dan menyelamatkan.
#pentakosta #rohkudus #bahasaroh #kerasulanawam #gerejahidup
#imandalamtindakan #sakramentobat #sakramenekaristi #pembaruangereja
#cintaallahuntukdunia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin