![]() |
Dalam setiap perayaan Ekaristi, Tuhan hadir secara nyata
dalam rupa roti dan anggur yang dikonsekrasi. Ia bukan hanya simbol, melainkan
sungguh Tubuh dan Darah Kristus, sebagaimana ditegaskan dalam sabda-Nya:
“Inilah Tubuh-Ku… Inilah Darah-Ku… yang diserahkan bagimu…” (Mat 26:26–28).
Dalam momen ini, kita tidak hanya mengenang perjamuan terakhir, tetapi sungguh
mengalami kembali pengorbanan Kristus di salib.
Ekaristi adalah sakramen cinta kasih, sakramen altar, dan
sakramen puncak. Di sinilah Allah merendahkan diri-Nya untuk bersatu dengan
manusia, dan manusia diangkat ke dalam persekutuan ilahi.
Tak heran jika banyak paroki, termasuk Paroki St.
Paulus-Depok, memilih Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus sebagai momen perayaan
Komuni Pertama. Menurut St. Fransiskus Asisi, menyambut Komuni adalah momen
paling mulia karena di sanalah Tuhan yang Mahatinggi berkenan tinggal dalam
diri kita. Dalam Ekaristi, Kristus tidak hanya lahir di Betlehem, tetapi juga
lahir kembali dalam hati kita.
Tiga Pilar Spiritualitas Ekaristi
- Persiapan
Batin Sebelum Misa
Menyambut Tuhan bukan perkara sepele. Ia menuntut kesiapan hati dan pikiran. Doa tobat, permenungan sabda, dan sikap hormat menjadi bagian dari persiapan ini. Doa “Saya mengaku…” dan “Ya Tuhan, saya tidak pantas…” bukan sekadar liturgi, tetapi ungkapan kerendahan hati di hadapan Allah. - Syukur
Setelah Komuni
Setelah menyambut Komuni, kita diajak untuk hening dan bersyukur. Doa pribadi setelah misa menjadi bentuk penghormatan atas kehadiran Tuhan dalam diri. Jangan terburu-buru meninggalkan gereja; diamlah sejenak dalam keheningan bersama-Nya. - Komuni
sebagai Bekal Hidup
Komuni bukan hanya ritual, tetapi bekal hidup. Menerima Tuhan berarti menerima kekuatan untuk menjalani hidup dalam kasih dan pengampunan. Maka, dianjurkan untuk sering menerima Komuni, bahkan setiap hari jika memungkinkan.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa Ekaristi
bukan hanya untuk dirayakan di altar, tetapi untuk dihidupi dalam keseharian.
Dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan, kita dipanggil untuk
menjadi saksi dari kasih yang kita terima dalam Komuni. Kita adalah
perpanjangan tangan Kristus di dunia.
Ekaristi adalah perjumpaan yang mengubah. Ia mengangkat kita
ke tingkat ilahi dan mengutus kita kembali ke dunia untuk mewartakan kasih dan
cinta Allah. Maka, mari kita sambut Tuhan dengan hati yang pantas, syukur yang
tulus, dan hidup yang bersaksi.
Oleh: P. Yan Ladju, OFM, Komunitas Novisiat Transitus Depok
#tubuhdandarahkristus #harirayaekaristi #komunipertama #kerasulanawam #imankatolik #gerejahidup #ekaristiadalahhidup #cintaallahuntukdunia #sakramencintakasih #perjumpaandengankristus #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin