![]() |
Setelah proses panjang dan penuh dinamika, pada Minggu, 27
Januari 2013, Paroki St. Paulus-Depok secara resmi melantik para Ketua Wilayah
dan Ketua KUB masa bakti 2013–2015. Misa pukul 08.00 WIB yang dipimpin RP.
Tauchen Hotlan Girsang, OFM menjadi saksi sejarah lahirnya struktur baru yang
diharapkan menjadi wajah Gereja yang lebih hidup dan partisipatif.
Dalam homilinya, Pastor Tauchen menegaskan bahwa menjadi
pelayan haruslah bersukacita karena berpusat pada Yesus. Pelayanan bukanlah
beban administratif, tetapi ekspresi kasih dan iman yang hidup. “Pelayanan yang
tidak berakar pada Kristus akan mudah layu,” ujarnya.
Beberapa tokoh umat yang hadir memberikan pandangan mereka:
- Agustinus
Sudir I.M., mantan Ketua Lingkungan St.
Ignatius Loyola, berbagi pengalaman tentang dinamika pelayanan. Ia
menekankan pentingnya ketulusan dan kebijaksanaan dalam memilah persoalan
agar tidak menimbulkan polemik.
- Agustinus
Aline Subianto, mantan Ketua Wilayah VII,
menyambut baik pembentukan KUB dan mengajak para mantan pengurus untuk
tetap aktif, misalnya dengan bergabung sebagai prodiakon.
- Ambros
S. Mally, Ketua Wilayah St. Sicilia,
berharap Dewan Paroki dapat memfasilitasi rapat rutin agar komunikasi dan
informasi tidak terputus.
- FX.
Marjono, Ketua Wilayah St. Laurensius,
menekankan pentingnya kerja sama antarumat dan pengurus. Ia mengajak untuk
terus memperkuat kekompakan yang telah terjalin.
- Yohanes
Kadiman, Ketua Wilayah St.
Bonaventura, mengajak umat untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan.
Dengan visi-misi yang jelas, pelayanan dapat berjalan tanpa terganggu oleh
kepentingan pribadi.
- Theresia, seorang umat, menyatakan bahwa nama bukanlah hal
utama. Yang penting adalah kualitas pelayanan dan keterlibatan aktif dalam
kegiatan komunitas.
- Marianne
R, siswi kelas VI SD, dengan
polos mendoakan agar para ketua wilayah dan KUB yang baru dilantik
mendapat pertolongan Tuhan dalam melayani.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat transformasi
ini sebagai langkah strategis dan profetik. Gereja tidak dibangun dari atas ke
bawah, tetapi dari bawah ke atas—dari komunitas kecil yang hidup, saling
mengenal, dan saling menopang. KUB bukan sekadar unit administratif, tetapi
tempat di mana iman dipelihara, solidaritas dibangun, dan kasih diwujudkan.
Perubahan dari lingkungan ke wilayah dan pembentukan KUB
adalah panggilan untuk keluar dari zona nyaman dan membangun komunitas yang
sungguh-sungguh menjadi tempat perjumpaan dengan Kristus dan sesama. Ini adalah
wajah Gereja yang mendengarkan, melayani, dan berjalan bersama.
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
#komunitasumatbasis #kub #stpaulusdepok #kerasulanawam
#gerejahidup #imandalamtindakan #pelayananbersukacita #transformasipelayanan
#cintaallahuntukdunia #wilayahdankub #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin