Pada masa Prapaskah 2015, Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno
Syukur, OFM, menerbitkan Surat Gembala bertema “Sobeklah hatimu dan berbaliklah
kepada Tuhan!”—sebuah seruan pertobatan yang tidak hanya menyentuh ranah
pribadi, tetapi juga menyasar institusi pendidikan Katolik dan komunitas awam.
Dalam surat itu, beliau menekankan pentingnya membentuk generasi muda yang
berani bersaksi dalam kebenaran, keadilan, dan kejujuran.
“Bentuklah mereka menjadi misionaris pemberita Sabda Tuhan,”
tulisnya, sembari mengingatkan bahaya budaya kekerasan, hedonisme, dan narkoba
yang menggerogoti masa depan bangsa.
Sebagai seorang advokat yang kerap mendampingi kasus-kasus
anak dan remaja, saya menyaksikan langsung bagaimana degradasi nilai di
kalangan muda sering kali berakar dari absennya pendidikan karakter yang utuh.
Maka, ajakan uskup kepada sekolah-sekolah Katolik bukanlah sekadar formalitas
liturgis, melainkan panggilan profetik untuk mereformasi sistem pendidikan agar
kembali pada misi evangelisasi.
Sekolah Katolik harus menjadi ruang pembentukan hati nurani,
bukan hanya tempat mengejar nilai akademik. Di sinilah kerasulan awam—guru,
orang tua, aktivis sosial—harus bersinergi membangun ekosistem pendidikan yang
transformatif.
Tema APP Keuskupan Bogor tahun itu, “Keluarga Sumber
Sukacita,” menegaskan kembali peran keluarga sebagai pusat spiritualitas dan
solidaritas sosial. Dalam refleksi pastoralnya, Mgr. Paskalis mengajak umat
untuk membangun persekutuan lintas iman dan lintas ideologi demi menghadirkan
Kerajaan Allah di tengah masyarakat.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bagaimana
komunitas-komunitas basis seperti Legio Mariae, WKRI, dan kelompok kategorial
lainnya menjadi motor penggerak solidaritas sosial—dari dapur umum saat
pandemi, pendampingan hukum bagi kaum miskin, hingga koperasi umat yang
memperjuangkan keadilan ekonomi.
Kerasulan awam bukanlah pelengkap liturgi, melainkan jantung
dari pewartaan Injil di dunia nyata. Dalam konteks sosial-hukum, banyak aktivis
Katolik terlibat dalam advokasi hak asasi manusia, pemberdayaan ekonomi umat,
dan pembelaan terhadap lingkungan hidup. Ini adalah bentuk nyata dari
“discernment” yang diajarkan Yesus di padang gurun—memilih yang benar di tengah
godaan kekuasaan dan kompromi moral.
“Dengan mendengarkan suara Tuhan, kita dapat melakukan
pilihan-pilihan yang benar dan tepat dalam kehidupan berkeluarga, menggereja
dan bermasyarakat,” tegas Uskup Paskalis.
Mencintai Yesus berarti mencintai Gereja-Nya. Namun cinta
itu bukanlah cinta yang pasif, melainkan cinta yang bertanggung jawab—yang
berani mengkritik demi membangun, yang berani turun tangan demi menyembuhkan
luka sosial. Dalam semangat Prapaskah, kita diajak untuk berdoa, berpuasa, dan
beramal bukan sebagai ritual kosong, tetapi sebagai aksi nyata membangun bonum
commune—kebaikan bersama.
Dunia ini retak. Tapi dari retakan itu, cahaya bisa masuk.
Gereja, melalui kerasulan awamnya, dipanggil untuk menjadi cahaya itu—mewarta
kasih dan cinta Allah melalui tindakan nyata di bidang sosial, ekonomi, hukum,
dan kemasyarakatan.
Mari kita sobek hati kita, bukan untuk meratap, tetapi untuk
membuka ruang bagi pertobatan, pembaruan, dan pengharapan.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat & Aktivis
Kerasulan Awam Katolik
#kerasulanawam #gerejakatolik #appkeuskupanbogor #keluargasumbersukacita #sekolahkatolik #misisosialgereja #pertobatanprapaskah #bonumcommune #cintagereja #pendidikankarakter #advokasiiman #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Banyak hal yang saya dapatkan di blog ini.
BalasHapusTerima kasih,
Tuhan memberkati