Selasa, 24 Maret 2015

“Sobeklah Hatimu”: Keluarga, Sekolah, dan Misi Sosial Gereja di Tengah Dunia yang Retak

KOTA BOGOR - Dalam dunia yang semakin terpolarisasi oleh kepentingan, kekerasan struktural, dan budaya instan, suara kenabian Gereja Katolik tetap menggema—mengajak umat untuk kembali kepada jati diri sebagai garam dan terang dunia. Seruan ini bukan sekadar retorika spiritual, melainkan panggilan konkret untuk bertindak, membangun peradaban kasih melalui keluarga, pendidikan, dan keterlibatan sosial.

Pada masa Prapaskah 2015, Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, menerbitkan Surat Gembala bertema “Sobeklah hatimu dan berbaliklah kepada Tuhan!”—sebuah seruan pertobatan yang tidak hanya menyentuh ranah pribadi, tetapi juga menyasar institusi pendidikan Katolik dan komunitas awam. Dalam surat itu, beliau menekankan pentingnya membentuk generasi muda yang berani bersaksi dalam kebenaran, keadilan, dan kejujuran.

“Bentuklah mereka menjadi misionaris pemberita Sabda Tuhan,” tulisnya, sembari mengingatkan bahaya budaya kekerasan, hedonisme, dan narkoba yang menggerogoti masa depan bangsa.

Sebagai seorang advokat yang kerap mendampingi kasus-kasus anak dan remaja, saya menyaksikan langsung bagaimana degradasi nilai di kalangan muda sering kali berakar dari absennya pendidikan karakter yang utuh. Maka, ajakan uskup kepada sekolah-sekolah Katolik bukanlah sekadar formalitas liturgis, melainkan panggilan profetik untuk mereformasi sistem pendidikan agar kembali pada misi evangelisasi.

Sekolah Katolik harus menjadi ruang pembentukan hati nurani, bukan hanya tempat mengejar nilai akademik. Di sinilah kerasulan awam—guru, orang tua, aktivis sosial—harus bersinergi membangun ekosistem pendidikan yang transformatif.

Tema APP Keuskupan Bogor tahun itu, “Keluarga Sumber Sukacita,” menegaskan kembali peran keluarga sebagai pusat spiritualitas dan solidaritas sosial. Dalam refleksi pastoralnya, Mgr. Paskalis mengajak umat untuk membangun persekutuan lintas iman dan lintas ideologi demi menghadirkan Kerajaan Allah di tengah masyarakat.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bagaimana komunitas-komunitas basis seperti Legio Mariae, WKRI, dan kelompok kategorial lainnya menjadi motor penggerak solidaritas sosial—dari dapur umum saat pandemi, pendampingan hukum bagi kaum miskin, hingga koperasi umat yang memperjuangkan keadilan ekonomi.

Kerasulan awam bukanlah pelengkap liturgi, melainkan jantung dari pewartaan Injil di dunia nyata. Dalam konteks sosial-hukum, banyak aktivis Katolik terlibat dalam advokasi hak asasi manusia, pemberdayaan ekonomi umat, dan pembelaan terhadap lingkungan hidup. Ini adalah bentuk nyata dari “discernment” yang diajarkan Yesus di padang gurun—memilih yang benar di tengah godaan kekuasaan dan kompromi moral.

“Dengan mendengarkan suara Tuhan, kita dapat melakukan pilihan-pilihan yang benar dan tepat dalam kehidupan berkeluarga, menggereja dan bermasyarakat,” tegas Uskup Paskalis.

Mencintai Yesus berarti mencintai Gereja-Nya. Namun cinta itu bukanlah cinta yang pasif, melainkan cinta yang bertanggung jawab—yang berani mengkritik demi membangun, yang berani turun tangan demi menyembuhkan luka sosial. Dalam semangat Prapaskah, kita diajak untuk berdoa, berpuasa, dan beramal bukan sebagai ritual kosong, tetapi sebagai aksi nyata membangun bonum commune—kebaikan bersama.

Dunia ini retak. Tapi dari retakan itu, cahaya bisa masuk. Gereja, melalui kerasulan awamnya, dipanggil untuk menjadi cahaya itu—mewarta kasih dan cinta Allah melalui tindakan nyata di bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan.

Mari kita sobek hati kita, bukan untuk meratap, tetapi untuk membuka ruang bagi pertobatan, pembaruan, dan pengharapan.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Katolik

 

#kerasulanawam #gerejakatolik #appkeuskupanbogor #keluargasumbersukacita #sekolahkatolik #misisosialgereja #pertobatanprapaskah #bonumcommune #cintagereja #pendidikankarakter #advokasiiman #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

1 komentar:

  1. Banyak hal yang saya dapatkan di blog ini.
    Terima kasih,
    Tuhan memberkati

    BalasHapus

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin