Pertanyaan itu dilontarkan oleh Pater Yan Ladju, OFM—seorang
imam Fransiskan yang telah lebih dari tiga dekade mendampingi Ordo Fransiskan
Sekular (OFS) Indonesia. Dalam homilinya, Pater Yan tidak hanya merayakan
kebangkitan Kristus, tetapi juga mengajak umat untuk merenungkan ulang dasar
iman mereka.
“Bagi kita yang hadir
di sini, tentu kita percaya bahwa Yesus sungguh bangkit. Tapi di luar sana,
banyak yang tidak percaya,” ujar Pater Yan dengan nada tegas namun penuh kasih.
Ia mengutip berbagai pandangan yang meragukan kebangkitan Yesus—bahkan menyebut
teori-teori yang menyatakan bahwa Yesus hanya manusia biasa yang selamat dari
penyaliban dan hidup bersama Maria Magdalena.
“Ini konyol,” tegasnya. “Kita percaya karena kita
mengucapkan Syahadat: ‘Aku percaya akan Yesus Kristus yang wafat dan bangkit
pada hari ketiga.’”
Pernyataan ini bukan sekadar klarifikasi teologis, tetapi
juga peringatan akan tantangan zaman: relativisme iman, arus skeptisisme, dan
godaan untuk mereduksi iman menjadi sekadar simbol budaya.
Bagi Pater Yan, Paskah bukan hanya perayaan liturgis, tetapi
momentum revisi hidup. “Satu syarat untuk tetap percaya adalah dengan
merevisi hidup kita,” katanya. Artinya, iman akan kebangkitan Kristus harus
tercermin dalam pertobatan konkret: meninggalkan dosa, memperbarui relasi, dan
menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat pesan ini
sangat relevan. Di tengah krisis moral, ketidakadilan sosial, dan degradasi
nilai keluarga, iman akan kebangkitan Kristus harus menjadi daya dorong untuk
transformasi sosial. Iman yang hidup tidak berhenti di altar, tetapi menjelma
dalam tindakan nyata: membela yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan merawat
ciptaan.
Kebangkitan Kristus adalah fondasi iman Kristiani. Namun,
bagaimana kita mewartakannya di tengah dunia yang skeptis? Jawabannya: melalui
kerasulan awam yang otentik.
Kita dipanggil untuk menjadi “surat Kristus yang terbuka” (2
Kor 3:2), menghadirkan wajah Allah dalam profesi, keluarga, dan masyarakat.
Dalam bidang hukum, ekonomi, pendidikan, dan sosial, umat awam Katolik harus
menjadi garam dan terang—seperti yang diserukan oleh Mgr. Paskalis Bruno
Syukur, OFM dalam surat gembala APP 2015.
Iman akan kebangkitan bukanlah dogma kaku, melainkan
kekuatan yang menggerakkan. Ia menuntut keberanian untuk bersaksi, bahkan
ketika suara kita minoritas. Ia menuntut integritas, ketika dunia menawarkan
kompromi. Ia menuntut kasih, ketika dunia memilih kebencian.
Pertanyaan Pater Yan adalah cermin bagi kita semua: apakah
kita sungguh percaya? Dan jika ya, bagaimana kita menghidupi iman itu?
Paskah bukan akhir, tetapi awal. Kebangkitan Kristus adalah
undangan untuk bangkit dari kubur ketakutan, keputusasaan, dan ketidakpedulian.
Mari kita jawab pertanyaan itu dengan hidup yang diperbarui, dengan iman yang
menyala, dan dengan tindakan yang mewartakan: Yesus sungguh bangkit, dan
kita adalah saksinya.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis
Kerasulan Awam Gereja Katolik
#paskah2015 #yesusbangkit #imanyanghidup #kerasulanawam
#gerejakatolik #syahadatiman #kebangkitankristus #keluargakatolik #bonumcommune
#garamdanterangdunia #ofsindonesia #kebangkitandankeadilan #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin