Kamis, 16 April 2015

Refleksi Paskah 2015 Bersama Pater Yan Ladju, OFM; Iman, Kebangkitan, dan Tantangan Zaman

KOTA DEPOK - Minggu Paskah, 5 April 2015. Gereja Katolik Santo Paulus Depok dipenuhi ribuan umat yang larut dalam sukacita kebangkitan Kristus. Namun di tengah liturgi yang agung itu, sebuah pertanyaan tajam menggema dari altar, menggugah kesadaran dan mengguncang kenyamanan iman: “Sesudah Salib, adakah kita masih percaya?”

Pertanyaan itu dilontarkan oleh Pater Yan Ladju, OFM—seorang imam Fransiskan yang telah lebih dari tiga dekade mendampingi Ordo Fransiskan Sekular (OFS) Indonesia. Dalam homilinya, Pater Yan tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga mengajak umat untuk merenungkan ulang dasar iman mereka.

 “Bagi kita yang hadir di sini, tentu kita percaya bahwa Yesus sungguh bangkit. Tapi di luar sana, banyak yang tidak percaya,” ujar Pater Yan dengan nada tegas namun penuh kasih. Ia mengutip berbagai pandangan yang meragukan kebangkitan Yesus—bahkan menyebut teori-teori yang menyatakan bahwa Yesus hanya manusia biasa yang selamat dari penyaliban dan hidup bersama Maria Magdalena.

“Ini konyol,” tegasnya. “Kita percaya karena kita mengucapkan Syahadat: ‘Aku percaya akan Yesus Kristus yang wafat dan bangkit pada hari ketiga.’”

Pernyataan ini bukan sekadar klarifikasi teologis, tetapi juga peringatan akan tantangan zaman: relativisme iman, arus skeptisisme, dan godaan untuk mereduksi iman menjadi sekadar simbol budaya.

Bagi Pater Yan, Paskah bukan hanya perayaan liturgis, tetapi momentum revisi hidup. “Satu syarat untuk tetap percaya adalah dengan merevisi hidup kita,” katanya. Artinya, iman akan kebangkitan Kristus harus tercermin dalam pertobatan konkret: meninggalkan dosa, memperbarui relasi, dan menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat pesan ini sangat relevan. Di tengah krisis moral, ketidakadilan sosial, dan degradasi nilai keluarga, iman akan kebangkitan Kristus harus menjadi daya dorong untuk transformasi sosial. Iman yang hidup tidak berhenti di altar, tetapi menjelma dalam tindakan nyata: membela yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan merawat ciptaan.

Kebangkitan Kristus adalah fondasi iman Kristiani. Namun, bagaimana kita mewartakannya di tengah dunia yang skeptis? Jawabannya: melalui kerasulan awam yang otentik.

Kita dipanggil untuk menjadi “surat Kristus yang terbuka” (2 Kor 3:2), menghadirkan wajah Allah dalam profesi, keluarga, dan masyarakat. Dalam bidang hukum, ekonomi, pendidikan, dan sosial, umat awam Katolik harus menjadi garam dan terang—seperti yang diserukan oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM dalam surat gembala APP 2015.

Iman akan kebangkitan bukanlah dogma kaku, melainkan kekuatan yang menggerakkan. Ia menuntut keberanian untuk bersaksi, bahkan ketika suara kita minoritas. Ia menuntut integritas, ketika dunia menawarkan kompromi. Ia menuntut kasih, ketika dunia memilih kebencian.

Pertanyaan Pater Yan adalah cermin bagi kita semua: apakah kita sungguh percaya? Dan jika ya, bagaimana kita menghidupi iman itu?

Paskah bukan akhir, tetapi awal. Kebangkitan Kristus adalah undangan untuk bangkit dari kubur ketakutan, keputusasaan, dan ketidakpedulian. Mari kita jawab pertanyaan itu dengan hidup yang diperbarui, dengan iman yang menyala, dan dengan tindakan yang mewartakan: Yesus sungguh bangkit, dan kita adalah saksinya.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#paskah2015 #yesusbangkit #imanyanghidup #kerasulanawam #gerejakatolik #syahadatiman #kebangkitankristus #keluargakatolik #bonumcommune #garamdanterangdunia #ofsindonesia #kebangkitandankeadilan #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin