Dalam surat gembalanya, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM,
mengajak umat untuk tidak hanya merenung, tetapi juga bertindak. Ia menantang
kita semua untuk menjadi “garam dan terang dunia” melalui keterlibatan aktif
dalam persekutuan-persekutuan basis—baik yang bersifat internal Gereja maupun
lintas iman dan keyakinan politis.
Uskup Paskalis menegaskan bahwa keterlibatan umat dalam
masyarakat bukanlah pilihan, melainkan mandat iman. “Kita ditantang untuk
menghadirkan Kerajaan Allah: kerajaan Kebenaran, Keadilan, Kejujuran, kerajaan
di mana pelayanan untuk kepentingan umum menjadi nyata,” tulisnya.
Dalam konteks kerasulan awam, seruan ini menjadi panggilan
untuk membangun bonum commune—kebaikan bersama—melalui kehadiran aktif
di tengah masyarakat. Keluarga, sebagai Gereja mini, menjadi tempat pertama dan
utama di mana nilai-nilai kasih, keadilan, dan solidaritas ditanamkan.
Sabtu, 4 April 2015. Gereja Santo Paulus Depok kembali
menjadi lautan manusia. Sekitar tiga ribu umat memadati setiap sudut gereja,
dari taman hingga lorong-lorong, dalam Misa Malam Paskah yang dipimpin oleh RP.
Yosef Paleba Tolok Tote, OFM.
Dalam homilinya, Pater Yosef menyampaikan pesan yang
menggugah: “Di zaman seperti sekarang ini, kalau unsur kasih tidak ada lagi,
mau jadi apa keluarga kita? Mungkin bukan sumber sukacita, tetapi sumber
dukacita.”
Pernyataan ini bukan sekadar kritik, melainkan ajakan untuk
bertobat. Ia menekankan bahwa kasih—yang murah hati, lemah lembut, tidak
memegahkan diri—harus menjadi dasar kehidupan keluarga. “Jika kemarin keluarga
kita sumber dukacita, hari ini kita harus bertobat dan menjadi manusia baru,”
tegasnya.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa keluarga
bukan hanya objek pastoral, tetapi subjek kerasulan. Di sinilah nilai-nilai
sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan pertama kali dibentuk. Keluarga yang
hidup dalam kasih akan melahirkan pribadi-pribadi yang peduli, jujur, dan
adil—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan publik.
Keterlibatan dalam persekutuan basis, seperti yang diserukan
oleh Uskup Paskalis, adalah bentuk konkret dari kerasulan awam. Ini adalah
medan pewartaan yang luas, di mana umat awam dipanggil untuk menjadi saksi
kasih Allah di tengah dunia yang terluka.
Tema APP 2015 bukan hanya untuk direnungkan, tetapi untuk
dihidupi. Gereja mengajak kita untuk memulai dari yang paling dekat: keluarga.
Dari meja makan, ruang doa, hingga ruang tamu—di sanalah sukacita sejati
dibentuk dan dibagikan.
Mari kita jadikan keluarga sebagai pusat sukacita, bukan
hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas. Karena dari
keluarga yang penuh kasih, akan lahir dunia yang lebih adil, lebih damai, dan
lebih manusiawi.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis
Kerasulan Awam Gereja Katolik
#keluargasumbersukacita #app2015 #kerasulanawam
#gerejakatolik #bonumcommune #paskah2015 #kasihdalamkeluarga #imanyanghidup
#garamdanterangdunia #keuskupanbogor #parokistpaulusdepok #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin