Namun di balik perayaan itu, terselip sebuah pertanyaan
tajam yang mengguncang relung hati umat: “Sesudah saya, siapa lagi?”—sebuah
refleksi dari Pater Roby (Robert Wowor) yang tak hanya menyentuh, tetapi juga
menantang.
Pertanyaan Pater Roby bukan sekadar retorika. Ia lahir dari
keprihatinan mendalam atas minimnya regenerasi dalam panggilan hidup membiara
dan imamat. “Misi pewartaan Kitab Suci ini tidak boleh berhenti pada generasi
kami,” tegasnya. Sebagai pendiri kelompok Kitab Suci yang aktif membina umat,
ia menyadari bahwa usia para pewarta semakin menua, sementara kaum muda belum banyak
yang terpanggil untuk melanjutkan tongkat estafet pelayanan.
Pertanyaan ini bukan hanya ditujukan kepada para remaja atau
kaum muda, tetapi juga kepada para orang tua Katolik: apakah kita telah membuka
ruang dalam keluarga untuk mendengarkan panggilan Tuhan? Apakah kita mendukung
anak-anak kita untuk menjawab panggilan hidup religius?
Pater Agung Suryanto, OFM, yang menjadi yubilaris termuda,
memilih untuk menandai perayaan ini dengan cara yang unik: meluncurkan buku dan
CD lagu rohani karyanya sendiri. Lebih dari sekadar ekspresi seni, hasil
penjualan karya tersebut disumbangkan untuk pembangunan gereja dan pendidikan
para frater Fransiskan. Ini bukan hanya bentuk syukur, tetapi juga tindakan
kerasulan konkret—menghidupi semangat St. Fransiskus Asisi dalam kesederhanaan
dan pelayanan.
Sementara itu, Pater Bonaventura Satuan, OFM—yubilaris
tertua dengan 50 tahun imamat—menjadi simbol ketekunan dan kesetiaan. Meski
telah lebih dari dua dekade berkarya di pedalaman Timor Leste, ia tetap memilih
untuk berpamitan secara pribadi kepada umat di stasi-stasi terpencil sebelum
kembali ke Indonesia. “Ini bukan soal tugas, ini soal cinta,” demikian
kesaksian yang tak terucap namun terasa dalam tindakannya.
Pater Adrianus Soenarko, OFM, sebagai Provinsial OFM
Indonesia, menyebut pencapaian ini sebagai “peristiwa luar biasa” yang patut
dihargai tinggi. Dalam dunia yang serba instan, kesetiaan selama setengah abad
dalam pelayanan adalah kesaksian hidup yang langka.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat peristiwa ini
bukan hanya sebagai perayaan pribadi, tetapi sebagai panggilan kolektif. Gereja
Katolik tidak dibangun oleh para imam dan biarawan saja, tetapi juga oleh umat
awam yang terlibat aktif dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan
kemasyarakatan.
Pertanyaan “Sesudah saya, siapa lagi?” adalah undangan bagi
kita semua—untuk tidak hanya mendoakan panggilan, tetapi juga menciptakan
ekosistem iman yang subur: keluarga yang mendukung, komunitas yang membina, dan
Gereja yang membuka ruang partisipasi.
Empat yubilaris ini adalah lentera-lentera yang telah
menyala selama seperempat hingga setengah abad. Namun lentera tak diciptakan
untuk dinikmati sendiri. Ia harus diwariskan, dinyalakan kembali dalam hati
generasi berikutnya.
Maka, mari kita jawab pertanyaan Pater Roby dengan tindakan
nyata: mendampingi anak-anak kita mengenal Tuhan, membuka ruang untuk panggilan
hidup religius, dan menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia.
Karena sesudah mereka, harus ada kita. Dan sesudah kita,
harus ada lagi yang lain.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis
Kerasulan Awam Gereja Katolik
#kerasulanawam #ofmindonesia #imamatkatolik #panggilanhidupmembiara #gerejakatolik #fransiskan #pewartaankitabsuci #cintaallahuntukdunia #regenerasiimamat #gerejayanghidup #misikatolik #panggilanimamat #katolikaktif #imanyanghidup #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin