Kamis, 07 Mei 2015

“Sesudah Saya, Siapa Lagi?” Refleksi Iman atas Perjalanan Hidup Membiara dan Imamat Para Saudara Dina OFM

JAKARTA - Sabtu, 25 Oktober 2014. Gereja St. Paskalis Cempaka Putih menjadi saksi bisu sebuah peristiwa iman yang langka dan menggugah: empat putra terbaik Ordo Fratrum Minorum (OFM) merayakan tonggak penting dalam hidup membiara dan imamat mereka. Dalam suasana syukur dan haru, Pater Robertus Agung Suryanto, OFM dan Pater Yosef Paleba Tolok, OFM merayakan 25 dan 40 tahun hidup membiara, sementara Pater Robert Wowor, OFM dan Pater Bonaventura Emmanuel Satuan, OFM menandai 25 dan 50 tahun imamat mereka.

Namun di balik perayaan itu, terselip sebuah pertanyaan tajam yang mengguncang relung hati umat: “Sesudah saya, siapa lagi?”—sebuah refleksi dari Pater Roby (Robert Wowor) yang tak hanya menyentuh, tetapi juga menantang.

Pertanyaan Pater Roby bukan sekadar retorika. Ia lahir dari keprihatinan mendalam atas minimnya regenerasi dalam panggilan hidup membiara dan imamat. “Misi pewartaan Kitab Suci ini tidak boleh berhenti pada generasi kami,” tegasnya. Sebagai pendiri kelompok Kitab Suci yang aktif membina umat, ia menyadari bahwa usia para pewarta semakin menua, sementara kaum muda belum banyak yang terpanggil untuk melanjutkan tongkat estafet pelayanan.

Pertanyaan ini bukan hanya ditujukan kepada para remaja atau kaum muda, tetapi juga kepada para orang tua Katolik: apakah kita telah membuka ruang dalam keluarga untuk mendengarkan panggilan Tuhan? Apakah kita mendukung anak-anak kita untuk menjawab panggilan hidup religius?

Pater Agung Suryanto, OFM, yang menjadi yubilaris termuda, memilih untuk menandai perayaan ini dengan cara yang unik: meluncurkan buku dan CD lagu rohani karyanya sendiri. Lebih dari sekadar ekspresi seni, hasil penjualan karya tersebut disumbangkan untuk pembangunan gereja dan pendidikan para frater Fransiskan. Ini bukan hanya bentuk syukur, tetapi juga tindakan kerasulan konkret—menghidupi semangat St. Fransiskus Asisi dalam kesederhanaan dan pelayanan.

Sementara itu, Pater Bonaventura Satuan, OFM—yubilaris tertua dengan 50 tahun imamat—menjadi simbol ketekunan dan kesetiaan. Meski telah lebih dari dua dekade berkarya di pedalaman Timor Leste, ia tetap memilih untuk berpamitan secara pribadi kepada umat di stasi-stasi terpencil sebelum kembali ke Indonesia. “Ini bukan soal tugas, ini soal cinta,” demikian kesaksian yang tak terucap namun terasa dalam tindakannya.

Pater Adrianus Soenarko, OFM, sebagai Provinsial OFM Indonesia, menyebut pencapaian ini sebagai “peristiwa luar biasa” yang patut dihargai tinggi. Dalam dunia yang serba instan, kesetiaan selama setengah abad dalam pelayanan adalah kesaksian hidup yang langka.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat peristiwa ini bukan hanya sebagai perayaan pribadi, tetapi sebagai panggilan kolektif. Gereja Katolik tidak dibangun oleh para imam dan biarawan saja, tetapi juga oleh umat awam yang terlibat aktif dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan.

Pertanyaan “Sesudah saya, siapa lagi?” adalah undangan bagi kita semua—untuk tidak hanya mendoakan panggilan, tetapi juga menciptakan ekosistem iman yang subur: keluarga yang mendukung, komunitas yang membina, dan Gereja yang membuka ruang partisipasi.

Empat yubilaris ini adalah lentera-lentera yang telah menyala selama seperempat hingga setengah abad. Namun lentera tak diciptakan untuk dinikmati sendiri. Ia harus diwariskan, dinyalakan kembali dalam hati generasi berikutnya.

Maka, mari kita jawab pertanyaan Pater Roby dengan tindakan nyata: mendampingi anak-anak kita mengenal Tuhan, membuka ruang untuk panggilan hidup religius, dan menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia.

Karena sesudah mereka, harus ada kita. Dan sesudah kita, harus ada lagi yang lain.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#kerasulanawam #ofmindonesia #imamatkatolik #panggilanhidupmembiara #gerejakatolik #fransiskan #pewartaankitabsuci #cintaallahuntukdunia #regenerasiimamat #gerejayanghidup #misikatolik #panggilanimamat #katolikaktif #imanyanghidup #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin