KOTA DEPOK - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban yang kian menekan nilai-nilai spiritualitas, Gereja Katolik tetap setia pada mandatnya: mewartakan kasih Allah kepada dunia. Salah satu bentuk pewartaan itu hadir dalam wujud yang paling sederhana namun paling mendalam: pembinaan iman anak-anak calon penerima Komuni Pertama.
Sejak Agustus 2014, sebanyak 90 anak dari Paroki St. Paulus
Depok mengikuti program pembinaan Komuni Pertama yang berlangsung selama 10
bulan. Mereka terbagi dalam dua kelompok: 46 anak di SD MY setiap Kamis siang,
dan 44 anak di Gereja St. Paulus setiap Minggu pagi. Pemisahan lokasi ini bukan
tanpa alasan. Gereja, dalam keterbatasan fasilitasnya, memilih bijak: lebih
baik membagi ruang daripada menunda misi.
Namun, di balik keterbatasan itu, semangat kerasulan awam
justru menyala. Para pembina, yang sebagian besar adalah umat awam terlatih,
mengambil peran penting dalam menyampaikan dasar-dasar iman Katolik. Mereka
bukan pengganti orang tua, melainkan mitra dalam perjalanan iman anak-anak.
Pada 12 Oktober 2014, ruang gereja lama menjadi saksi
pertemuan 68 orang tua. Dipimpin oleh RP. Antonius Sahat Manurung, OFM,
pertemuan ini membahas hal-hal teknis sekaligus mendasar: peran orang tua dalam
mendampingi anak membaca Kitab Suci, pentingnya keterlibatan anak dalam kegiatan
wilayah, hingga urgensi rekoleksi sebagai pengalaman iman yang tak tergantikan.
Rekoleksi, meski tidak wajib, dipandang sebagai momen
sakral. Di sanalah anak-anak belajar mengenal Yesus secara personal, memahami
siapa diri mereka di hadapan Allah, dan membangun relasi yang hidup dengan Sang
Roti Hidup. Orang tua pun diajak untuk tidak hanya mendukung secara moral,
tetapi juga secara finansial—dengan jaminan bahwa DPP siap membantu mereka yang
membutuhkan.
Dari pertemuan itu lahirlah panitia kecil yang solid. Mereka
bukan sekadar pengurus teknis, tetapi perpanjangan tangan Gereja dalam
memastikan bahwa setiap anak mendapat pengalaman iman yang utuh. Dengan Ketua
Bapak Supriyanto dan Bapak Anton Wahyu, serta dukungan para sekretaris,
bendahara, dan seksi-seksi lainnya, panitia ini menjadi wajah nyata dari
semangat sinodalitas: berjalan bersama dalam iman dan pelayanan.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
melihat bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah bentuk
nyata dari partisipasi umat dalam karya keselamatan. Gereja bukan hanya
hirarki; Gereja adalah kita semua. Ketika umat awam mengambil peran aktif dalam
pembinaan iman, di situlah Gereja menjadi hidup.
Kita sedang menabur benih. Mungkin hasilnya tak langsung
terlihat. Tapi kelak, dari tangan-tangan kecil yang kini belajar mengenal
Yesus, akan tumbuh generasi baru yang membawa terang Kristus ke tengah dunia
yang gelap.
*) Ditulis oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis
Rasul Awam Gereja Katolik (Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode
2010-2013)
#kerasulanawam #komunipertama #imananak #gerejakatolik
#pendidikaniman #sinodalitas #kasihallah #parokistpaulusdepok #katolikaktif
#rekoleksianak #binaimananak #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin