Kamis, 07 Mei 2015

Menabur Benih Iman; Catatan Kerasulan Awam dalam Pembinaan Komuni Pertama

KOTA DEPOK - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban yang kian menekan nilai-nilai spiritualitas, Gereja Katolik tetap setia pada mandatnya: mewartakan kasih Allah kepada dunia. Salah satu bentuk pewartaan itu hadir dalam wujud yang paling sederhana namun paling mendalam: pembinaan iman anak-anak calon penerima Komuni Pertama.

Sejak Agustus 2014, sebanyak 90 anak dari Paroki St. Paulus Depok mengikuti program pembinaan Komuni Pertama yang berlangsung selama 10 bulan. Mereka terbagi dalam dua kelompok: 46 anak di SD MY setiap Kamis siang, dan 44 anak di Gereja St. Paulus setiap Minggu pagi. Pemisahan lokasi ini bukan tanpa alasan. Gereja, dalam keterbatasan fasilitasnya, memilih bijak: lebih baik membagi ruang daripada menunda misi.

Namun, di balik keterbatasan itu, semangat kerasulan awam justru menyala. Para pembina, yang sebagian besar adalah umat awam terlatih, mengambil peran penting dalam menyampaikan dasar-dasar iman Katolik. Mereka bukan pengganti orang tua, melainkan mitra dalam perjalanan iman anak-anak.

Pada 12 Oktober 2014, ruang gereja lama menjadi saksi pertemuan 68 orang tua. Dipimpin oleh RP. Antonius Sahat Manurung, OFM, pertemuan ini membahas hal-hal teknis sekaligus mendasar: peran orang tua dalam mendampingi anak membaca Kitab Suci, pentingnya keterlibatan anak dalam kegiatan wilayah, hingga urgensi rekoleksi sebagai pengalaman iman yang tak tergantikan.

Rekoleksi, meski tidak wajib, dipandang sebagai momen sakral. Di sanalah anak-anak belajar mengenal Yesus secara personal, memahami siapa diri mereka di hadapan Allah, dan membangun relasi yang hidup dengan Sang Roti Hidup. Orang tua pun diajak untuk tidak hanya mendukung secara moral, tetapi juga secara finansial—dengan jaminan bahwa DPP siap membantu mereka yang membutuhkan.

Dari pertemuan itu lahirlah panitia kecil yang solid. Mereka bukan sekadar pengurus teknis, tetapi perpanjangan tangan Gereja dalam memastikan bahwa setiap anak mendapat pengalaman iman yang utuh. Dengan Ketua Bapak Supriyanto dan Bapak Anton Wahyu, serta dukungan para sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi lainnya, panitia ini menjadi wajah nyata dari semangat sinodalitas: berjalan bersama dalam iman dan pelayanan.

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah bentuk nyata dari partisipasi umat dalam karya keselamatan. Gereja bukan hanya hirarki; Gereja adalah kita semua. Ketika umat awam mengambil peran aktif dalam pembinaan iman, di situlah Gereja menjadi hidup.

Kita sedang menabur benih. Mungkin hasilnya tak langsung terlihat. Tapi kelak, dari tangan-tangan kecil yang kini belajar mengenal Yesus, akan tumbuh generasi baru yang membawa terang Kristus ke tengah dunia yang gelap.

 

*) Ditulis oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik (Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013)

#kerasulanawam #komunipertama #imananak #gerejakatolik #pendidikaniman #sinodalitas #kasihallah #parokistpaulusdepok #katolikaktif #rekoleksianak #binaimananak #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin