Jumat, 17 Februari 2017

Tentang Veronika "Super Woman" Tan

Foto: Istimewa
Veronika "dikisahkan" dalam 'episode' jejak Kristus menuju puncak Golgota. Rasa empati, cinta dan belas kasih yang dalam kepada Sang Juru Selamat, ia mengusap wajah-Nya yang lelah didera para algojo.

Kisah ini pula, mengingatkan saya pada sosok Veronika Tan, istri dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Penulis tidak bermaksud untuk mensejajarkan Veronika Tan dengan Veronika yang mengusap wajah Yesus. Tidak pula berniat menyamakan Yesus dengan sosok seorang Ahok. Tetapi amalan nilai hidup yang ditekuni Veronika Tan, secara kebetulan memiliki nama yang sama dengan Veronika yang mengusap wajah Yesus.

Veronika adalah nama yang indah. Seindah rupa sang pemilik nama. Namun, keindahan Veronika lebih daripada tampilan fisik. Keindahannya adalah pancaran sorotan mata dan aura wajah serta sikap-tutur kata yang bersumber dari hati yang tulus dan iklas.

Ahok adalah pria beruntung. Didampingi istri yang setia menunggu, mendampingi dan meneguhkannya. Jalan panjang, terjal dan berliku menjadi hal terberat dalam hidup Ahok. Entah sudah berapa banyak energi Veronika yang terkuras demi Ahok.



Veronika selalu hadir untuknya. Ia mengusap wajah Ahok yang lelah melewati proses panjang kasus yang menderanya. Kita tidak pernah tahu seberapa kuat Ahok membendung tangisnya, hanya Veronika yang tahu. Saat jiwanya rapuh, ia menyeka air mata Ahok dengan tangannya.

Ia tidak menangis di hadapan publik. Ia selalu tersenyum. Di balik senyum tersembunyi getir yang mendalam. Lumrah terjadi pada siapa saja. Balik ketegarannya, Ahok menjadi kuat. Ditopang Veronika yang selalu hadir 24 jam untuk hidupnya.

Kita sulit membayangkan jika Ahok tanpa Veronika. Akankah ia sekuat atau setegar sekarang ini? Tak mungkin terjadi! Kehadiran Veronika menjadi kunci kesuksesan Ahok untuk meredam badai yang menghantam perjalanannya.

Veronika tidak saja menyeka air matanya ataupun peluhnya, ia sekaligus menjadi sahabat atau pendamping yang selalu mendengar curhatannya. Tim sukses, penasihat, staf ahli atau siapun mereka yang dekat dengan Ahok tidak sedekat dan sekuat hati seorang istri. Istrilah menjadi tempatnya bersandar. Menjadi penyokong kuat langkahnya. Menjadi penghibur di kala suaminya melewati jalan terjal.

Itu ada pada Veronika Tan. Ia tampil tenang bersahaja. Senyum menghiasi bibir dan rupanya. Entah seberapa dasyatnya Veronika membendung dan mengelola gejolak bathinnya, yang pasti ia masih tampak ramah dan tidak menunjukkan wajah kusut masai.

Veronika Tan adalah representasi para wanita hebat. Ibu-ibu kita. Tersenyum, meskipun ada duka lara. Setiap merawat kita tanpa menuntut balas. Menyimpan segala perkara dalam hati.

Jalan terjal Ahok adalah ujian hidupnya. Apakah ia mampu melewati jalan itu bersama Ahok? Atau, ia meninggalkannya? Ya, sejauh perjalanannya, Veronika telah membuktikan diri sebagai salah satu wanita hebat. Setia di samping Ahok. Berjalan bersama Ahok.

Jika saya menulis dan mengagumi Veronika Tan bukan maksud untuk mengkultuskannya. Veronika Tan, secara kebetulan, salah satu sosok yang penulis jumpai dijagat ini. Super woman.

Veronika bisa juga dalam rupa Siti, Poniyem, Putu, Usi, Mace, Ina atau siapapun wanita. Mereka yang setia pada pilihan hidup. Menjadi tiang suami bersandar. Yang tegar di segala medan situasi. Dan, mampu menyimpan segala perkara hidup dan tampil bijak menasihat (tidak menggurui!). Segala kemampuan ini memampukan lelaki (suami) hebat, tangguh dan tegar menghadapi badai kehidupan. Itu, salah satunya, tampak pada diri Veronika Tan. (gbm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin