Kamis, 09 Maret 2017

Memikul Salib, Menemukan Kasih; Jalan Setia Para Pengikut Kristus

KOTA DEPOK - “Sejak awal mula Allah telah menanamkan benih kasih dalam diri kita, agar kita hidup oleh kasih dan bahagia oleh karena kasih.”

Kalimat ini bukan sekadar kutipan teologis, melainkan fondasi eksistensial manusia. Kita diciptakan oleh kasih, untuk kasih, dan dalam kasih. Namun, dalam perjalanan hidup, kasih itu kerap diuji oleh penderitaan, pengorbanan, dan salib yang harus kita pikul. Maka, pertanyaannya bukanlah apakah kita akan menderita, tetapi bagaimana kita memaknai penderitaan itu dalam terang iman.

Dalam Injil Lukas 9:22–25, Yesus secara gamblang menyatakan identitas-Nya sebagai Anak Manusia yang akan menderita, ditolak, bahkan dibunuh. Namun, penderitaan itu bukan akhir, melainkan jalan menuju keselamatan. Yesus tidak mencari penderitaan, tetapi Ia tidak menghindarinya ketika itu menjadi konsekuensi dari kesetiaan-Nya kepada Bapa.

Sebagai pengikut Kristus, kita pun dipanggil untuk mengikuti jejak-Nya. Salib bukanlah simbol kekalahan, melainkan tanda kasih yang total. Dalam dunia yang mengagungkan kenyamanan dan menghindari rasa sakit, ajakan Yesus untuk memikul salib terdengar radikal. Namun justru di sanalah letak kekuatan Injil: kasih sejati selalu menuntut pengorbanan.

Salib bukan hanya kayu besar di punggung Yesus. Salib hadir dalam bentuk yang lebih halus namun nyata dalam hidup kita: kesetiaan dalam doa meski hati kering, pengampunan kepada yang menyakiti, kesabaran dalam keluarga, kejujuran dalam pekerjaan, dan keberanian untuk membela kebenaran di tengah tekanan.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya menyaksikan bagaimana banyak umat memikul salib mereka dalam diam. Seorang ibu yang merawat anaknya yang sakit tanpa keluhan. Seorang ayah yang tetap jujur meski godaan korupsi begitu besar. Seorang anak muda yang memilih hidup murni di tengah budaya permisif. Mereka semua adalah saksi bahwa salib bukan beban, tetapi jalan menuju rahmat.

Yesus tidak menjanjikan hidup yang mudah, tetapi Ia menjanjikan penyertaan. “Barangsiapa mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku” (Luk. 9:23). Ini bukan ajakan untuk menderita demi penderitaan, tetapi untuk setia dalam kasih, bahkan ketika itu menyakitkan.

Di balik setiap salib, ada rahmat yang tersembunyi. Ada kedewasaan rohani, ada pengudusan diri, ada solidaritas dengan sesama yang menderita. Salib mengosongkan kita dari ego, agar kita dipenuhi oleh kasih Allah.

Mengikuti Kristus adalah panggilan untuk hidup dalam kasih yang konkret. Bukan kasih yang sentimental, tetapi kasih yang berani berkorban. Dalam kerasulan awam, kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih itu di tengah dunia: di rumah, di tempat kerja, di masyarakat.

Maka, marilah kita tidak takut memikul salib. Sebab, seperti Yesus, kita tahu bahwa salib bukan akhir, tetapi awal dari kebangkitan. Dan dalam setiap langkah kita, Tuhan berjalan bersama.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#kerasulanawam #gerejakatolik #salibkristus #kasihyangberjalan #imanyangberbuah #mengikutiyesus #pengorbanandiri #peradabankasih #setiadalampanggilan #rahmatdalamsalib #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin