Dalam homilinya, Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, mengajak para
pengurus untuk meneladani iman Abraham—yang dengan berani meninggalkan masa
lalu demi hidup baru dalam panggilan Allah. “Kita dipanggil untuk senantiasa
memperbaharui diri dalam Dia yang kita imani,” tegas Uskup, mengutip prinsip
gerejawi yang mendalam: Ecclesia semper reformanda est—Gereja selalu
perlu diperbaharui.
Pembaruan yang dimaksud bukan sekadar kosmetik atau administratif. Ini
adalah pembaruan hati, cara berpikir, dan cara melayani. Uskup Paskalis
menekankan pentingnya meninggalkan pola pikir lama yang stagnan. “Mungkin ada
pengurus lama yang terpilih kembali, tapi jangan bawa pemikiran lama. Harus ada
terobosan baru,” pesannya.
Dalam refleksi yang menggugah, Uskup Paskalis menyoroti kecenderungan paroki
untuk lebih fokus pada pembangunan fisik ketimbang pembangunan iman. “Untuk apa
punya uang tapi tidak bisa bangun keluarga, iman anak, dan rohani umat?”
tanyanya retoris. Ia mengingatkan bahwa dana paroki bukan untuk ditimbun di
bank, melainkan untuk mendukung kegiatan pastoral yang menyentuh kehidupan
umat.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya menyambut baik seruan ini. Gereja
bukanlah institusi yang hanya membangun tembok, tetapi komunitas yang membangun
manusia. Dana paroki harus menjadi alat untuk mewartakan kasih Allah—melalui
pendidikan, pelayanan sosial, pendampingan keluarga, dan pemberdayaan ekonomi
umat.
RP. Alferinus Gregorius Pontus, OFM—akrab disapa Pater Goris—dalam
sambutannya menegaskan komitmen untuk menjalankan lima kebijakan pastoral
Keuskupan Bogor 2016–2020: keluarga, orang muda Katolik (OMK), pendidikan,
sumber daya manusia, dan relasi sosial-politik lintas agama. Ia menekankan
pentingnya pendekatan yang holistik—manajerial, sosiologis, psikologis, dan
spiritual—dalam memahami kebutuhan umat.
Ini adalah panggilan kerasulan awam yang sesungguhnya: menjadi jembatan
antara Gereja dan dunia, antara altar dan pasar, antara liturgi dan kehidupan.
Kita dipanggil untuk hadir di tengah masyarakat, membawa terang Injil dalam
bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan.
Usai pelantikan, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Serba
Guna Santo Yohanes Paulus II. Gedung ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan
umat, tempat bertumbuhnya komunitas, dan pusat kegiatan pastoral yang hidup.
Namun, lebih dari sekadar bangunan, yang dibutuhkan adalah “bangunan
rohani”—umat yang hidup, pengurus yang melayani dengan rendah hati, dan Gereja
yang hadir di tengah dunia.
Pelantikan ini bukan akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan pelayanan.
Para pengurus telah mengucapkan janji untuk menyumbangkan waktu, tenaga, dan
pikiran demi kesejahteraan umat. Kini saatnya menepati janji itu—dengan
semangat pembaruan, keberanian untuk berinovasi, dan komitmen untuk mewartakan
kasih Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Sebagaimana Kristus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani,
demikian pula para pengurus dipanggil untuk menjadi pelayan kasih. Dalam dunia
yang haus akan keadilan, solidaritas, dan pengharapan, Gereja harus menjadi
tanda dan sarana kasih Allah yang hidup.
✍️
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja
Katolik
#kerasulanawam #gerejakatolik #pelayananumat #ecclesiasemperreformanda
#parokisantopaulusdepok #imanyanghidup #gerejayangbergerak #kasihdalamtindakan
#pembaruangereja #omkberkarya #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin