Pada Selasa, 7 April, Romo Ronny—demikian ia akrab disapa—diwisuda sebagai
Magister Ilmu Pertahanan bidang Peace and Conflict Resolution (PCR) periode
2013–2015. Namun, bukan hanya gelar akademik yang ia bawa pulang. Ia juga
menerima penghargaan tesis terbaik, predikat cum laude dengan IPK 3,89, dan
anugerah Bintang Yudha Buana Sastra. Sebelumnya, ia juga pernah dianugerahi
Bintang Wibawa Seroja Nugraha sebagai lulusan terbaik Lemhanas 2012.
Romo Ronny adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero,
Maumere, NTT. Pendidikan filsafat yang ia tempuh menjadi fondasi kuat dalam
memahami dinamika sosial dan spiritual masyarakat. Namun, ia tidak berhenti di
sana. Ia melangkah lebih jauh, menekuni ilmu pertahanan dan resolusi konflik,
sebuah bidang yang jarang disentuh oleh para rohaniwan.
Tesisnya yang berjudul “Kekuatan Budaya dan Nilai-nilai Keagamaan dalam
Resolusi Konflik demi Terwujudnya Rekonsiliasi dan Budaya Damai: Studi pada
Masyarakat Ngada di Flores, Nusa Tenggara Timur” menjadi bukti bahwa iman dan
ilmu bisa bersinergi untuk membangun perdamaian. Ia tidak hanya menulis, tetapi
juga mengalami dan memahami konflik dari akar budaya dan spiritual
masyarakatnya.
Sejak Januari 2015, Romo Ronny menerima perutusan dari Uskup Agung Ende,
Mgr. Vincentius Sensi Potokota, untuk berkarya di Ordinariat Militer Indonesia.
Di bawah yurisdiksi Mgr. Ignatius Suharyo, ia ditugaskan sebagai Pastor Bantuan
Militer (Pasbanmil) di lingkungan TNI/POLRI. Sebuah perutusan yang tidak biasa,
namun sangat strategis.
Di tengah disiplin militer dan hirarki komando, Romo Ronny hadir sebagai
suara kasih, sebagai penyejuk, dan sebagai penuntun spiritual. Ia tidak hanya
melayani sakramen, tetapi juga menjadi pendamping rohani dalam dinamika
kehidupan prajurit. Dalam terang dokumen Gereja seperti Gaudium et Spes
dan Christifideles Laici, kerasulan awam dan rohaniwan di ruang publik
adalah panggilan untuk menghadirkan Injil dalam kehidupan nyata.
Kisah Romo Ronny adalah kisah tentang keberanian melampaui batas. Ia
menunjukkan bahwa menjadi imam tidak berarti terkungkung dalam tembok gereja.
Ia membuktikan bahwa ilmu pertahanan dan resolusi konflik bukanlah milik
militer semata, tetapi juga medan kerasulan yang sangat relevan.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa Gereja Katolik Indonesia
membutuhkan lebih banyak figur seperti Romo Ronny—yang berani masuk ke
ruang-ruang strategis, yang membawa nilai-nilai Injil ke dalam kebijakan
publik, dan yang menjembatani antara iman dan negara.
Prestasi Romo Ronny bukan hanya milik pribadi. Ia adalah buah dari doa,
perjuangan, dan semangat pelayanan yang tak kenal lelah. Ia adalah representasi
dari Gereja yang hidup, yang hadir, dan yang relevan. Ia adalah bukti bahwa
kasih Allah bisa diwartakan di ruang sidang, di barak militer, dan di podium
akademik.
Selamat untuk Romo Rofinus Neto Wulli. Semoga perutusanmu terus menjadi
berkat bagi bangsa dan Gereja. Dan semoga kita semua, dalam peran
masing-masing, terus mewartakan kasih dan cinta Allah kepada dunia.
Oleh:
Darius Leka, S.H., M.H., Advokat dan Aktivis Kerasulan Awam Gereja
Katolik
#kerasulanawam
#gerejakatolikbersaksi #peaceandconflictresolution #imanyangmembumi
#pastormiliter #ledalerountukindonesia #cintaallahuntukdunia
#gerejadiruangpublik #rekonsiliasidanbudayadamai #romoronnymenginspirasi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin