Di tengah dunia yang kerap terbelah oleh perbedaan, botram menjadi simbol
dari apa yang seharusnya kita perjuangkan: persaudaraan. Ahmad Fatoni, seorang
siswa SMA, mengungkapkan kegembiraannya, “Senang banget makin banyak teman dan
udah ga canggung lagi kalau ketemu.” Kalimat ini, meski sederhana, mengandung
kekuatan transformatif. Ia menunjukkan bahwa perjumpaan lintas iman bukan hanya
mungkin, tetapi juga membahagiakan.
Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya melihat botram ini sebagai
bentuk nyata dari Ajaran Sosial Gereja yang menekankan solidaritas,
subsidiaritas, dan martabat manusia. Gereja Katolik mengajarkan bahwa setiap
manusia adalah citra Allah, dan karena itu, setiap perjumpaan antar manusia
adalah perjumpaan dengan yang ilahi. Ketika anak-anak muda dari berbagai agama
duduk bersama, berbagi makanan, dan tertawa, mereka sedang mewartakan kasih
Allah kepada dunia.
Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, dengan bijak menyebut bahwa botram adalah
tradisi membangun karakter untuk saling mengasihi. “Setiap perayaan keagamaan
pada intinya adalah membangun nilai kemanusiaan,” ujarnya. Pernyataan ini
sejalan dengan semangat Gaudium et Spes, dokumen Konsili Vatikan II
yang menegaskan bahwa sukacita dan harapan umat manusia adalah juga sukacita
dan harapan Gereja.
Botram bukan hanya soal makan bersama. Ia adalah sakramen sosial. Ia
mengajarkan bahwa berbagi bukanlah kehilangan, tetapi perayaan. Bahwa perbedaan
bukanlah ancaman, tetapi kekayaan. Bahwa iman tidak harus eksklusif, tetapi
bisa menjadi jembatan menuju perdamaian.
Dalam konteks kerasulan awam, acara seperti ini harus didukung dan
direplikasi. Kita perlu lebih banyak ruang perjumpaan lintas iman yang tidak
hanya formal, tetapi juga hangat dan manusiawi. Gereja Katolik, melalui komunitas
awamnya, bisa menjadi motor penggerak dialog ini—di sekolah, kampus, kantor,
dan lingkungan.
Botram di Purwakarta adalah bukti bahwa Indonesia masih punya harapan. Bahwa
anak-anak muda kita masih percaya pada kebersamaan. Bahwa di tengah riuhnya
politik identitas, masih ada ruang untuk cinta yang sederhana: makan bersama,
tertawa bersama, hidup bersama.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat
& Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
#kerasulanawam
#gerejauntukpersaudaraan
#botramlintasiman
#ajaransosialgereja
#solidaritasumat
#100persenkatolik100persenindonesia
#cintaallahuntukdunia
#dialoglintasagama
#indonesiarumahkita
#kasihmelampauiperbedaan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin