Jumat, 31 Maret 2017

Botram Lintas Iman; Ketika Makan Bersama Menjadi Sakramen Persaudaraan

PURWAKARTA
- Senin pagi, 27 Maret 2017, Bale Paseban di Purwakarta menjadi saksi dari sebuah peristiwa yang melampaui sekat agama, sekolah, dan identitas. Ribuan siswa lintas iman berkumpul dalam semangat kebersamaan untuk merayakan Hari Raya Nyepi. Mereka tidak datang untuk berdebat, melainkan untuk makan bersama—botram, sebuah tradisi Sunda yang sederhana namun sarat makna.

Di tengah dunia yang kerap terbelah oleh perbedaan, botram menjadi simbol dari apa yang seharusnya kita perjuangkan: persaudaraan. Ahmad Fatoni, seorang siswa SMA, mengungkapkan kegembiraannya, “Senang banget makin banyak teman dan udah ga canggung lagi kalau ketemu.” Kalimat ini, meski sederhana, mengandung kekuatan transformatif. Ia menunjukkan bahwa perjumpaan lintas iman bukan hanya mungkin, tetapi juga membahagiakan.

Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya melihat botram ini sebagai bentuk nyata dari Ajaran Sosial Gereja yang menekankan solidaritas, subsidiaritas, dan martabat manusia. Gereja Katolik mengajarkan bahwa setiap manusia adalah citra Allah, dan karena itu, setiap perjumpaan antar manusia adalah perjumpaan dengan yang ilahi. Ketika anak-anak muda dari berbagai agama duduk bersama, berbagi makanan, dan tertawa, mereka sedang mewartakan kasih Allah kepada dunia.

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, dengan bijak menyebut bahwa botram adalah tradisi membangun karakter untuk saling mengasihi. “Setiap perayaan keagamaan pada intinya adalah membangun nilai kemanusiaan,” ujarnya. Pernyataan ini sejalan dengan semangat Gaudium et Spes, dokumen Konsili Vatikan II yang menegaskan bahwa sukacita dan harapan umat manusia adalah juga sukacita dan harapan Gereja.

Botram bukan hanya soal makan bersama. Ia adalah sakramen sosial. Ia mengajarkan bahwa berbagi bukanlah kehilangan, tetapi perayaan. Bahwa perbedaan bukanlah ancaman, tetapi kekayaan. Bahwa iman tidak harus eksklusif, tetapi bisa menjadi jembatan menuju perdamaian.

Dalam konteks kerasulan awam, acara seperti ini harus didukung dan direplikasi. Kita perlu lebih banyak ruang perjumpaan lintas iman yang tidak hanya formal, tetapi juga hangat dan manusiawi. Gereja Katolik, melalui komunitas awamnya, bisa menjadi motor penggerak dialog ini—di sekolah, kampus, kantor, dan lingkungan.

Botram di Purwakarta adalah bukti bahwa Indonesia masih punya harapan. Bahwa anak-anak muda kita masih percaya pada kebersamaan. Bahwa di tengah riuhnya politik identitas, masih ada ruang untuk cinta yang sederhana: makan bersama, tertawa bersama, hidup bersama.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#kerasulanawam #gerejauntukpersaudaraan #botramlintasiman #ajaransosialgereja #solidaritasumat #100persenkatolik100persenindonesia #cintaallahuntukdunia #dialoglintasagama #indonesiarumahkita #kasihmelampauiperbedaan #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin