Selasa, 18 April 2017

Ledakan di Gereja Jago; Ketika Iman Diuji, Kasih Tetap Menyala

AMBARAWA - 
Kamis Putih, 13 April 2017. Di Gereja Katolik Santo Yusuf—yang akrab disebut Gereja Jago—di Ambarawa, umat tengah bersiap menyambut perayaan sakral mengenang perjamuan terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Namun, suasana khidmat itu mendadak pecah oleh suara ledakan keras dari arah gerbang selatan gereja. Api membumbung, botol pecah berserakan, dan aroma bensin menyengat udara. Sebuah insiden yang mengguncang, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin umat.

Saksi mata, Sutiyo, pemilik toko mebel di seberang gereja, menggambarkan detik-detik mencekam itu. “Suara pertama seperti kembang api… lalu duerrr, keras sekali dan ada api membumbung,” tuturnya. Tak lama kemudian, seorang pria asing melintas, berbicara tak nyambung, dan ditangkap oleh petugas tanpa perlawanan. Polisi menyebut pelaku diduga mengalami gangguan jiwa dan menyatakan bahwa ledakan berasal dari petasan, bukan bom molotov.

Namun, terlepas dari klasifikasi teknis insiden ini, yang lebih penting adalah bagaimana kita meresponsnya. Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa setiap peristiwa yang mengguncang iman harus dijawab bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keberanian dan kasih.

Gereja Jago bukan sekadar bangunan tua yang berdiri megah di Ambarawa. Ia adalah saksi sejarah, tempat umat berkumpul, berdoa, dan menghidupi Injil dalam keseharian. Insiden ini terjadi bukan hanya di halaman gereja, tetapi di ruang batin umat yang sedang mempersiapkan diri menyambut misteri Paskah. Maka, ledakan itu bukan hanya menggetarkan tanah, tetapi juga menggugah kesadaran kita akan pentingnya menjaga ruang-ruang ibadah sebagai tempat damai dan pengharapan.

Dalam ajaran Gereja Katolik, kekerasan tidak pernah menjadi jalan keselamatan. Paus Fransiskus berulang kali menegaskan bahwa kekristenan sejati adalah tentang membalas kebencian dengan kasih, bukan dengan dendam. Maka, ketika Gereja Jago diguncang, umatnya tidak membalas dengan amarah, tetapi dengan doa dan pengampunan.

Kejadian ini juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebebasan beragama bukanlah hadiah, melainkan hak yang harus dijaga bersama. Negara, dalam hal ini aparat keamanan dan pemerintah daerah, telah menunjukkan respons cepat dan tegas. Namun, pekerjaan belum selesai. Kita semua, sebagai warga bangsa dan umat beriman, harus terus membangun budaya toleransi, saling menghormati, dan menjaga ruang publik dari tindakan yang mengancam kerukunan.

Kerasulan awam memiliki peran penting dalam hal ini. Melalui pendidikan, advokasi, dan pelayanan sosial, kita dapat menjadi jembatan antarumat, menghadirkan wajah Gereja yang ramah, terbuka, dan penuh kasih. Kita tidak hanya membangun gereja dari batu dan semen, tetapi juga dari relasi dan solidaritas.

Peristiwa di Gereja Jago adalah luka, tetapi juga peluang. Peluang untuk memperkuat komitmen kita sebagai pewarta kasih di tengah dunia yang mudah terbakar oleh prasangka. Seperti lilin Paskah yang tetap menyala di tengah gelapnya malam, iman kita pun harus tetap bersinar, menjadi terang bagi sesama.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#gerejajagoambarawa #kerasulanawam #gerejakatolikuntukperdamaian #kasihmelampauikekerasan #kebebasanberagama #imanyangtangguh #solidaritaslintasiman #paskahdalamkebersamaan #tolakintoleransi #cintaallahuntukdunia #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin