Saksi mata, Sutiyo, pemilik toko mebel di seberang gereja, menggambarkan
detik-detik mencekam itu. “Suara pertama seperti kembang api… lalu duerrr,
keras sekali dan ada api membumbung,” tuturnya. Tak lama kemudian, seorang pria
asing melintas, berbicara tak nyambung, dan ditangkap oleh petugas tanpa
perlawanan. Polisi menyebut pelaku diduga mengalami gangguan jiwa dan
menyatakan bahwa ledakan berasal dari petasan, bukan bom molotov.
Namun, terlepas dari klasifikasi teknis insiden ini, yang lebih penting
adalah bagaimana kita meresponsnya. Sebagai seorang aktivis kerasulan awam,
saya percaya bahwa setiap peristiwa yang mengguncang iman harus dijawab bukan
dengan ketakutan, tetapi dengan keberanian dan kasih.
Gereja Jago bukan sekadar bangunan tua yang berdiri megah di Ambarawa. Ia
adalah saksi sejarah, tempat umat berkumpul, berdoa, dan menghidupi Injil dalam
keseharian. Insiden ini terjadi bukan hanya di halaman gereja, tetapi di ruang
batin umat yang sedang mempersiapkan diri menyambut misteri Paskah. Maka,
ledakan itu bukan hanya menggetarkan tanah, tetapi juga menggugah kesadaran
kita akan pentingnya menjaga ruang-ruang ibadah sebagai tempat damai dan
pengharapan.
Dalam ajaran Gereja Katolik, kekerasan tidak pernah menjadi jalan
keselamatan. Paus Fransiskus berulang kali menegaskan bahwa kekristenan sejati
adalah tentang membalas kebencian dengan kasih, bukan dengan dendam. Maka,
ketika Gereja Jago diguncang, umatnya tidak membalas dengan amarah, tetapi
dengan doa dan pengampunan.
Kejadian ini juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebebasan beragama
bukanlah hadiah, melainkan hak yang harus dijaga bersama. Negara, dalam hal ini
aparat keamanan dan pemerintah daerah, telah menunjukkan respons cepat dan
tegas. Namun, pekerjaan belum selesai. Kita semua, sebagai warga bangsa dan
umat beriman, harus terus membangun budaya toleransi, saling menghormati, dan
menjaga ruang publik dari tindakan yang mengancam kerukunan.
Kerasulan awam memiliki peran penting dalam hal ini. Melalui pendidikan,
advokasi, dan pelayanan sosial, kita dapat menjadi jembatan antarumat,
menghadirkan wajah Gereja yang ramah, terbuka, dan penuh kasih. Kita tidak
hanya membangun gereja dari batu dan semen, tetapi juga dari relasi dan
solidaritas.
Peristiwa di Gereja Jago adalah luka, tetapi juga peluang. Peluang untuk
memperkuat komitmen kita sebagai pewarta kasih di tengah dunia yang mudah
terbakar oleh prasangka. Seperti lilin Paskah yang tetap menyala di tengah
gelapnya malam, iman kita pun harus tetap bersinar, menjadi terang bagi sesama.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat
& Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
#gerejajagoambarawa
#kerasulanawam
#gerejakatolikuntukperdamaian
#kasihmelampauikekerasan
#kebebasanberagama
#imanyangtangguh
#solidaritaslintasiman
#paskahdalamkebersamaan
#tolakintoleransi
#cintaallahuntukdunia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin