Rabu, 19 Juli 2017

Pater Yohanes Ladju OFM; Jejak Murah Hati Seorang Fransiskan di Jalan Tuhan


KOTA DEPOKRabu dini hari, 19 Juli 2017, di Novisiat Depok, Jawa Barat, seorang imam Fransiskan yang dikenal karena ketulusan dan kerendahan hatinya telah berpulang ke rumah Bapa. RP. Yohanes Ladju OFM—atau yang akrab disapa Pater Yan—meninggalkan dunia dengan warisan spiritual yang tak ternilai: hidup sebagai Fransiskan yang murah hati.

Dalam sebuah refleksi pada pesta St. Fransiskus Asisi, Minggu 4 Oktober 2015, Pater Yan pernah berkata, “Menjadi seorang yang murah hati bagi Fransiskan bukanlah sebuah pilihan, melainkan keharusan.” Kalimat ini bukan sekadar kutipan, tetapi cerminan dari hidupnya yang penuh dedikasi, kesederhanaan, dan pelayanan.

Sebagai seorang rasul awam yang bergerak di bidang sosial dan kemasyarakatan, saya melihat sosok Pater Yan sebagai teladan nyata dari ajaran Injil: “Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat 5:7).

Lahir di Pagal, Manggarai, NTT pada 19 Februari 1948, Pater Yan memulai perjalanan imamatnya dengan penuh kesungguhan. Ia dibaptis di Ruteng, menerima Sakramen Krisma di usia muda, dan memulai formasi Fransiskan sejak tahun 1970. Setelah tahbisan imam pada 9 April 1978 di Bogor, ia melanjutkan studi teologi Fransiskan di New York, USA (1980–1982), memperdalam spiritualitas yang menjadi napas hidupnya.

Seluruh tahapan hidupnya—aspiran, novisiat, profesi sementara dan kekal, tahbisan diakonat dan imam—dilalui dengan kesetiaan dan semangat pelayanan. Ia bukan hanya seorang imam, tetapi juga seorang pembimbing spiritual, pendidik, dan sahabat bagi banyak orang.

Misa penguburan Pater Yan dilaksanakan pada Jumat, 21 Juli 2017 pukul 09.00 WIB di Gereja St. Paulus Depok, dilanjutkan dengan upacara pemakaman di Kalimulia, Kota Depok. Umat dari berbagai penjuru hadir, bukan hanya untuk berduka, tetapi untuk merayakan hidup seorang imam yang telah menjadi tanda kasih Allah di tengah dunia.

Dalam terang ajaran Gereja Katolik, khususnya spiritualitas Fransiskan, kemurahan hati bukanlah sekadar sikap pribadi, tetapi misi hidup. Pater Yan telah menghidupi semangat ini dengan konsisten, menjadikan dirinya sebagai saksi kasih Allah yang nyata.

Sebagai Koordinator Sie Kerawam Paroki St. Paulus Depok, saya percaya bahwa mengenang Pater Yan bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga panggilan untuk melanjutkan jejaknya. Dalam dunia yang kerap keras dan egois, kemurahan hati adalah revolusi sunyi yang menyembuhkan.

Kota Depok, 21 Juli 2017
️ Ditulis oleh Darius Leka,S.H. (Koordinator Sie Kerawam Paroki St. Paulus Depok)

#gerejakatolik #fransiskan #rpyohanesladjuofm #murahhati #spiritualitaskatolik #rasulawam #komsoskatolik #imamyangmelayani #depokberduka #shdariusleka  #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin