"Falsafah Pancasila telah menjadi nakhoda bagi negeri ini untuk mengakui bahwa hanya satu landasan utama bagi persatuan nasional yang menghormati perbedaan apapun yang ada pada masyarakat majemuk Indonesia." — Paus Yohanes Paulus II, Indonesia, 1970
JAKARTA - Sebagai seorang rasul awam yang bergerak di bidang sosial,
hukum, dan kemasyarakatan, saya, Adv. Darius Leka, S.H., terpanggil untuk
menulis kembali kisah yang nyaris terlupakan: hubungan spiritual dan
kemanusiaan antara Presiden Soekarno dan Takhta Suci Vatikan. Ini bukan sekadar
sejarah diplomatik, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana nilai-nilai
Pancasila bersenyawa dengan ajaran kasih Gereja Katolik.
Dalam kurun waktu delapan tahun, Bung Karno melakukan tiga
kunjungan ke Vatikan dan menerima tiga medali kehormatan tertinggi dari tiga Paus
berbeda:
- 13
Juni 1956 dari Paus Pius XII
- 14
Mei 1959 dari Paus Yohanes XXIII
- 12
Oktober 1964 dari Paus Paulus VI
Tak hanya itu, Vatikan bahkan menerbitkan perangko khusus
dan menghadiahkan lukisan mosaik Castel Sant’Angelo sebagai bentuk
penghormatan. Sebuah perlakuan langka, bahkan bagi kepala negara Katolik
sekalipun.
Menurut Romo Mangunwijaya, penghargaan itu bukan basa-basi
politis. Vatikan menghormati Bung Karno karena perjuangannya dalam merumuskan
dan menghidupi Pancasila sebagai dasar negara yang menjunjung tinggi dignitas
humanae—martabat manusia. Pancasila bukan hanya alat pemersatu, tapi juga
jembatan toleransi yang sejalan dengan semangat Injil.
Sebagai umat Katolik, kita diajak untuk melihat bahwa
nilai-nilai Pancasila—Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan
Keadilan Sosial—bukanlah sekadar ideologi politik, melainkan refleksi dari
kasih Allah yang hidup dalam keberagaman.
Gereja Katolik di Indonesia, melalui komunitas-komunitas
awam, terus mewartakan kasih Kristus dalam kerja nyata: mendampingi masyarakat
miskin, memperjuangkan keadilan hukum, dan membangun ekonomi kerakyatan. Semua
ini adalah bentuk pewartaan Injil yang kontekstual—menjadi garam dan terang di
tengah bangsa yang majemuk.
Sebagai rasul awam, saya percaya bahwa mengenang Bung Karno
bukan sekadar nostalgia, melainkan panggilan untuk meneruskan semangatnya:
menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama yang damai, adil, dan penuh
kasih.
✍️ Ditulis oleh sorang aktivis rasul awam Gereja Katolik, Adv. Darius Leka, S H.
#pancasilaadalahkasih #soekarnountukkemanusiaan #katolikuntukindonesia #rasulawambersaksi #persatuandalamperbedaan #vatikanmenghormatisoekarno #pancasilauntukdunia #imandanbangsa #dignitashumanae #cintatanahaircintasesama #shdariusleka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin