Senin, 17 Juli 2017

Bung Karno, Pancasila, dan Penghargaan Vatikan—Jejak Kemanusiaan yang Menyatukan Bangsa


"Falsafah Pancasila telah menjadi nakhoda bagi negeri ini untuk mengakui bahwa hanya satu landasan utama bagi persatuan nasional yang menghormati perbedaan apapun yang ada pada masyarakat majemuk Indonesia." 
— Paus Yohanes Paulus II, Indonesia, 1970

JAKARTA - Sebagai seorang rasul awam yang bergerak di bidang sosial, hukum, dan kemasyarakatan, saya, Adv. Darius Leka, S.H., terpanggil untuk menulis kembali kisah yang nyaris terlupakan: hubungan spiritual dan kemanusiaan antara Presiden Soekarno dan Takhta Suci Vatikan. Ini bukan sekadar sejarah diplomatik, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila bersenyawa dengan ajaran kasih Gereja Katolik.

Dalam kurun waktu delapan tahun, Bung Karno melakukan tiga kunjungan ke Vatikan dan menerima tiga medali kehormatan tertinggi dari tiga Paus berbeda:

  • 13 Juni 1956 dari Paus Pius XII
  • 14 Mei 1959 dari Paus Yohanes XXIII
  • 12 Oktober 1964 dari Paus Paulus VI

Tak hanya itu, Vatikan bahkan menerbitkan perangko khusus dan menghadiahkan lukisan mosaik Castel Sant’Angelo sebagai bentuk penghormatan. Sebuah perlakuan langka, bahkan bagi kepala negara Katolik sekalipun.

Menurut Romo Mangunwijaya, penghargaan itu bukan basa-basi politis. Vatikan menghormati Bung Karno karena perjuangannya dalam merumuskan dan menghidupi Pancasila sebagai dasar negara yang menjunjung tinggi dignitas humanae—martabat manusia. Pancasila bukan hanya alat pemersatu, tapi juga jembatan toleransi yang sejalan dengan semangat Injil.

Sebagai umat Katolik, kita diajak untuk melihat bahwa nilai-nilai Pancasila—Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan Keadilan Sosial—bukanlah sekadar ideologi politik, melainkan refleksi dari kasih Allah yang hidup dalam keberagaman.

Gereja Katolik di Indonesia, melalui komunitas-komunitas awam, terus mewartakan kasih Kristus dalam kerja nyata: mendampingi masyarakat miskin, memperjuangkan keadilan hukum, dan membangun ekonomi kerakyatan. Semua ini adalah bentuk pewartaan Injil yang kontekstual—menjadi garam dan terang di tengah bangsa yang majemuk.

Sebagai rasul awam, saya percaya bahwa mengenang Bung Karno bukan sekadar nostalgia, melainkan panggilan untuk meneruskan semangatnya: menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama yang damai, adil, dan penuh kasih.

️ Ditulis oleh sorang aktivis rasul awam Gereja Katolik, Adv. Darius Leka, S H.


#pancasilaadalahkasih #soekarnountukkemanusiaan #katolikuntukindonesia #rasulawambersaksi #persatuandalamperbedaan #vatikanmenghormatisoekarno #pancasilauntukdunia #imandanbangsa #dignitashumanae #cintatanahaircintasesama #shdariusleka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin