“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”— Santo Paulus (Filipi 1:21)
KOTA DEPOK – Gereja Katolik Santo Paulus Depok telah menapaki usia ke-57
tahun. Bukan usia yang muda, namun bukan pula sekadar angka yang patut
dirayakan. Lebih dari itu, usia ini menjadi refleksi akan kedalaman iman umat
yang terus bertumbuh dalam mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Sebab,
seperti halnya Saulus yang bertobat dan menjadi Paulus, kita semua dipanggil
untuk mengalami “the magic of the moment”—keajaiban kasih Allah yang mengubah
hidup.
Dalam Misa Pesta Nama Paroki pada 16 Juli 2017, RP.
Alferinus Gregorius Pontus, OFM, menyampaikan homili yang menggugah. Diiringi
lagu “Wind of Change” dari Scorpions, Pater Goris mengajak umat meneladani
transformasi radikal Saulus menjadi Paulus. Dari seorang penganiaya menjadi
pewarta Injil yang tak kenal lelah, bahkan dari balik jeruji penjara.
Paulus tidak menunggu kondisi ideal untuk berkarya. Ia
sadar, setiap helaan nafas adalah kesempatan untuk mewartakan Injil. Sebuah
semangat yang seharusnya menjadi napas hidup kita sebagai umat Katolik,
terlebih sebagai rasul awam yang terpanggil di tengah dunia.
Perayaan ulang tahun ke-57 ini bukan sekadar seremoni. Sejak
Mei 2017, berbagai kegiatan telah digelar: dari pertandingan olahraga, lomba
mazmur, talkshow, hingga aksi sosial seperti donor darah dan program “Ayo
Sekolah” bagi anak-anak kurang mampu. Semua ini adalah bentuk nyata pewartaan
kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Puncaknya adalah pemancangan tiang Gedung Serbaguna Santo
Paulus II—sebuah simbol harapan dan komitmen untuk terus melayani. “Itulah the
magic of the moment,” ujar Pater Goris. Sebuah momentum ilahi yang menggerakkan
hati untuk berbagi, melayani, dan mencintai.
Mengusung tema “Berhabitus Ekologis dan Beriman (Bersih,
Indah dan Nyaman)”, pesta nama paroki ini selaras dengan semangat Aksi Puasa
Pembangunan (APP) Keuskupan Bogor 2017. Gereja tidak hanya berbicara tentang
surga, tetapi juga tentang bumi yang kita tinggali bersama. Menjaga lingkungan
adalah bagian dari iman. Sebab bumi adalah rumah bersama, dan merawatnya adalah
bentuk kasih kepada sesama dan Sang Pencipta.
Dalam sambutannya, Yosep Lele Putra (Olis), Ketua Panitia,
menyampaikan tiga hal sederhana namun mendalam: terima kasih, permohonan maaf,
dan kembali terima kasih. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang
telah bekerja keras—dari DPP, DKP, WKRI, para ketua wilayah, hingga Orang Muda
Katolik (OMK) yang penuh semangat.
Sebagai Koordinator Kerasulan Awam, saya percaya bahwa
setiap umat dipanggil menjadi “Paulus” di zamannya. Kita mungkin tidak
berkotbah di Asia Kecil, tetapi kita bisa bersaksi di kantor, pasar,
pengadilan, sekolah, dan media sosial. Kita bisa menjadi suara bagi yang tak
bersuara, terang di tengah gelapnya ketidakadilan, dan garam yang memberi rasa
dalam kehidupan bermasyarakat.
Mari kita terus menyalakan semangat pewartaan, bukan hanya
dengan kata, tetapi dengan tindakan nyata. Karena di setiap langkah kasih, di
sanalah “the magic of the moment” terjadi—keajaiban kecil yang mengubah dunia.
Selamat Ulang Tahun ke-57, Gereja Katolik Santo Paulus
Depok. Teruslah menjadi pelita kasih di tengah dunia.
✍ Ditulis oleh: Adv. Darius Leka, S.H. (Koordinator Kerasulan
Awam Paroki Santo Paulus Depok)
#57TahunSantoPaulusDepok #TheMagicOfTheMoment
#HidupAdalahKristus #RasulAwamBerkarya #BerhabitusEkologis
#GerejaHidupBagiDunia #OMKBerkarya #KasihUntukSesama #GerejaKatolikAktif #PaulusZamanNow
#shdariusleka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin