KOTA DEPOK - Pernahkah Anda masuk ke dalam gereja Katolik dan memperhatikan tiga anak tangga menuju tempat kudus—tempat altar berdiri megah, tempat imam mempersembahkan Ekaristi Kudus? Bagi sebagian orang, anak tangga itu mungkin hanya bagian dari arsitektur. Namun bagi Gereja Katolik, tidak ada yang kebetulan. Setiap unsur liturgi dan tata ruang memiliki makna mendalam, berakar pada Tradisi Suci, Alkitab, dan Magisterium Gereja.
Tiga anak tangga menuju altar melambangkan tiga kebajikan
teologal: Iman (fides), Harapan (spes), dan Kasih (caritas). Ketiganya
disebutkan dalam 1 Korintus 13:13:
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan
yang paling besar di antaranya ialah kasih.”
Ketika imam menaiki tangga itu menuju altar, ia tidak hanya
bergerak secara fisik, tetapi secara rohani sedang menapaki jalan menuju
perjumpaan dengan Allah. Demikian pula umat yang hadir, diajak untuk
mengarahkan hati dan hidupnya kepada Tuhan melalui tiga kebajikan ini.
Dalam dokumen General Instruction of the Roman Missal
(GIRM), tata ruang liturgi dirancang untuk mengarahkan umat kepada misteri
iman. Altar adalah pusat perayaan Ekaristi, tempat Kristus hadir secara nyata.
Maka, tangga menuju altar bukan sekadar akses, melainkan simbol pemurnian dan pendakian
rohani.
Tradisi ini juga tercermin dalam arsitektur gereja-gereja
kuno di Roma dan Timur Tengah, di mana altar selalu ditinggikan, melambangkan
gunung tempat Musa bertemu Allah (Kel 19:20) dan Yesus dimuliakan (Mat 17:1-2).
Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya melihat tiga
anak tangga ini sebagai panggilan hidup. Dalam dunia yang penuh tantangan
sosial, ekonomi, dan hukum, umat awam dipanggil untuk menapaki tangga iman,
harapan, dan kasih dalam kehidupan sehari-hari:
- Iman: Menjadi dasar dalam membela kebenaran dan keadilan,
terutama bagi yang tertindas.
- Harapan: Menjadi kekuatan dalam menghadapi ketidakpastian
hidup dan penderitaan masyarakat.
- Kasih: Menjadi motivasi utama dalam pelayanan sosial,
pendampingan hukum, dan solidaritas kemanusiaan.
Di berbagai keuskupan, komunitas kerasulan awam telah
menjadi “anak tangga” bagi sesama untuk naik menuju kehidupan yang lebih
bermartabat:
- Forum
Hukum Katolik: Memberikan bantuan hukum
gratis bagi masyarakat miskin.
- Koperasi
Paroki: Mendorong kemandirian ekonomi
umat melalui usaha mikro.
- Komunitas
Karitatif: Menyediakan makanan,
pendidikan, dan kasih bagi kaum marginal.
- Forum
Dialog Lintas Iman:
Menjadi jembatan damai di tengah keberagaman.
Semua ini adalah bentuk nyata dari kerasulan awam yang
menjadikan hidup sebagai liturgi dan dunia sebagai altar.
Tiga anak tangga menuju tempat kudus adalah undangan untuk
naik—bukan hanya secara fisik, tetapi secara rohani dan sosial. Gereja
memanggil kita untuk menjadi pribadi yang hidup dalam iman, harapan, dan kasih.
Dan dunia menanti kesaksian kita.
Oleh; Darius Leka, S.H., M.H. —Advokat dan Aktivis Kerasulan Awam Katolik
#gerejakatolik #kerasulanawam
#imanharapankasih #tataruangliturgi #tradisisuci #magisterium #ekaristi
#tempatkudus #katolikaktif #cintakasihallah #maknaaltar #simbolliturgi #shdariusleka #parokisantopaulusdepok #reels #foryou #fyp
#jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin