Jumat, 01 Februari 2013

Dari Lingkungan ke Wilayah; Membangun Komunitas Umat Basis sebagai Wajah Gereja yang Hidup



KOTA DEPOK - Minggu pagi, 27 Januari 2013, menjadi momen bersejarah bagi Gereja Katolik St. Paulus-Depok. Di hadapan lebih dari 800 umat yang memadati gereja, sebuah transformasi struktural dan pastoral resmi diumumkan: istilah “lingkungan” yang telah lama akrab di telinga umat kini berganti menjadi “wilayah.” Perubahan ini bukan sekadar kosmetik, melainkan bagian dari upaya serius untuk membumikan visi Gereja yang lebih partisipatif dan berakar dalam komunitas.

Dalam homilinya, Pastor Paroki RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM, menegaskan bahwa pembentukan Komunitas Umat Basis (KUB) adalah implementasi dari misi Keuskupan Bogor yang telah dicanangkan sejak Sinode 2002. Misi ini mengajak umat untuk membentuk komunitas-komunitas kecil yang berpusat pada Yesus Kristus, mendengarkan Sabda, dan hidup dalam solidaritas dengan sesama.

Namun, seperti diakui Pastor Tauchen, pelaksanaan misi ini di Paroki St. Paulus-Depok mengalami banyak tantangan. “Sebenarnya ini bukan program baru, tapi kita sangat terlambat menerapkannya,” ujarnya. Setelah berbagai upaya dan evaluasi sejak Januari 2012, akhirnya struktur KUB berhasil terbentuk menjelang akhir tahun.

Kini, paroki memiliki 18 wilayah, termasuk pemekaran dari wilayah St. Ignatius Loyola menjadi wilayah St. Stefanus. Total terdapat 44 KUB, meskipun wilayah St. Norbertus masih dalam proses pembentukan.

Salah satu hambatan utama dalam proses ini adalah miskomunikasi. Pastor Tauchen menyoroti adanya resistensi dari sebagian kecil pengurus yang belum memahami bahwa perubahan ini adalah bagian dari visi-misi keuskupan dan paroki. “Perbedaan pandangan soal pembentukan KUB sebenarnya hanya soal mindset. Kita hanya ubah istilah, bukan isi,” tegasnya.

Ia menyesalkan bahwa informasi yang disampaikan dari paroki tidak selalu diteruskan secara utuh kepada umat. Akibatnya, muncul kesan bahwa program ini adalah inisiatif baru yang memecah belah, padahal justru sebaliknya: KUB adalah sarana untuk mempererat dan memperdalam kehidupan iman umat.

Pastor Tauchen menekankan pentingnya sinergi antara paroki, wilayah, dan KUB. “Paroki adalah pusat kesatuan. Wilayah adalah kaki yang menopangnya, dan KUB adalah jari-jarinya,” ujarnya. Ia mengajak seluruh pengurus untuk tidak bekerja sendiri, tetapi membangun kerja sama tim yang solid.

Dengan struktur yang lengkap dan sistem komunikasi yang lancar, setiap informasi dan kegiatan paroki dapat tersampaikan dengan efektif hingga ke tingkat basis. Ini akan menciptakan sinergi yang memperkuat pelayanan pastoral dan mempererat persaudaraan umat.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat transformasi ini sebagai langkah strategis untuk membangun Gereja yang lebih partisipatif dan kontekstual. KUB bukan sekadar unit administratif, tetapi wajah Gereja yang hidup di tengah umat. Di sanalah iman dipelihara, solidaritas dibangun, dan kasih diwujudkan.

Perubahan dari lingkungan ke wilayah dan pembentukan KUB adalah panggilan untuk keluar dari zona nyaman dan membangun komunitas yang sungguh-sungguh menjadi tempat perjumpaan dengan Kristus dan sesama.

 

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

#komunitasumatbasis #KUB #stpaulusdepok #kerasulanawam #gerejahidup #imandalamtindakan #sinodekeuskupanbogor #transformasipelayanan #cintaallahuntukdunia #wilayahdankub #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

1 komentar:

  1. Terkait dengan artikel diatas khususnya masalah KUB, setelah mendengarkan materi dan penjelasan Rm. Dri tentang Pemerintahan Gereja Katolik pada pembekalan pengurus yang diberikan tgl 16 mar 2013, KUB masih akan diteruskan??

    BalasHapus

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin