![]() |
Dalam homilinya, Pastor Paroki RP. Tauchen Hotlan Girsang,
OFM, menegaskan bahwa pembentukan Komunitas Umat Basis (KUB) adalah
implementasi dari misi Keuskupan Bogor yang telah dicanangkan sejak Sinode
2002. Misi ini mengajak umat untuk membentuk komunitas-komunitas kecil yang
berpusat pada Yesus Kristus, mendengarkan Sabda, dan hidup dalam solidaritas
dengan sesama.
Namun, seperti diakui Pastor Tauchen, pelaksanaan misi ini
di Paroki St. Paulus-Depok mengalami banyak tantangan. “Sebenarnya ini bukan
program baru, tapi kita sangat terlambat menerapkannya,” ujarnya. Setelah
berbagai upaya dan evaluasi sejak Januari 2012, akhirnya struktur KUB berhasil
terbentuk menjelang akhir tahun.
Kini, paroki memiliki 18 wilayah, termasuk pemekaran dari
wilayah St. Ignatius Loyola menjadi wilayah St. Stefanus. Total terdapat 44
KUB, meskipun wilayah St. Norbertus masih dalam proses pembentukan.
Salah satu hambatan utama dalam proses ini adalah
miskomunikasi. Pastor Tauchen menyoroti adanya resistensi dari sebagian kecil
pengurus yang belum memahami bahwa perubahan ini adalah bagian dari visi-misi
keuskupan dan paroki. “Perbedaan pandangan soal pembentukan KUB sebenarnya
hanya soal mindset. Kita hanya ubah istilah, bukan isi,” tegasnya.
Ia menyesalkan bahwa informasi yang disampaikan dari paroki
tidak selalu diteruskan secara utuh kepada umat. Akibatnya, muncul kesan bahwa
program ini adalah inisiatif baru yang memecah belah, padahal justru
sebaliknya: KUB adalah sarana untuk mempererat dan memperdalam kehidupan iman
umat.
Pastor Tauchen menekankan pentingnya sinergi antara paroki,
wilayah, dan KUB. “Paroki adalah pusat kesatuan. Wilayah adalah kaki yang
menopangnya, dan KUB adalah jari-jarinya,” ujarnya. Ia mengajak seluruh
pengurus untuk tidak bekerja sendiri, tetapi membangun kerja sama tim yang solid.
Dengan struktur yang lengkap dan sistem komunikasi yang
lancar, setiap informasi dan kegiatan paroki dapat tersampaikan dengan efektif
hingga ke tingkat basis. Ini akan menciptakan sinergi yang memperkuat pelayanan
pastoral dan mempererat persaudaraan umat.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat transformasi
ini sebagai langkah strategis untuk membangun Gereja yang lebih partisipatif
dan kontekstual. KUB bukan sekadar unit administratif, tetapi wajah Gereja yang
hidup di tengah umat. Di sanalah iman dipelihara, solidaritas dibangun, dan
kasih diwujudkan.
Perubahan dari lingkungan ke wilayah dan pembentukan KUB
adalah panggilan untuk keluar dari zona nyaman dan membangun komunitas yang sungguh-sungguh
menjadi tempat perjumpaan dengan Kristus dan sesama.
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
#komunitasumatbasis #KUB #stpaulusdepok #kerasulanawam #gerejahidup #imandalamtindakan #sinodekeuskupanbogor #transformasipelayanan #cintaallahuntukdunia #wilayahdankub #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Terkait dengan artikel diatas khususnya masalah KUB, setelah mendengarkan materi dan penjelasan Rm. Dri tentang Pemerintahan Gereja Katolik pada pembekalan pengurus yang diberikan tgl 16 mar 2013, KUB masih akan diteruskan??
BalasHapus