VATIKAN —Dengan lebih dari 1,4 miliar umat di seluruh dunia, Gereja Katolik bukan hanya komunitas religius terbesar di muka bumi, tetapi juga kekuatan moral dan sosial yang membentuk wajah kemanusiaan global. Namun, kekuatan Gereja tidak terletak pada jumlah semata, melainkan pada daya hidup iman yang menjelma dalam tindakan nyata—terutama melalui kerasulan awam.
Konsili Vatikan II, melalui dokumen Apostolicam
Actuositatem, menegaskan bahwa kaum awam memiliki peran khas dalam misi
Gereja: menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Mereka bukan pelengkap,
melainkan pelaku utama dalam mewartakan Injil melalui profesi, keluarga, dan
keterlibatan sosial.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
menyaksikan bagaimana iman Katolik tidak berhenti di altar, tetapi hidup dalam
ruang sidang, pasar, jalanan, dan ruang-ruang publik. Keadilan, solidaritas,
dan cinta kasih bukan sekadar wacana, melainkan panggilan konkret.
Dalam dunia yang terus berubah, kerasulan awam tidak boleh
kehilangan arah. Di sinilah pentingnya berakar pada Kitab Suci, Tradisi
Suci, dan Magisterium Gereja. Ajaran para Paus, seperti Paus
Fransiskus dalam Fratelli Tutti, menekankan pentingnya persaudaraan
universal dan solidaritas sosial sebagai bentuk nyata dari iman yang hidup.
Kita diingatkan bahwa setiap tindakan sosial harus berakar
pada kasih Kristus. Seperti tertulis dalam 1 Yohanes 3:18, “Anak-anakku,
marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan
perbuatan dan dalam kebenaran.”
Di berbagai penjuru Indonesia, komunitas-komunitas kerasulan
awam telah menjadi saksi kasih Allah:
- Forum
Hukum Katolik: Memberikan bantuan hukum
gratis bagi masyarakat miskin dan korban ketidakadilan.
- Koperasi
Umat Paroki: Mendorong kemandirian ekonomi
melalui usaha mikro dan pelatihan kewirausahaan.
- Komunitas
Sahabat Jalanan: Menyapa dan melayani kaum
miskin kota, anak jalanan, dan lansia terlantar.
- Forum
Dialog Lintas Iman:
Membangun jembatan damai di tengah keberagaman agama dan budaya.
Semua ini adalah bentuk nyata dari diakonia—pelayanan
kasih yang menjadi jantung misi Gereja.
Paus Leo XIV, dalam berbagai kesempatan, menegaskan
pentingnya sinodalitas: berjalan bersama sebagai umat Allah. Dalam konteks ini,
kerasulan awam bukan sekadar pelengkap, tetapi mitra sejajar dalam membangun
Gereja yang mendengarkan, berdialog, dan bertindak.
Tantangan kerasulan awam tidak kecil: sekularisme,
individualisme, dan ketimpangan sosial menjadi medan tempur baru. Namun, justru
di tengah kegelapan, terang Kristus harus bersinar. Gereja dipanggil untuk
menjadi rumah yang terbuka, dan umat awam adalah lentera yang menerangi jalan.
Gereja Katolik, dengan 1,4 miliar umatnya, memiliki potensi
luar biasa untuk menjadi agen transformasi dunia. Namun, potensi itu hanya akan
nyata jika setiap umat awam menjawab panggilan untuk menjadi saksi kasih
Allah—dalam profesi, keluarga, dan masyarakat.
Mari kita tidak hanya menjadi umat yang hadir di bangku
gereja, tetapi menjadi Gereja yang hadir di tengah dunia.
Oleh; Darius Leka, S.H., M.H. — Advokat dan Aktivis Kerasulan Awam Katolik
#gerejakatolik #kerasulanawam
#1.4miliarumat #evangelisasisosial #cintakasihallah #katolikaktif #tradisisuci
#magisterium #gerejayanghidup #misigereja #fratellitutti #evangeliigaudium #shdariusleka #parokisantopaulusdepok
#reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin