MEDAN, 31 Desember 2025 — Di tengah perayaan Ekaristi di Gereja Santo Antonius dari Padua, Jalan Hayam Wuruk, Medan, sebuah peristiwa yang tak terduga terjadi. Saat umat masih berbaris untuk menerima Komuni Kudus, Pastor Paulinus Simbolon menyadari bahwa hosti telah habis. Namun, dalam situasi yang secara manusiawi tampak mustahil, piala hosti yang sebelumnya kosong tiba-tiba kembali berisi. Sebuah mukjizat? Sebuah tanda? Atau panggilan bagi kita semua?
Menurut laporan media lokal, Pastor Paulinus sempat meminta
prodiakon untuk mengambil hosti tambahan, namun stok di susteran pun telah
habis. Dalam kegelisahan dan doa, ia kembali ke altar—dan mendapati piala hosti
yang sebelumnya kosong kini kembali terisi. Umat yang hadir menyambut peristiwa
ini dengan air mata dan pujian syukur.
Pastor Moses Elias Situmorang, OFM Cap, Pastor Paroki Santo
Antonius, kemudian memberikan klarifikasi bahwa peristiwa ini harus dilihat
dalam terang iman, bukan sensasi. Gereja Katolik selalu berhati-hati dalam
menyatakan mukjizat, dan proses verifikasi kanonik akan dilakukan jika
diperlukan.
Dalam sejarah Gereja, mukjizat Ekaristi bukanlah hal baru.
Dari Lanciano di Italia (abad ke-8) hingga Buenos Aires (1996), Gereja mencatat
peristiwa-peristiwa luar biasa yang memperkuat iman umat akan kehadiran nyata
Kristus dalam Ekaristi. Namun, Gereja juga menegaskan bahwa iman tidak boleh
bergantung pada mukjizat, melainkan pada sabda dan sakramen.
Seperti tertulis dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK
1336): “Ekaristi adalah misteri iman yang melampaui pengertian kita dan
hanya dapat diterima dalam iman.”
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat peristiwa ini
bukan hanya sebagai tanda ilahi, tetapi juga sebagai panggilan. Di tengah dunia
yang sering kali skeptis dan materialistis, Allah menunjukkan bahwa Ia hadir,
hidup, dan menyertai umat-Nya. Namun, mukjizat sejati bukan hanya yang
spektakuler, melainkan kasih yang diwujudkan setiap hari oleh umat awam:
- Dalam
pengacara yang membela kaum miskin tanpa bayaran.
- Dalam
guru yang mengajar dengan cinta dan integritas.
- Dalam
pengusaha yang menjalankan bisnis dengan keadilan dan belas kasih.
- Dalam
relawan yang mengunjungi penjara, rumah sakit, dan jalanan.
Inilah kerasulan awam: menjadikan hidup sebagai liturgi,
dunia sebagai altar, dan kasih sebagai sakramen.
Mukjizat di Medan adalah pengingat bahwa Ekaristi bukan
hanya ritus, tetapi sumber dan puncak kehidupan Kristiani (KGK 1324). Dari
altar, kita diutus ke dunia untuk menjadi saksi. Maka, setiap umat awam
dipanggil untuk menjadi “hosti hidup”—yang rela dipecah dan dibagikan demi
kasih.
Apakah peristiwa di Medan mukjizat? Biarlah Gereja menilai.
Namun bagi kita, ini adalah undangan untuk memperdalam iman, memperkuat
pelayanan, dan memperluas kasih. Karena mukjizat terbesar adalah hati yang
terbuka untuk diubah oleh Kristus.
Oleh; Darius Leka, S.H., M.H. — Advokat dan Aktivis Kerasulan Awam Katolik
#mukjizatkomuni #hostikudus
#gerejakatolik #kerasulanawam #ekaristi #imankatolik #tradisisuci #magisterium
#cintakasihallah #katolikaktif #medanberdoa #santoantoniuspadua #shdariusleka #parokisantopaulusdepok #reels #foryou #fyp
#jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin